DINAMIKA KAMPUS SEBAGAI ANCAMAN KADER IMM?

DINAMIKA KAMPUS SEBAGAI ANCAMAN KADER IMM?

IMMawan Sujadi Safrudin

Ketua Bidang Hikmah PC IMM Djazman Al Kindi Kota Yogyakarta Periode 2017

     Mari kita membangun kesadaran positivisme dalam memandang berbagai kultur dan fenomena kampus yang senantiasa terjadi, terutama di kampus-kampus besar yang ada di  DIY. Kebiasaan dan perilaku mahasiswa sekarang  sangat jauh dari harapan masyarakat dan bangsa, karna indikatornya  mahasiswa sangat kontradiktif dari  visi dan misi atau tujuan dari pada mahasiswa itu sendiri. Karena mayoritasnya  mahasiswa tidak memiliki lagi  citra dan nilai integritas yang ideal.

     Kampus  dewasa ini sudah diwarnai dengan kultur dan kebiasaan hedonisme, pragmatisme dan  cenderung  membuat konflik sesama mahasiswa di kampus. Beberapa tahun belakangan ini semakin marak dan destruktif  yang konsekuensinya merusak berbagai fasilitas kampus. Fenomena seperti  ini sudah membudaya di dunia kemahasiswaan.

     Dunia kampus dianggap sebagai dunia Intelektual Ilmiah. tetapi kenyataannya sangat kurang dan jarang ada aktifitas mahasiswa yang mencerminkan nilai-nilai Intelektual seperti diskusi, kajian intensif, pelatihan, seminar yang ter follow up. Meskipun ada tetapi sangat jarang diadakan dan mahasiswa  juga kurang semangat untuk berpartisipasi pada kegiatan tersebut.

      Lembaga  intra  kampus seperti DPM, BEM dan HMPS maupun Lembaga Eksternal yang di anggap mempunyai latarbelakang dan bertanggungjawab di bidang intelektual kurang mengadakan aktifitas yang mengarah pada ranah intelektual  yang menjadi hakekat dan orintasinya tidak sekedar seremonial belaka.  Justru indikator yang terjadi di tingkat lembaga intra kemahasiswaan adalah gerakan yang cenderung politik praktis yang orientasinya menciptakan kampus yang tidak stabil dan menjadi oposisi  bagi lembaga lain. Sehingga melahirkan permusuhan dan benturan di dalam kampus. Kenyataanya juga di lapangan sebagian kecil Kader IMM terjerumus dan menjerumuskn diri didalam mainstream kultur seperti itu. Sadar atau tidak tetapi itu menjadi tolak ukur bahwa ternyata masih ada oknum Kader IMM sangat jauh dari kesadaran intelektual dan spritual.

     Kalaupun IMM Secara Kelembagaan tidak mendiskusikan masalah ini. Bukan hal yang tidak mungkin secara berangsur-angsur kader IMM  kedepan akan terjebak pada kultur yang mengacu pada penggerusan ideologi dan eksistensi. Artianya akan terkontaminasi dan terhegemoni dengan kultur atau pola pikir yang menyimpang. Karena sekarang menurut pribadi penulis sudah ada indikasi yang  tercermin di dalam diri kader sendri, maka langkah IMM kedepan harus dipikirkan bersama.

      Kader IMM secara pribadi maupun secara kelembagaan harus bekerja keras dan mampu memainkan berbagai peranan dan langkah strategis untuk mencoba mrekonsiliasi dan  merombak kembali kebiasaan serta paradigma berpikir mahasiswa yang sekarang  sedang dalam frame berpikir yg salah. Berusaha membentuk paradigma berpikir transformatif, kritis, religius dalam bingkai Amal Ma’ruf Nahi Mungkr dengan berbagai metode. Diantaranya membangun kultur diskusi secara efektif, kajian intensif , seminar ilmiah maupun aktifitas Intelektual lainnya. Hal yg paling urgen dilakukan oleh aktifis IMM yaitu “ Pencerahan Umat “ dengan tiga proses pendidikan terdiri dari ta’lim:  mencerdaskan otak manusia, tarbiah: mendidik perilaku yang benar, dan ta’dib: memperluas adab kesopanan.

      Eksistensi gerakan IMM di kota Yogyakrta ( PC Djazman Al Kindi ) beberapa tahun terkhir ini dirasa masih jauh dari harapan  sebagai organisasi  besar yang  punya  sejarah panjang. IMM dewasa ini mengalami degradasi dan degenarasi gerakan yang  tidak mampu mngejewntahkn identitasnya di mata masyarakat ke arah gerakan yang lebih dinamis, progresif dan  kontekstual sesuai dengan roh dan misi IMM yang sesungguhnya. Indikator  gerakan IMM  bersifat  statis dan fakum. Kader IMM  terkungkung dan terasik dengan kegiatan pengkaderan (DAD) yang  kerap dilakukan. Inilah yang terlintas dalam frame kader hari ini  kegiatan tersebut  menjadi prioritas utama.

     Semua kader perlu sadar bahwa eksistensi  IMM adalah organisasi kader. Tanpa ada pengkaderan sangat  mustahil ada regenerasi  kader dan pimpinan IMM ke depan.  Tetapi mainstream  yang kita harus  bangun adalah selain partisipasi aktif dalam pengkaderan tersebut.  Kader IMM harus mampu melahirkan ide dan gagasan yang kreaktif. Diimplementasikan secara luas sehingga  IMM kelihatan besar dan punya power di mata publik. Gerakan IMM yang sesungguhnya itu semua tidak lepas dari Trilogi Gerakan IMM itu sendiri yaitu : spritual, Intelektual dan Humanitas. Tiga gerakn inilah yang menjadi acuan atau refrensi  dasar  dalam memahami sistematika  orientasi gerakan IMM.

     Pertanyaan  yang  muncul dalam benak kita bahwa sejauhmana pengetahuan paradigma gerakan  IMM sehingga mampu membuktikan identitas gerakannya. Coba kita  spesifikasi orientasi  trilogi gerakan. Misalnya gerakan spritual tentu outputnya secara sederhana bisa bicara mengenai perbaikan akhlaq, moralitas, integritas yang paling subtansial adalah pembentukan aqidah yang kokoh dan Implementasi keimanan Kepada Allah SWT. Tetapi realitas di kampus masih banyak mahasiswa yang  tingkah laku maupun perbuatannya sama sekali tidak mencerminkan sebagai seorang Muslim. Lebih ironis lagi di kampus-kampus Islam terutama yang berlabel Muhammadiyah. Hal itu perlu menjadi refleksi sekaligus introspeksi kita bersama.

     Kalau kita menata potensi spritual dan wawasan keislaman yang dimiliki kader  tidak di ragukan lagi. Perlu disadari oleh Aktivis IMM bahwa sebagian kader  cenderung membangun paradigma berpikir  eksklusif dan ekstrim sehingga  kurang mampu membangun komunikasi, diskusi, dialektika dengan mahasiswa di luar IMM atupun aktifis dari organisasi lain  sehingga transformasi, dotrinasi yang menjadi orientasi  gerakan spritual belum

maksimal.

#JAYALAH_IMMKU…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: