Manifesto Gerakan Intelektual Profetik

Judul Buku: Manifesto Gerakan Intelektual Profetik
Penulis: M. Abdul Halim Sani (Alumni IMM Komsat Ushuluddin UIN Su-Ka, mantan Sekbid Kader DPP IMM periode 2008-2010)
Penerbit: Samudra Biru
Tebal: xxx + 235 halaman
Cetakan pertama: Maret 2011



Sebagai hadiah, malaikat menanyakan apakah aku ingin berjalan di atas mega dan aku menolak, karena kaki ku masih di bumi, sampai kejahatan terakhir dimusnahkan, sampai dhu’afa dan mustadh’afin diangkat Tuhan dari penderitaan. (Kuntowijoyo, Makrifat Daun Daun Makrifat)

Intelektual profetik merupakan frase yang masih asing dalam pendengaran kita. Terdiri dai dua kata, intelektual yang berarti totalitas pengertian atau kesadaran, terutama yg menyangkut pemikiran dan pemahaman dan profetik yang berarti bersifat kenabian. Maksud dari konsep ini adalah bagaimana nilai-nilai kenabian bisa jadi landasan bagi pemikiran dan perilaku seorang intelektual. Seorang nabi tatkala telah mendapatkan kedudukan tertinggi di sisi Tuhan tidak lantas naik ke langit dan meninggalkan realitas. Tapi dia turun kembalike bumi untuk melakukan perubahan atau transformasi sosial bagi masyarakatnya. Hal ini lah yang terjadi saat peristiwa mi’rajnya Nabi Muhammad saw. ke sidratul muntaha. Bercermin dari hal tersebut, konsep intelektual profetik pun bermaksud mengubah citra intelektual yang dengan intelektualitasnya hanya diam di menara gading, menjadi terjun langsung dan terlibat dalam transformasi sosial di masyarakatnya.

Buku ini berupaya menguraikan konsep-konsep intelektual profetik secara komprehensif dan sistematis. Walau secara eksplisit ditujukan untuk kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, namun tetap relevan dibaca bagi peminat ilmu-ilmu sosial pada umumnya. Disajikan dengan lugas, sederhana dan dilengkapi dengan bagan-bagan yang memudahkan menjadi nilai tersendiri bagi buku ini. Tentu si penulis berusaha agar buku ini dapat dibaca banyak kalangan dengan meminimalisir kata-kata ilmiah. Namun tetap bagi yang kurang terbiasa dengan kata-kata ilmiah ilmu sosial sepertinya akan membutuhkan kamus saat membaca buku ini. Terlepas dari itu, buku ini tetap layak dijadikan bahan bacaan dan referensi.

Buku ini tersusun dalam 11 bagian ditambah prolog dan epilog. Prolog ditulis oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan guu besar sosiologi agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan epilog ditulis oleh Zakiyuddin Baidhawi aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah. Bagian ke-1 buku ini menguraikan tentang makna, hakikat, peran dan tujuan manusia menurut ikatan. Bagian ke-2 menguraikan tentang interpretasi simbol-simbol dan ideologi ikatan. Bagian ke-3 menguraikan tentang profil kader ideal ikatan berdasarkan wacana profetik. Bagian ke-4 menguraikan tentang fenomena globalisasi dan multikulturalisme yang menjadi realitas hari ini. Bagian ke-5 menguraikan tentang pergerakan Muhammadiyah sebagai cerminan pergerakan ikatan. Bagian ke-6 menguraikan jenis-jenis kesadaran, kesadaran magis, naif, kritis dan profetik. Bagian ke-7 menguraikan tentang indikator dan metodologi mencapai intelektual profetik. Bagian ke-8 menguraikan tentang mewujudkan kebudayaan ilmu dalam ikatan. Bagian ke-9 menguraikan tentang varian-varian teori sosial. Bagian ke-10 menguraikan tentang manifestasi sosiologi gerakan dalam praksis kemanusiaan. Bagian ke-11 menguraikan tentang transformasi profetik mewujudkan khairu ummah.

Dalam buku ini, penulis yang juga seorang aktivis banyak mengambil referensi dari ilmuwan-ilmuwan sosial berhaluan barat dan ilmuwan-ilmuwan sosial tenama asal Indonesia. Pemikiran-pemikiran Emile Durkheim, Max Weber, Karl Marx, Kuntowijoyo dan ilmuwan lainnya akan dengan mudah kita temukan dalam uraian penulis. Hal ini dikarenakan memang pemikiran merekalah yang mewarnai wacana-wacana ilmu sosial dewasa ini. Tentu ilmuwan sosial Islam pun seperti Ibnu Khaldun juga menjadi referensi penulis.

Tentu landasan teologis normatif yaitu Al Quran senantiasa dijadikan penulis sebagai pijakan dan konsep kunci bagi analisis-analisis penulis sehingga buku ini tetap tidak kering dari nuansa keagamaan. Bisa diibaratkan ayat-ayat sebagai bahan baku, dan dibedah dengan pisau analisis teori-teori sosial. Hal ini sejalan dengan keinginan penulis yakni ilmuisasi Islam, bukan Islamisasi ilmu.

Diposkan dalam Tak Berkategori. Markahi permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: