Bijak Memilih Pemimpin

Memilih pemimpin merupakan kewajiban anggota. Satu kelompok di dalam masyarakat harus memiliki seorang pimpinan. Bahkan, ajaran tentang kepemimpinan langsung Allah titahkan kepada Rasul-Nya sebagaimana tersebut dalam beberapa tempat di Al-Qurán al-Karim.

Memilih pemimpin juga harus sesuai petunjuk Allah Taála sebagai Pengatur Alam Semesta Raya ini. Salah satu kriteria yang harus dijadikan pertimbangan dalam memilih pemimpin ialah akidahnya. Apakah ia seorang yang beriman kepada Allah dan melaksanakan hak-hakNya atau tidak.

Apatah lagi pemimpin dalam satu negara, pemimpin di dalam keluarga atau masyarakat juga harus menjadi perhatian yang khusus. Pemimpin dalam keluarga misalnya, seorang ayah yang tidak mampu mengarahkan anak isterinya menuju Keridhoan Allah, ia hanya akan membawa bahtera keluarga dalam mengarungi samudera kehidupan dengan terombang ambing dalam badai ujian kehidupan, yang entah itu benar disebut sebagai ujian atau azab.

Seorang pemimpin dalam masyarakat seperti ketua RT atau Kepala Desa yang jauh lebih luas cakupan tugas dan kewajibannya. Ketua Ibu-ibu PKK pun demikian pula, misalkan saja ketika itu seorang ibu-ibu PKK memimpin suatu rapat, tetiba mendengar kumandang adzan Dhuhur. Kira-kira apa yang akan diucapkan spontan olehnya?

“aduhh.., ganggu saja ini,” ini jawaban seorang yang tidak memiliki akidah yang baik.

“mohon maaf ibu-ibu, berhubung sudah masuk waktu adzan, mari kita laksanakan salat dulu, nanti kita lanjutkan rapatnya usai salat,“ ini jawaban pemimpin yang berakidah baik. Bahkan, bisa jadi mereka yang tidak terbiasa salat tepat waktu, dengan adanya pemimpin yang menganjurkan kebenaran sebagaimana permisalan diatas, akan turut serta mengikutinya.

Tidak bisa dipungkiri, pemimpin memiliki kemampuan yang tidak semua orang bisa melakukan. Jika pemimpin itu baik, maka kebijakan yang dikeluarkan juga baik. Jika pemimpin itu buruk, maka tidak yakin kalau kebijakan yang dikeluarkan dapat membuat nyaman anggota atau rakyatnya.

Untuk itulah, Ust. Abdul Shomad dalam salah satu ceramahnya menasehati,

“Kita dikatakan umat terbaik bukan karena sebab pulang pergi haji dan umrah berkali-kali, suara merdu dalam membaca al-Qur’an, ataupun karena lantang menyampaikan ceramah. Umat terbaik karena kita mampu mengajak orang berbuat baik dan sanggup mencegah kemungkaran. Siapapun yang sanggup dengan tangannya, dengan kekuasaanya, dengan jabatannya untuk mengubah kemungkaran, maka lakukanlah!,”

“Ketika tandatanganmu masih berlaku, ketika kekuasaan masih ada dalam genggaman tanganmu, pakailah ia untuk menegakkan agama Allah. Orang yang paling rugi adalah mereka yang pernah menerima jabatan, tapi tidak dipakai untuk menegakkan agama Allah,”

“Salat dhuha, baca al-Qur’an, puasa sunnah semuanya baik dan itu bisa dilakukan siapa saja, bahkan anak kecil sekalipun sudah pandai membaca dan menghafalnya. Namun, ada perbuatan baik yang tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Siapa dia?,”

Yakni orang yang punya kekuasaan untuk mengeluarkan aturan-aturan yang dapat digunakan sebagai jalan atau cara untuk menolong agama Allah Ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: