IMM DJAZMAN DALAM FILANTROPI ISLAM

IMM DJAZMAN DALAM FILANTROPI ISLAM

Oleh : Ilhamsyah Muhammad Nurdin_A.K.A. Sultan Cinta

…saya tidak lagi memakai “Islamisasi pengetahuan”, dan ingin mendorong supaya gerakan intelektual umat sekarang ini melangkah lebih jauh, dan mengganti “ Islamisasi pengetahuan menjadi “pengilmuan islam”. Dari reaktif menjadi proaktif… “Pengilmuan Islam” adalah proses, “Paradigma Islam” adalah hasil, sedangkan “Islam sebagai Ilmu” adalah proses dan hasil sekaligus…

(Kuntowijoyo)

            Ada 3 (tiga) point yang bisa diambil dari konsep yang ditawarkan oleh kuntowijoyo dalam bukunya islam sebagai ilmu untuk memebri petunjuk kearah mana, untuk apa, dan oleh siapa suatu transformasi harus dilakukan atau dalam pembahasan kita kali ini adalah pandangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)  PC Djazman Al kindi? 3 (tiga) point itu diantaranya yaitu :  (1) “ Pengilmuan Islam” sebagai proses keilmuan yang bergerak dari teks Al-Qur’an menuju konteks sosial dan ekologis manusia; (2) “Paradigma Islam” adalah hasil keilmuan, yakni paradigma baru tentang ilmu-ilmu integralistik, sebagai hasil penyatuan agama dan wahyu; (3) “Islam sebagai ilmu” yang merupakan proses sekaligus hasil. Secara sederhana dapat dikatakan pengilmuan islam adalah proses, paradigma islam adalah hasil dan islam sebagai ilmu adalah proses dan hasil atau merupakan proses menuju ilmu sosial profetik. Ilmu sosial profetik itu sendiri mempunyai pilar yang di tafsirkan kuntowijoyo pada  QS Ali ‘Imran [3] : 110 yaitu amar ma’ruf (humanisasi), nahi munkar (liberari), dan tu’minuna billah (transedensi) atau dalam penafsiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yaitu sebagai Trilogi (Keilmuan, keagamaan, dan Kemasyarakatan)  dan Trikopetensi (Intelektualitas, Religiusitas, dan Humanitas).

Sebagai salah satu organisasi perkaderan muhammadiyah dan juga merupakan bagian dari organisasi pergerakan yang bergerak dalam ligkup mahasiswa, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) perlu hadir dalam menyikapi persoalan-persoalan yang terjadi pada masyarakat hari ini bukan membangun benteng-benteng untuk membatasi hubungan dengan masyarakat. Persoalan sosisal hari perlu dikaji lagi oleh kawan-kawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan mampu memberikan solusi permasalahan serta dapat terjun langsung ke lapangan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Cabang Djazman Al-kindi Kota Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta pada periode 2018-2019 menjawab permasalahan sosial hari ini dengan pemberdayaan masyarakan atau dengan konsep filantropi Islam. Secara etimologi filantropi berarti “cinta kepada kemanusiaan” atau “charity” atau sering diterjemahkan dengan “kedermawanan”. Secara filosofis, filantropi, sedikit berbeda dengan tradisi memberi dalam Islam [seperti zakat, infaq maupun shadaqah]. Filantropi  lebih bermotif moral yakni berorientasi pada ‘kecintaan terhadap manusia’, sementara dalam Islam, basis filosofisnya adalah ‘kewajiban’ dari ‘Yang di Atas’ untuk mewujudkan keadilan sosial di muka bumi. Walaupun konsep yang diambil menjadi pembicaraan dan perdebatan diluar terkait konsep filantropi dengan altruisme. Secara sederhana bisa diartikan altruisme memberi pada orang yang memberikan perhatian pada orang lain, tanpa mementingkan dirinya sendiri. Sehingga pada kesempatan kali ini kita belum mampu menawarkan konsep altruisme.

Hilman Latief dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Institut DIAN/Interfidei dengan tema “Filantropi Islam: Telaah terhadap Pertumbuhan Organisasi-organisasi Amal di Indonesia Pasca Orde Baru” memberikan catatan penting untuk kemungkinan bisa dikembangkan di masa yang akan akan datang berkaitan dengan filantropi Islam di Indonesia:

  1. Perlu adanya motif dan impian bersama dari lembaga-lembaga charity berbasis agama-agama yang inspirasinya dapat diambil dari ajaran/konsep agama masing-masing. Misalanya dalam Kristen ada konsep “Suasana kerajaan Allah”, dalam Islam ada konsep “baldatun thoyyibatun warobbun gofur” atau “rahmatan lilalamin”, dan lain sebagainya.
  2. Konsep common good atau welfare society, perlu dimaknai lebih luas dalam konteks masyarakat plural seperti di Indonesia.
  3. Konsep “kemaslahatan” perlu dirumuskan bersama dengan baik supaya kategori beneficiaries [penerima manfaat] dari gerakan filantropi Islam ini bisa lebih inklusif yakni menyentuh seluruh warga masyarakat tanpa pandang agama, suku atau golongan.
  4. Perlu dilakukan evaluasi dan kajian lebih dalam tentang manakah yang lebih dominan dalam gerakan ini, antara charity atau aktivitas dakwah?.
  5. Perlu dilakukan reinterpretasi terhadap konsep dakwah, beneficiary dan

Semua itu tidak bisa berjalan selama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memahami filantropi sebagai sosok sunterclas yang datang hanya membawa kebahagiaan sesaat kemudian pergi entah kemana, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)  tidak akan sanggup meyakinkan orang dan mampu ikut dalam memecahkan permasalahan bangsa dan manusia. Apalagi  hanya dipahami sebagai organisasi perkaderan  dan sibuk terus dengan permasalahan internalnya sendiri. Wallahu a’lam bish-shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: