KARTINI, KEBAYA, DAN EMANSIPASI

KARTINI, KEBAYA, DAN EMANSIPASI

Oleh: IMMawati Dwi Puji Lestari
Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat PC IMM Djazman Al Kindi Kota Yogyakarta

Sudah menjadi stigma umum di sebagian besar masyarakat Indonesia setiap tanggal 21 April menggunakan kebaya lengkap beserta kondenya atau untuk yang mengenakan hijab lengkap dengan gaya pemakaian hijabnya. Hari yang di khususkan untuk memperingati Pendekar Wanita ini bisa kacau jika hanya dimaknai sebagai hari berkebaya saja, padahal maknanya lebih jauh dan lebih dalam yakni mengenai emansipasi wanita, perjuangan RA kartini terhadap hak-hak para wanita yang pada masa itu wanita hanya memiliki tiga fungsi (dapur, sumur, kasur) maka saat ini wanita mampu menjangkau hak yang lainnya seperti pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya. Lantas apa hubungan Kartini, kebaya dan emansipasi? Sejak kapan tradisi berkebaya di Hari Kartini itu ada? Tradisi kebaya di Hari Kartini ini muncul di masa Orde Baru, dimana 21 April dirayakan dengan pesan, bagaimana perempuan harus mencitrakan diri seperti apa yang dipakai Kartini.

Menurut hemat penulis, tidak ada yang salah dengan tradisi berkebaya di Hari Kartini ini. Sejak puluhan tahun lalu juga, anak-anak mulai dari PAUD atau TK sudah dipahamkan bahwa setiap Hari Kartini maka mereka harus memakai pakaian adat seperti kebaya. Hal tersebut adalah pengenalan citra kartini dari sisi pakaian atau secara fisiknya.
Sebenarnya adapun pemaknaan mengenai kebaya yang berhubungan dengan emansipasi adalah dengan memakai kebaya yang sedemikian rupa, kaum wanita tidak leluasa bergerak bebas seperti saat ini. Wanita yang sedang menggunakan kebaya tidak akan bisa berjalan dengan langkah lebar atau bahkan berlari. Namun, untuk memaknai lebih dalam yang tidak hanya sebatas penampilan fisik saja, para orangtua atau guru-guru di sekolah bisa menginisiasi dengan pembacaan surat-surat Kartini atau puisi-puisi yang menggambarkan perjuangan RA Kartini pada masa itu sehingga Hari Kartini tidak hanya sebatas membumikan pakaian kebaya kemudian berlenggak-lenggok di arena fashion show dengan berbagai macam gaya.

Selain itu juga, pemaknaan perjuangan RA Kartini bisa dengan melihat semangat juang Kartini dalam posisi yang lebih baik dibanding penampilan fisik. Anak-anak PAUD atau TK, terutama perempuan, bisa didorong untuk lebih mengenal berbagai macam profesi yang bisa mereka jalani kelak, misalnya lewat kegiatan-kegiatan lain dengan menggambar atau menuliskan cita-cita profesi yang mereka inginkan kelak, sehingga menambah motivasi pemilikan dan pencapaian cita-cita sejak dini. Tradisi yang sudah mengakar dan membudaya sejak puluhan tahun lalu ini memang tidak bisa secara instan untuk dikembangkan (bukan untuk dihapuskan) , namun penulis yakin bahwa akan ada fase penyadaran masyarakat dalam memaknai perjuangan RA Kartini ini.

Fastabiqulkhairaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: