HIJRAH! LATAH SOSIAL ATAU KESADARAN RELIGIUS?

HIJRAH, LATAH SOSIAL ATAU KESADARAN RELIGIUS ?

IMMawan M. Zulfikar Nur

       Hijrah dewasa ini merupakan sebuah fenomena sosial yang cukup populer di kalangan muda indonesia, berbagai kajian-kajian tentang hijrah dan ustadz-ustadzah muda juga menjadikan tema kajian tentang hijrah sebagai tema yang dapat menarik anak-anak muda untuk datang ke kajian keagamaan. Hal ini tentunya suatu fenomena yang positif mengingat realitas sosial hari ini yang cenderung dekat dengan aktivitas-aktivitas negatif, namun sebelum kita hanyut dalam euforia hijrah ini kita pantas untuk melakukan otokritik terhadap fenomena ini. apakah hijrah hanya dimaknai sebagai perubahan fisik dari yang tadinya tidak berjilbab menjadi berjilbab ?, dari yang tadinya mengenakan hijab kekinian menjadi mengenakan jilbab panjang yang menutup semua aurat?, atau bahkan dari yang tadinya memanggil orang dengan sapaan bro dan sist menjadi akhi dan ukhti?. lalu apakah sebenarnya hijrah itu ?

          Hijrah secara bahasa bisa diartikan dengan kata berpisah, sedangkan secara istilah dapat dimaknai sebagai meninggalkan syahwat, akhlak yang buruk, dan dosa-dosa menuju kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT. jika melihat pemaknaan dari hijrah sendiri yang telah diuraikan diatas  apakah hijrah bisa dimaknai secara holistik hanya dari perubahan fisik?, menurut hemat saya hijrah tidak bisa dimaknai sesempit itu, sesuai dengan uraian tentang pengertian hijrah diatas bahwa segala aspek bisa kita “hijrahkan”, bukan hanya aspek fisik saja yang menjadi perhatian, namun aspek ilmu pengetahuan, sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Sebagai manusia islam kita harus berhijrah secara kaffah, tidak bisa dikatakan hijrah jika seseorang berjilbab panjang atau berjenggot tebal karena hanya mengikuti fenomena yang memang sedang booming ini. hijrah harus dibarengi dengan kepedulian akan kaum-kaum tertindas, orang-orang miskin dan fakir.

         Kita tidak perlu terlalu sibuk pada persoalan fisik saja sedangkan hakikatnya banyak aspek yang perlu kita hijrahkan. Negara-negara maju di benua eropa sana sudah menjalankan konsep hijrah yang diyakini oleh umat muslim, terutama dalam hal etos kerja, etika kerja dan kepedulian pada warganya yang miskin dan pengangguran. Banyak dari pengangguran yang dibayar hidupnya oleh pemerintah, sehingga secara ekonomi dan teknologi negara-negara tersebut bisa dikatakan sudah maju. Hal semacam ini yang dilupakan oleh umat muslim khususnya di indonesia, contoh sederhana adalah mahalnya berbagai kebutuhan pokok, korupsi pejabat negara, dan banyak rakyat yang ditindas oleh koorporat. Saya yakin negara-negara muslim akan maju jika semua masyarkatnya paham dan menjalankan konsep hijrah yang seenarnya, sehingga tidak ada istilah hijrah hanya sebagai fenomena latah sosial saja, tapi sebagai penyadaran untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: