MENGURAI PERSOALAN SOSIAL DENGAN “SRAWUNG”

MENGURAI PERSOALAN SOSIAL DENGAN “SRAWUNG”

Oleh: Ridwan Adi Darmawan

Berbicara tentang sosial jujur saja memang banyak pemahaman bahwa sosial itu pada intinya hanya sebatas srawung kalau dalam istilah Jawa yang artinya berbaur dengan sesama. Dalam konteks Islam sendiri adalah hablum minannas atau hubungan antar sesama manusia, namun apakah hanya sebatas itukah sosial? Menurut saya itu masih dalam konteks umum, penjabarannya masih banyak yang belum diuraikan dan praksisnya masih kurang mengena. Hehe, maklum kalau banyak teori tapi kurang pratek setidaknya masih mikirlah tentang bagaimana membangun suatu masyarakat yang ideal melalui ide.

Di masa pembangunan sekarang terutama mahasiswa yang saya sorot sebagai agen perubahan di masa yang akan datang sudah termakan oleh suatu sistem yang dibentuk oleh mahasiswa sebelumnya yang sekarang sudah duduk sebagai pembuat kebijakan. Boleh saya sebut kakak-kakak alumnus 98 yang rindu dengan romantisme masa lalu menginginkan adik-adiknya supaya melakukan aksi peduli rakyat di gedung parlemen, tetapi mereka yang sekarang sudah duduk di kursi punya cara untuk mengatasinya dengan sistem yang sebenarnya adalah suatu perusakan nalar kritis mahasiswa salah satunya kebijakan MD3. Husnudzon saya kepada kakak-kakak alumnus 98 ya mungkin mereka sedikit melupa bagaimana dulu mereka berjuang membela rakyat dan ketika mereka sudah nyaman sudah duduk di kursi mereka lupa tentang perjuangan mereka dulu. Seorang dewan kalau secara sistem perundangan masih di bawah rakyat namun dalam praktiknya malah mereka pembuat kebijakan yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat malah demi kepentingan partai, ya itulah sistem.

Dari uraian di atas rasa kepedulian seorang dewan sudah tergadai oleh suatu kepentingan, saya tidak menyalahkan dewan tapi kritik pada sistem yang saya sorot. Kenapa dulu sistem ini terbentuk? Apakah ada pengaruh orde lama, orde baru disitu? Tapi bukan disitu sebenarnya arah tulisan ini ditulis. Arah tulisan ini ditulis untuk mengkritik kepedulian seorang dewan perwakilan dengan rakyat yang terwakilkan suaranya di parlemen. Ketika sudah nyaman di kursi mereka lupa untuk kembali ke akar rumput, padahal dulu mereka mengemis suara rakyat dengan berbagai macam janji. Analisis sosialnya pun terkadang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat yang mereka wakili.

Disitulah aspek srawung nya lebih diperbanyak lagi, ngopi dengan masyarakat dengan bahasa sederhana berbicara dengan masa depan bangsa boleh dan mendengar curhatan wong cilik dapat menambah kedekatan bathiniah dewan dan rakyat. Di sisi lain mahasiswa pun sebagai penyambung lidah masyarakat ke pembuat kebijakan dalam menambah kepeduliannya kepada masyarakat dengan srawung juga ditambah sharing keilmuannya di kampung halamannya, bukan malah sistem masyarakat yang membuat suatu mahasiswa termarjinalkan karena ilmunya terlalu tinggi. WS Rendra dalam puisinya Sajak Seonggok Jagung menyampaikan kegelisahannya terhadap orang yang berilmu tinggi namun bingung ketika harus mengimplementasikannya di kampung halamannya. Boleh merubah sistem terdahulu namun suatu proses baru akan mudah diterima ketika pendekatan sudah terbangun, ya srawung sistem yang paling efektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: