Diskusi Terbuka “TERTINDIH DOLLAR”

YOGYAKARTA – PC IMM Djazman Al Kindi dan PC IMM AR Fachruddin menyelenggarakan diskusi terbuka yang bertemakan “TERTINDIH DOLLAR”

Pada Sabtu (15/9), di Basement Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah Yogyakarta, Bidang Hikmah Pimpinan Cabang Djazman Al Kindi bekerja sama dengan Bidang Hikmah Pimpinan Cabang AR Fachruddin menyelenggarakan diskusi terbuka yang mengangkat isu kenegaraan berupa melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dollar Amerika.

Diskusi ini menghadirkan dua orang pemantik yaitu Immawan Suhaibun Febrianto (UAD) dan Immawati Fitria Florenza (UMY). Immawan Suhaibun yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Koordinator Komisariat Universitas Ahmad Dahlan menuturkan bahwa, “Kondisi perekonomian Indonesia saat ini sedang lemah. Tingkat kemiskinan naik sejumlah 0,23% , hutang negara mencapai 5.400 Triliun, nilai mata uang rupiah melemah menjadi Rp 14. 913, 65. Dampak dari melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dollar ini yaitu pada sektor produksi mengalami penurunan, daya beli masyarakat menurun, ekspor semakin menurun dan sebaliknya tingkat impor meningkat.”

Immawati Fitria Florenza selaku bidang Immawati AR Fachruddin juga menyampaikan pandangan bahwasanya dollar di Indonesia masih bisa tercover oleh pemerintah melalui subsidi bahan pokok. Tindakan penanganan lain seperti menahan jumlah impor dan menaikkan jumlah ekspor. Selain itu, melemahnya nilai mata uang rupiah tidak berdampak pada masyarakat kelas menengah ke bawah.

Dari penuturan kedua pemantik yang memiliki pandangan yang berbeda tersebut, muncullah berbagai pertanyaan maupun tanggapan dari beberapa peserta diskusi yang menghasilkan kesimpulan bahwa melemahnya nilai mata uang rupiah saat ini adalah wujud belum tercapainya nawacita dari Presiden Jokowi dimana dollar akan senilai Rp 10.000. Dampak dari melemahnya nilai rupiah ini paling terasa bagi sektor makro dan beberapa sektor mikro seperti petani-petani yang melakukan ekspor barang mentah dan harapannya ada perbaikan regulasi oleh pemerintah terkait kebijakan ekspor dan impor.

“Krisis moneter terjadi setiap siklus 10 tahunan. Pada tahun 2018 krisis terjadi di Turki dan Argentina dikarenakan Amerika menaikkan suku bunga ekspor. Solusinya, seperti yang dilakukan di negara-negara di Eropa melalui kebijakan membatasi penggunaan minyak dengan kampanye bahwa minyak dari Asia tidak ramah lingkungan. Adanya kebijakan terkait ekspor bahan mentah karena petani tidak mampu mengintervensi harga jual. Pemilahan produk yang di ekspor guna mempertahankan kualitas yang baik bagi konsumen serta adanya branding dengan kemasan ekonomis sehingga mudah dipasarkan. Diskusi mengenai melemahnya nilai rupiah ini adalah puncak kekesalan mahasiswa akan kondisi ekonomi saat ini.” ungkap Immawan Suyoto selaku bidang hikmah DPD IMM DIY. (R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: