MARI BANGUN JOGJA BERSIH DARI SAMPAH

 

Peningkatan jumlah sampah yang dihasilkan di Daerah Istimewa Yogyakarta semakin bertambah seiring dengan perbaikan tingkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, hingga saat ini, penanganan dan pengelolaan sampah tersebut masih belum optimal. Pariwisata dan citra istimewa Yogyakarta pun terancam jika peningkatan sampah terus meningkat. Tepat tanggal 24 maret 2019 Tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Piyungan ditutup diakibatkan warga merasa dirugikan akibat penumpukan sampah di kawasan tersebut. Ditutupnya TPST Piyungan seolah menjadi alarm yang memanggil seluruh warga agar lebih peduli dengan pengelolaan sampah.

Mari melihat kebelakang kalau selama ini sebagian besar masyarakat masih memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berguna, bukan sebagai sumber daya yang perlu dimanfaatkan. Masyarakat dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir, yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah.

Paradigma pengelolaan sampah yang bertumpu pada pendekatan akhir sudah saatnya ditinggalkan dan diganti dengan paradigma baru pengelolaan sampah. Paradigma baru memandang sampah sebagai sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan, misalnya, untuk energi, kompos, pupuk ataupun untuk bahan baku industri. Pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dari hulu, sejak sebelum dihasilkan suatu produk yang berpotensi menjadi sampah, sampai ke hilir, yaitu pada fase produk sudah digunakan sehingga menjadi sampah, yang kemudian dikembalikan ke media lingkungan secara aman. Pengelolaan sampah dengan paradigma baru tersebut dilakukan dengan kegiatan pengurangan dan penanganan sampah. Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan, penggunaan kembali, dan pendauran ulang, sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir.

Namun, langkah itu adalah hilir dari aliran masalah. Jalan keluar terbaik justru harus dilakukan sejak dari hulu sampah, yaitu di tingkat rumah tangga atau diri sendiri dan seharusnya kebiasaan membuang sampah sembarangan harus di hindari mulai dari sekarang agar tidak menjadi suatu masalah besar dan kemudian mengakibatkan kerusakan lingkungan. Sehingga pentingnya kesadaran manusia kepada lingkungan agar mengolah sampah dengan baik agar tidak mencemari lingkungan. Tingkat kesadaran manusia yang kurang akan menimbulkan rasa ketidakpedulian akan kebersihan lingkungannya. Walaupun bukan sampah besar, sampah kecil pun bisa mengotori lingkungan kita, jika bukan dari kesadaran diri untuk tidak melakukan kebiasaan itu agar kita tidak membuang sampah sembarangan dan kemudian di cemari oleh masalah lingkungan siapa lagi yang akan menyadari nya. Mulailah dengan hidup yang taat pada peraturan walaupun itu hanya hal kecil saja, jika hal kecil itu menimbulkan permaslahan besar kenapa kita tidak menghindarinya. Mulailah berpikir bahwa lingkungan dan kebersihan penting bagi kehidupan kita semua.

Kata-kata sebagai pengantar dari penulis_IMMawan Ilhamsyah Muhammad Nurdin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: