Mahalnya Sebuah Ide

Oleh : M Saiful Hadi

Jika sumur di kuras akan kehabisan air, namun sumur akan mengeluarkan airnya melalui sumber-sumber mata air kecil yang berada di dalamnya sama halnya dengan sebuah ide jika terus menerus di keluarkan akan habis juga. Rasanya sudah banyak hal yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Terkadang tidak dapat mengeluarkan idenya kembali alias buntu, sebabnya tidak lain karena tidak ada sumbernya seperti halnya sumur.
Seorang penulis produktif, yang karyanya mencapai ratusan buku mengaku harus mencari sumber pikirannya dengan berdiskusi, membaca, dan merenung. Jika tidak, idenya hanya seputar itu saja, dari itu ke itu juga, tak ada yang baru.
Seperti Buya Syafi’i Ma’arif usia boleh tua pemikiran tetap muda. Pemikirannya selalu segar, kaya warna, banyak pembaharuan juga masih relefan dengan kemajuan zaman. Nurcholis Madjid memberi saran, kita harus pandai menangkap “kilatan pemikiran”. Pikiran yang muncul tiba-tiba dan berada dalam pemikiran kita harus cepat ditangkap kemudian dikembangkan sehingga menjadi ide baru. Ide itu harus terus-menerus diperjuangkan agar menjadi kenyataan.
Ketika ide-ide tersebut menjadi kenyataan di alam nyata dan menjadi terkenal di seluruh media, barulah kita sadar betapa mahalnya sebuah ide. Jangan sekedar kaget dan kagum ketika Bung Hatta menuliskan gagasannya tentang ekonomi kerakyatan atau sering di sebut dengan koperasi yang saat ini masih sangat cocok untuk digunakan di Indonesia.
Bagi saya ide itu tidak bisa dibeli atau bahkan dibayar dengan apapun, karena ide itu mahal. Bisa di ibaratkan ide itu adalah jati diri seseorang. Setiap orang disetiap harinya pasti tidak akan memiliki ide yang sama dengan yang lainnya. Berbeda pandangan dalam menyusun strategi itu pasti ada. Ide yang digali pun kadang-kadang bisa jauh seperti apa yang kita harapkan namun bukan hal yang tidak mungkin ide juga bisa menjadi hal yang tidak diharapkan dengan apa yang kita bayangkan.
Betapa mahalnya sebuah Ide dan gagasan hingga beberapa pejuang kita pernah diasingkan dari tempat satu-ke tempat yang lain, banyak sastrawan juga harus dipenjara seumur hidup disebabkan ketakutan rezim akan ide-ide “liar” dalam tulisannya. Jangan pernah takut untuk punya gagasan, boleh jadi hari ini dicemooh, 10 atau 20 tahun lagi orang akan memuja dan mengenangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: