Waktu IMM Berdiskusi (WIB) – Peran IMM dalam Pemberdayaan Masyarakat

Waktu IMM Berdiskusi (WIB) – Peran IMM dalam Pemberdayaan Masyarakat

 

Oleh :

Ilhamsyah Muhammad Nurdin / Sultan Cinta

Ketua Bidang RPK PC IMM Djazman Al Kindi

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi perkaderan yang dibentuk sebagai upaya regenerasi Muhammadiyah guna melanjutkan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. Dengan semangat Al-Ma’un, Muhammadiyah hadir sebagai sosok yang berdiri paling depan dalam memanusiakan manusia. Menciptakan sebuah perkumpulan adalah salah satu ciri khas Muhammadiyah dalam menguatkan pergerakan. Begitu pun yang dilakukan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dengan menciptakan perkumpulan terutama di ranah mahasiswa.

Meneladani cara KH. Ahmad Dahlan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) HOS Tjokroaminoto dalam memulai pergerakan di awali dari masjid. Masjid di maknai bukan sekedar tempat ibadah namun juga tempat perkumpulan untuk melakukan sebuah kegiatan. Salah satunya adalah kegiatan diskusi. Bidang RPK IMM HOS Tjokroaminoto menginisiasi adanya diskusi rutin yang dinamakan dengan “Waktu IMM Berdiskusi (WIB)”, kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Selasa pukul 19.30 WIB bertempat di Masjid Kampus STIPRAM.

Pada kesempatan kali ini (Selasa, 19/02), Waktu IMM Berdiskusi (IMM) RPK IMM HOS. Cokroaminoto mengangkat tema “Peran IMM dalam Pemberdayaan Masyarakat” dengan pemateri Immawan Ridwan selaku Sekretaris Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat (SOSPEM) PC IMM Djazman Al Kindi.

Diskusi dibuka oleh pemateri dengan pemaparan konsep Kuntowijoyo, Ilmu Sosial Profetik yang didalamnya terdapat tiga pilar utama yaitu transendensi, liberasi, dan humanisasi. Disisi lain, IMM juga memiliki 3 konsep yang dikenal Trilogi dan Tri Kompetensi. Dalam Trilogi dan Tri Kompetensi juga terdapat konsep humanitas atau kemasyarakatan.

Pemateri menyampaikan, untuk memahami humanitas dapat di ibaratkan sebagai telur. Putih telur di ibaratkan sebagai altruisme sedangkan kuning telur adalah filantropi. Secara sederhana dimaknai kata filantropi sendiri sebagai cinta kemanusiaan. Contoh sederhana ketika kita ingin memberdayakan masyarakat, maka kita tidak memberikan ikan, karena ikannya akan habis. Bentuk filantropi dengan sekedar memberi sama halnya dengan memberikan kesenangan sementara. Bentuk pemberdayaan yang seharusnya dilakukan yaitu bukan dengan memberikan ikan, namun memberi pancing. Kenapa pancing? Karena secara sederhana pancing adalah alat untuk menangkap ikan. Pemberdayaan seharusnya memberikan alat bukan hasil.

Ada 3 upaya pemberdayaan diantaranya sebagai berikut.

  1. Pemberdayaan mikro artinya bentuk pemberdayaan yang terjun langsung ke masyarakat dalam hal membagi sesuai dengan keilmuan atau kemampuan yang dimiliki;
  2. Pemberdayaan Meso bisa dikatakan sebagai pemberdayaan dengan ngumpul bareng bersama masyarakat mendengarkan serta turut merasakan an Apa yang dirasakan masyarakat;
  3. Pemberdayaan makro jenis pemberdayaan yang mencoba merubah kebijakan membuat sistem sehingga mampu memihak ke masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat merupakan bentuk implementasi Trilogi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yaitu Humanitas. IMM dalam hal ini sebagai organisasi mahasiswa yang berisi kaum-kaum terpelajar hendaknya mampu mewujudkan implementasi humanitas tersebut. Di bangku perkuliahan maupun organisasi, banyak sekali teori-teori tentang pemberdayaan masyarakat. Kita sebagai mahasiswa dapat mengolah teori-teori tersebut menjadi suatu gerakan praktis pemberdayaan.

Mengutip kata Rendra, “Apa guna belajar filsafat kedokteran jika kamu pulang akan merasa asing dan pergi?”

 

 

Diedit oleh admin (r).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: