Refleksi 53 tahun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah


Oleh: Muhammad Zulfikar Noor
Kabid Hikmah Komisariat Psikologi
Dipersembahkan untuk keluargaku, IMM se-Djazman Al-Kindi
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu Organisasi Otonom Muhammadiyah bergerak di lingkungan kemahasiswaan, sejauh ini jika menilik sejarah yang telah dilalui mengalami dinamika yang kompleks. Organisasi yang lahir pada masa gejolak politik, sosial dan ekonomi tersebut pada saat ini mengalami pendewasaan yang sangat cepat, karena pada saat itu sudah dihadapkan dengan kondisi dan ancaman yang cukup berat, seperti kemiskinan struktural, konflik SARA hingga penghianatan Partai Komunis Indonesia yang salah satunya berusaha menghancurkan organisasi gerakan mahasiswa. Secara historis IMM lahir dari problematika kebangsaan, hal ini tentunya menguatkan mental ikatan sebagai gerakan mahasiswa.
Tokoh-tokoh pendiri IMM merupakan tokoh intelektual yang sangat dihormati pada saat itu, bahkan Ayahanda Djazman Al-kindi sempat berdialog langsung dengan Presiden Soekarno terkait dengan rencana KAA (Konferensi Asia-Afrika), Bung Djazman sebutannya kala itu membuat presiden Soekarno merasa takjub melihat keintelektualisannya sebagai kaum muda. Bukan hanya cakap dalam intelektual, beliau juga memiliki tingkat religiusitas yang tinggi, dengan beberapa kader awal saat itu adalah hafidz Quran dan hampir tak pernah meninggalkan praktek-praktek ritual keagamaan.
Jika kita lihat fenomena kader ikatan saat ini, kondisi kader ikatan masih sangatlah jauh dari profil Founding Fatherikatan, banyak kader ikatan yang begitu mudahnya terjebak dalam politik praktis hanya karena takjub dan tergiur dengan tawaran partai politik. Pemahaman High Politic dalam diri kader masih dipahami secara parsial dalam ghiroh perjuangan, bahkan bersikap pragmatis. Hal ini menunjukkan pengikisan nalar kritis kader ikatan karena banyak faktor yang melatarbelakanginya termasuk ambisi pribadi.
Fenomena selanjutnya adalah minimnya budaya literasi. Banyak kader ikatan yang merasa bahwa budaya literasi tidaklah menjadi prioritas utama dalam pengejewantahan misi ikatan. Padahal ayahanda kita saja memiliki budaya literasi yang begitu kuat, rasanya tidak akan mungkin IMM dilahirkan dan disetujui langsung oleh Presiden Soekarno jika tokoh pendirinya memiliki tingkat keintelektualitasan yang minim.
Selain itu, minimnya jiwa religiusitas kader, religiusitas sebagai salah satu aspek dalam Tri Kompetensi Dasar tentunya tidak bisa dikesampingkan begitu saja, banyak kader ikatan yang masih begitu mudahnya takjub dengan pemikiran-pemikiran sekuler atau pemahaman kidal tanpa menyeimbangkan dengan pemahaman agama islam sebagai nilai pertama dalam Enam penegasan IMM, hal ini menyebabkan bias identifikasi antara kader ikatan dengan kader pergerakan nasionalis-sosialis. Kader ikatan kehilangan jati dirinya sebagai anak kandung dari persyarikatan Muhammadiyah yang berpedoman teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah. Fakta selanjutnya dari fenomena ini adalah minimnya etika komunikasi dalam jalannya roda organisasi, banyak konflik dalam internal ikatan hanya karena kader ikatan tak pandai merangkai kata dan seringnya justifikasi pada kader ikatan lain yang tak se-pemahaman dengan dirinya. Padahal etika komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam jalannya roda organisasi. Jangan harap akan terjadi konflik vertikal jika kader ikatan masih sibuk pada konflik horizontal, bahkan masih sibuk bergelut dengan konflik internal yang masih sering terjadi dari tataran pusat sampai tingkat komisariat. Tentunya hal ini akan menjadi wacana belaka dalam pencapaian misi ikatan dan persyarikatan jika kader ikatan belum bisa menyelesaikan problema ini.
53 tahun sudah IMM menjalankan misi dakwahnya sebagai organisasi gerakan kemahasiswaan yang mencerahkan. Fenomena-fenomena diatas sebenarnya bukan hanya menimpa kader ikatan, namun secara umum telah menjadi problema kader gerakan kemahasiswaan lain pasca-reformasi.  Khusus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah permasalahan diatas harus menjadi fokus utama penindaklanjutan oleh pemangku jabatan dalam struktural ikatan. Optimisme bahwa IMM akan tetap bisa mengawal bangsa menuju misi berkemajuan masihlah ada jika dalam benak kader ikatan masih tersimpan rasa perjuangan yang semata-mata ikhlas untuk ikatan bukan untuk kepentingan pribadi. Jika rasa semacam itu sudah terpatri maka misi berkemajuan akan menjadi keniscayaan. Yang diperlukan adalah tangan yang tak ragu bergerak, lidah yang tak takut berucap dan jiwa yang tak gentar pada rintangan. Maka mari bergerak satukan rasa, jiwa dan perbuatan. Momentum milad ini adalah saat yang tepat untuk kembali menghidupkan profil kader ikatan sebagaimana dulu dibentuk oleh founding father IMM. Fastabiqul Khairat!
Diposkan dalam Tak Berkategori. Markahi permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: