3M UNTUK IMM


Dalam perjalanan lebih di usia setengah abadnya, IMM mengalami dinamika organisasi luarbiasa yang menuntut perkembangan dalam pergerakannya. Situasi kondisi yang dihadapi bangsa ini semakin menyeruak di segala bidang, baik politik, ekonomi, sosial, dan yang lainnya memaksa IMM untuk melangkah lebih progresif dalam menentukan langkahnya.
Menjadi pertanyaan besar kita saat ini, sudah sejauh mana capaian IMM untuk terlibat langsung bersama umat mengalasi problematika yang terjadi?
10475675_306791556164625_2779592325942862675_n
Dalam tulisan sederhana Ayahanda Din dalam bukunya Muhammadiyah Untuk Semua, saya belajar pada beliau akan pentingnya “3 M” (dalam istilah saya), untuk menjadikan organisasi ini semakin dinamis dan siap untuk menghadapi kemajuan zaman. Ketiga hal ini bukan melemparkan IMM ke masa lalu yang harus kita tengok karena pada hakikatnya masa lalu takkan kembali lagi (Lan tarji’a al ayyam al-laty madhat).

Pertama, hendaknya IMM ber- muhasabah (introspeksi) dengan apa yang dilakukan saat ini; sudahkah sesuai dengan amanat yang disampaikan para pendahulu dan musyawarah tertinggi dalam menentukan arah dan geraknya IMM atau belum? Hal yang harus kita khawatirkan, bila nyatanya IMM saat ini belum sesuai dengan harapan kita atau -bahkan- kepribadian dan jati dirinya jauh dari apa yang telah dirumuskan. Analisis sederhana saya, yang mudah-mudahan tidak benar2 terjadi, hal tersebut bisa disebabkan karena kader IMM tidak mengenal hakikat IMM yang diperjuangkannya, ruh IMM hilang karena berbagai kepentingan, kader IMM masih belum cakap menterjemahkan apa yang dirumuskannya, dan mungkin masih banyak faktor lainnya.

Kedua, IMM hendaknya melakukan muraqabah (retropeksi). Retropeksi berarti pandang balik, artinya sejauh ini IMM harus bisa mengukur capaian apa yang sudah dilakukannya. Lebih-lebih secara kualitatif dan kuantitatif IMM harus bisa menjelaskan, sebagai pertanggung jawaban kepada umat. Sebelum melangkah lebih jauh, kita ambil contoh sejauh mana kita bisa menjelaskan capaian amanat Muktamar Solo 2014 sudah laksanakan dan internalisasikan dalam kehidupan ber-IMM atau belum; IMM mengikrarkan dirinya :

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah, yang merupakan wadah perjuangan untuk menghimpun, menggerakkan dan membina potensi mahasiswa Islam guna meningkatkan peran dan tanggung jawabnya sebagai kader persyarikatan, kader umat dan kader bangsa, sehingga tumbuh kader-kader yang memiliki kerangka berpikir ilmu amaliyah dan kader amal ilmiah sesuai dengan Kepribadian Muhammadiyah, Kesemuanya itu dilaksanakan secara bersama dengan menjunjung tinggi musyawarah atas dasar iman dan taqwa serta hanya mengharap ridha Allah SWT.


Ketiga, hendaknya IMM melakukan muwajahah (proyeksi), artinya IMM harus dapat memproyeksikan dirinya ke masa depan dengan melakukan langkah strategis sesuai dengan cita-cita dan harapan IMM ke depan. Dengan proses perumusannya, IMM harus visioner dan bisa membaca arus zaman ke depan agar langkah yang dilakukan menjadi langkah progresif dan menghasilkan kemanfaatan luarbiasa untuk ummat.

Melalui tiga pendekatan ini : Muhasabah, muraqabah, dan muwajahah,kita mengurai capaian, permasalahan, dan peluang yang menantang di hadapan, kemudian memantapkannya sebagai gerakan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa.”, Mantap Ayahanda Din. Saya sangat meyakini, jika kader IMM dapat melakukan ketiga hal ini, IMM dapat memiliki arahan langkah dan capaian yang jelas untuk bisa lebih baik.
Lady Farhana
Ketua Umum PC IMM Djazman Al-Kindi Kota Yogyakarta

Diposkan dalam Tak Berkategori. Markahi permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: