PC IMM Djazman Al Kindi Kota Yogyakarta adakan diskusi 20 Tahun pasca reformasi

Bagi bangsa Indonesia, bulan Mei memiliki catatan sejarah tersendiri. Istilah yang tidak asing lagi pada tahun 1998, di mana para mahasiswa turun memenuhi gedung perwakilan rakyat di pusat ibu kota Indonesia dengan maksud mengadakan reformasi. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu elemen yang tergabung dalam kelompok itu tentu memiliki pandangan tersendiri mengenai agenda bangsa pada saat itu.

Pada Selasa, (22/5) di kampus III Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Bidang Hikmah PC IMM Djazman Al Kindi Kota Yogyakarta menyelenggarakan diskusi dengan tema “20 Tahun Reformasi dalam Perspektif Gerakan IMM” bersama IMMawan Nurham Al Afghani, IMMawan Riantra Jaya dan IMMawan Naashiril Haq.

IMMawan Sujadi, sebagai penanggungjawab kegiatan tersebut berharap agar kader IMM, khususnya kader IMM Djazman Al Kindi Kota Yogyakarta mampu menganalisis persoalan yang ada di realita kehidupan masyarakat dengan gerakan IMM itu sendiri.

“Dalam hal ini, secara umum kami mengajak IMM harus mempunyai pandangan tersendiri untuk menyikapi persoalan Negara atau isu-isu nasional, dengan berlandaskan amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini karena mahasiswa selalu menjadi bagian dari pelopor, penggerak bahkan sebagai pengambil keputusan,” ungkapnya saat diwawancarai.

“Penting kita semua untuk memenangkan 6 agenda besar reformasi. Beliau mengunggakpan juga jika Reformasi memiliki makna dan konotasi positif jika kita berhasil mengawal dan memfaktualisasikan, namun akan menjadi negatif jika semua agenda itu GAGAL. IMM bertanggung jawab mewujudkan 6 tuntutan agenda besar itu. Berangkat dari gerakan moral serta kesejahteraan bersama, IMM harus siap mengkampanyekan keresahan dan keluhan umat. Indonesia harus bangga karena bisa memiliki IMM” pungkas IMMawan Nurham Al Afghani selaku pembicara/pemantik dalam acara diskusi tersebut.

Dengan pemikiran kritis, demokratis dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme tersebut mendorong para mahasiswa untuk memperjuangkan suatu aspirasi kepada penguasa, dengan cara mereka sendiri. Mengakar dalam badai, menerjang meski sunyi, kebajikan pantang sembunyi ! (Mas DF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: