Hajjah Rangkayo Rasuna Said: Salah Satu Pahlawan Perempuan yang (mungkin) Terlupakan


 Oleh: Afi Nafisah Rahimi
Rasuna Said, pahlawan kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, yang telah memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita, seperti Kartini. Sebagai pejuang yang memperhatikan peran  perempuan, beliau juga turut menjadi pendidik di sekolah Diniyah Putri sebagai guru. 
Lambat laun, Rasuna Said tersadar bahwa perempuan tidak hanya diperjuangkan melalui lini pendidikan, namun juga diperjuangkan melalui jalan-jalan lain, yaitu melalui politik.
Kemudian setelah menjadi aktivis politik, beliau berinisiasi memasukkan pendidikan politik ke dalam kurikulum Sekolah Putri. Tetapi sayang, gagasan mulianya ditolak oleh pihak sekolah. Akhirnya, Rasuna Said memilih untuk mengundurkan diri dari sekolah itu.
               
Dan beliau melanjutkan perjalaannya untuk menimba ilmu agama kepada Haji Abdul Karim Abdullah atau sebutan lainnya Haji Rasul, beliau merupakan ayah dari Buya Hamka. Haji Rasul ini kerap mengajarkan pentingnya pembaharuan pemikiran islam dan kebebasan berpikir. Hal inilah yang menjadi faktor utama mempengaruhi pandangan Rasuna Said dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.  
Di Padang, Rasuna Said bergabung mendirikan Sekolah Thawalib. Yakni sekolah yang dikhususkan bagi kaum perempuan sebelum memasuki ke jenjang pernikahan. Thawalib sendiri ialah gerakan yang dibangun oleh kaum reformis islam di Sumatera Barat. Pemimpin dari gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran nasionalis islam Turki, yaitu Mustafa Kemal Ataturk. 
Perempuan pendiri Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) di Indonesia ini juga rutin menyebarkan ilmu dan pandangannya dalam sekolah-sekolah yang didirikan oleh PERMI ini.
Dalam prinsip perjuangannya, beliau tetap mendirikan sekolah, namun harus tetap disertai perjuangan politik. 
Perempuan politis handal ini juga pernah terkena Speek Delict perempuan pertama. Apa itu? Yakni hukuman pidana kolonial bagi sesiapapun yang berani berbicara menentang pemerintahan Hindia-Belanda, mengapa? Karena beliau adalah sosok perempuan yang pandai berorasi, yang isinya menentang atas ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda. Beliau ditangkap di Payakumbu dan dipenjara di Semarang pada tahun 1932 saat beliau berusia 22 tahun. 
Eloknya, orasi perempuan ini sangatlah dikenal bak suara petir yang menggelegar di siang hari. Tidak hanya itu, beliau juga sosok aktivis jurnalis. Medan perjuangannya yang sangat terjal dan tentunya kembali menimpa Rasuna Said. Setelah dipenjara, beliau melanjutkan pendidikan di Islamic College pimpinan KH. Mochtar Jahja dan Dr. Kusuma Atmaja. Ternyata, dalam kesehariannya, beliau juga sosok yang melek media. Pada saat itu, beliau sempat memimpin majalah koran yang bernama “Raya”. Koran Raya ini digunakan sebagai obor dari tonggak perlawanan bagi kebangkitan pergerakan nasionalis di Sumatera Barat. Karena adanya perjuangan beliau ini, sehingga polisi rahasia Belanda mempersempit ruang gerak media pada saat itu. 
Karena dipersempit ruang geraknya dalam bermedia, maka beliau melanjutkan perjuangannya di kota Medan. Di Medan, beliau mendirikan sekolah yang bernama Perguruan Poeteri. Dan juga mendirikan majalah yang dinamakan Menara Poeteri. Beliau pun juga mengasuh rubrik “Pojok”. Dengan tulisan beliau yang namanya disamarkan menjadi Seliguri
 
Tulisan-tulisan dari Rasuna Said, dikenal sangat tajam, tepat sasaran, dan selalu mengambil mengambil sikap lantang anti-kolonial. Rasuna Said juga pernah menduduki sebagai Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan dan diangkat sebagai anggota parlemen Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS). 
Menurut Rudi Hartono, Rasuna Said adalah pendukung setia Bung Karno. Pada saat pemberontakan PRRI-Permesta meletus, yang juga dimotori oleh Mohammad Natsir, Rasuna Said merupakan salah satu tokoh pejuang Sumatera Barat yang memihak NKRI. Hal ini yang membuat Bung Karno kagum pada pejuang dari Sumatera Barat ini. Dalam sebuah pidato di Bandung, 18 Maret 1958, di hadapan puluhan ribu massa, Bung Karno memuji kegigihan perjuangan Rasuna Said.
Rasuna Said kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sampai akhir hayatnya pada tanggal 2 November 1965. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Hajjah Rangkayo Rasuna Said dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden R.I. Nomor 084/TK/Tahun 1974, bertanggal 13 Desember 1974. Sebetulnya, masih ada nama-nama wanita hebat lain asal Sumatera Barat. Yakni Rohana Kudus, Rahmah El-Yunusiyah, dan Siti Manggopoh. Silakan, jika mau mengulas kisah ketiga wanita ini sebagai pembelajaran. 
Sumber:
Menghimpun dan sinkronisasi artikel-artikel dari berbagai sumber.
Diposkan dalam Tak Berkategori. Markahi permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: