Gerakan Social-Politic Mahasiswa Merah Marun Terhadap Perubahan Bangsa


Oleh: Heru Astar
Anggota Bidang Eksternal KORKOM IMM UAD
Lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai gerakan mahasiswa  tidak terlepas dari adanya oriantasi politis, dan suatu saat gerakan ini pasti berhadapan langsung terhadap klausula hukum yang dibuat oleh badan berwenang yang tidak bertanggung jawab yang akan merubah tatanan social-politik bangsa,  maka daripada itu para founding father membentuk sebuah rel atau jalur perjalan gerakan mahasiswa ini, sebagaimana yang sudah wajib diketahui oleh para kader-kader merah marun adanya trilogy dan trikompetensi, dengan adanya trilogy dan trikompetensi tersebut sebagai alur dan juga pembeda dengan gerakan-gerakan mahasiswa lainnya,
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang sudah berumur 53 tahun yang mana telah mencapai lebih dari setengah abad seharusnya sudah bisa menjadi gerakan mahasiswa sebagai penopang terhadap keadaan social-politic bangsa yang bergejolak seperti saat sekarang ini, gerakan kaum merah marun yang prioritasnya terhadapap keilmuan, kemasyarakatan dan agama menjadi garis yang sangat progresif untuk menjadi pergerakan mahasiswa, tidak hanya sebagai mahasiswa yang terjebak dalam dunia kampus melainkan harus adanya sikap kepedulian terhadap masyarakat-masyarakat kecil yang harus diperhatikan dan menjunjung tinggi jiwa yang relegius karna kaum merah marun lahir dari rahim muhammadiyah.
Dalam perjalanan usia yang sudah menginjak dewasa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai gerakan mahasiswa sudah seharusnya berperan terhadap perubahan social-politic bangsa, para kaum merah marun harus melakukan kontribusi nyata akan usaha untuk membuat suatu perubahan bangsa yang besar bukan hanya sebagai gerakan yang selalu berdialektika tapi tanpa adanya partisipasi yang massif.
Dalam perjalan yang panjang apakah pergerakan mahasiswa para kaum merah sudah melakukan kontribusi nyata sebagaimana gerakan-gerakan mahasiswa lainnya, apakah pergerakan sudah berhasil menjadi penopang dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, tentu itu seharusnya menjadi pertanyaan mendasar para kader-kader ikatan kaum merah marun.
Banyak hal yang telah terjadi setelah beberapa tahun terakhir sejak terpilihnya pemimpin yang baru bangsa ini, terutama di bidang social-politic yang sangat bergejolak beberapa tahun belakangan, seperti maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dari beberapa para pejabat Negara dan bahkan para pigur atau tokoh yang memang sangat di bangga oleh masyarakat bangsa ini, dan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh salah satu pemimpin daerah di negeri ini, yang latarbelakangnya bukan dari agama tersebut dan mengakibatkan komflik antar tokoh agama dan masyarakat terhadap pelaku yang tidak menemukan ujung dari solusi masalah, dimana para pergerakan kaum merah dalam mensikapi dari berbagai komplik social-politik bangsa ini, apakah trikompetensi pergerakan hanya sebuah cita-cita belaka, itu seharusnya menjadi intropeksi sebuaha pergerakan.
IMM di usianya yang sudah semakin matang ini dituntut untuk lebih kreatif dan kontributif dalam mengepakkan jas merah marunnya. Kehadiran IMM seharusnya bisa merespon konteks kegelisahan masyarakat terhadap berbagai komplik social-politik yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. IMM akan kalah bersaing dan kemudian ditinggalkan jika hanya berfokus pada runititas internal organisasi atau terikat pada ranah sempit dengan cara-cara klasik. Sudah seharusnya IMM mampu memanfaatkan semua sarana, prasarana, termasuk sosial media yang ada guna mengkonstektualisasikan semua cita-citanya, sebagai gerakan keilmuan. Bagi IMM yang memiliki jati diri sebagai kaum yang kritis, independen, dan berpikir out of the box dalam mewujudkan perubahan demi kemaslahatan persyarikatan, umat, dan bangsa, sudah seharusnya melalui kembali kepeloporan dan peranan serta strateginya sebagai gerakan pembaharuan, terutama untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia yang lebih berkemajuan, dengan perubahan yang cepat dan kompetisi yang dahsyat. Revisi peran dan strategi ini di dasarkan pada kesadaran baru bahwa kini semua kita pasti berhadapan langsung dengan bernagai masalah social-politic yang terjadi. Jika ini terjadi maka IMM layak disematkan gelar sebagai gerakan kaum merah marun yang berkemajuan.

Diposkan dalam Tak Berkategori. Markahi permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: