MEMBANGUN TRADISI LITERASI MELALUI “INSTITUSI DJAZMAN”

MEMBANGUN TRADISI LITERASI MELALUI “INSTITUSI DJAZMAN

Oleh :

Ilhamsyah Muhammad Nurdin (Sultan Cinta)

Ketua Bidang RPK PC IMM Djazman Al Kindi

YOGYAKARTA (17/02) Institusi Djazman melakukan pertemuan perdana yang bertempat di Wisma Damar. Institusi Djazman merupakan sebuah perkumpulan yang dibentuk oleh Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Djazman Al Kindi Kota Yogyakarta untuk mencoba membangun suatu tradisi lama yang saya rasa bagus dalam perawatan akal sehat yang kian lama hilang ditepis jaman.

Pada pertemuan perdana ini, Institusi Djazman didampingi Bidang RPK mencoba meraba-raba pemikiran Kuntowijoyo yang dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul Islam sebagai Ilmu. Forum ini adalah upaya untuk menjaga budaya literasi agar tidak hilang dan tenggelam dari arusnya zaman. Meskipun masih dalam masa liburan semester, pertemuan perdana ini tidak menyurutkan semangat kader untuk hadir. Seorang immawati dan lima immawan hadir dengan semangat untuk berdiskusi. Diskusi dimulai dengan kegiatan membaca buku, kemudian peserta diskusi yang hadir diminta untuk mencoba menjabarkan kembali apa yang telah dibaca sesuai penangkapan masing-masing.

Adapun isi pembahasannya yaitu: Gerakan intelektual Islam harus bergerak dari teks menuju konteks atau dalam pemaknaannya Al Qur’an dan As-Sunnah untuk dihadapkan kepada realitas baik realitas sehari-hari maupun realita ilmiah. Ada tiga sendi yang menjadi bentuk ikhtiar untuk menopang keilmuan yaitu: (1) pengilmuan islam yang berbicara tentang proses; (2) paradigma islam yang berkaitan dengan hasil; (3) Islam sebagai ilmu yang mencakup proses sekaligus hasil

Pengumuman Islam menggunakan dua metodologi yaitu integralisasi dan objektifikasi. Integralisasi itu sendiri ialah pengintegrasian kekayaan keilmuan manusia dengan wahyu (petunjuk Allah dalam Al Qur’an beserta pelaksanaannya dalam sunnah Nabi), sedangkan objektifikasi menjadikan pengilmuan Islam sebagai rahmat untuk semua orang.

Paradigma Islam hadir disaat ilmu-ilmu merupakan hasil dari moderisme sebagai ilmu yang terpisah dari agama atau ilmu mandiri dan bisa dikatakan sebagai ilmu sekuler. paradigma Islam merupakan hasil dedifferentifikasi (rujuk kembali) antara agama dan ilmu, wahyu dan rasio.

Islam sebagai ilmu dia berbicara soal proses sekaligus hasil dengan konsep yang dijabarkan pada AL Qur’an Surat Ali Imron [3] : 110  dengan tiga pilar yaitu amar ma’ruf (Humanisasi), nahi  munkar (Liberasi) dan tu’minuna billah (Transendensi) yang kemudian dijadikan sebagai penopang yang oleh Kuntowijoyo disebut sebagai ilmu sosial profetik. Semoga Islam mampu menjawab tantangan zaman dan siap tampil kembali untuk memimpin peradaban dan menyelamatkan manusia dari belenggu dunia modern.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai salah satu gerakan intelektual Islam yang mempunyai kemiripan pemikiran dengan Kuntowijoyo dalam trilogi dan tri kompetensinya. Semoga IMM mampu menafsirkan jaman sesuai dengan apa yang sudah menjadi pedoman dan landasan dalam bergerak.

 

Diedit oleh admin (r).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: