Yang Pasti IMM Bukan Ikatan Mahasiswa Manja

Kucoba buka romantisme masa lalu antara Al-Gazali dan Ibnu Rusyd yang bercinta dengan kata-kata dan saling lempar kalimat dalam gagasan. Akhir-akhir ini ku menemukan keromantisan masa lalu itu terulang kembali dalam tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang beberapa hari lalu lewat kanal Ibties.id romantisme itu dibuka oleh IMMawan Muh. Akmal Hasan dengan mengangkat soal Ikatan Mahasiswa Manja (IMM) dibalas dengan cumbu mesra dengan mengatakan IMM Bukan Ikatan Mahasiswa Manja oleh IMMawan Ode Rizki Pratama ada juga IMMawan Irawan dengan judulnya Djazmanisme Anti-tesis Ikatan Mahasiswa Manja serta judul kita adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang ditulis oleh IMMawan Sirajudin.

Kurangkai kata demi kata ini yang kemudian menjadi kalimat dan membentuk paragraph dan akhirnya menjadi tulisan dengan judul “Yang Pasti IMM Bukan Ikatan Mahasiswa Manja” guna sebagai bentuk membangun semangat romantise dalam menulis (walaupun saya tak pandai menulis) yang dibangun oleh IMMawan Akmal, IMMawan Ode, IMMawan Irawan, dan IMMawan Sirajudin ternyata IMMawan semua yang bercumbu dalam gagasan walaupun tak saling pandang dan ditunggu suara IMMawati nya agar bercumbu dalam gagasan lebih indah dibaca.

IMMawan dan IMMawati dimanapun berada dan semua pembaca yang lagi santuy (Kata IMMawan Ode siapkan kopi dan rokok sebatang biar tetap santuy). Setelah membaca tulisan diantara diantara dua sosok IMMawan yang dimuat kanal Ibtimes.id yang lalu, pengen resanya menambah gagasan saya tapi tidak pada posisi membenarkan atau mensalahkan dua gagasan sebelumnya tapi lebih kepada menegaskan bahwasnya IMM itu bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi IMM itu adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Muncul Suara karena ada Bunyi

Menarik dari tulisan IMMawan Akmal yang mencoba megkritik organisasinya sendiri yang bisa saya bilang dia cinta akan organisasinya hari ini yang kemudian mencoba mengangkat pembahasaan soal benarkah IMM Manja? Yang diambil dari hasil pebincangan dengan kawan HMI yang mencoba memberikan pernyataan “IMM itu Ikatan Mahasiswa Manja”. Saya pikir ada benarnya juga ketika sebuah pernyataan dibutuhkan sebuah bukti argumentatif (seperti kata IMMawan Ode yang kemudian menyarankan membaca buku logika dan sepertinya saya perlu belajar apa itu logika). Akan tetapi adanya sebuah pernyataan seperti itu akibat dari ada yang sedang terjadi dilapangan dalam kaca mata teman HMI tadi dan coba dipaparkan oleh IMMawan Akmal dalam Tulisannya. Jangan sampai apa yang dirasakan IMMawan Akmal dirasakan oleh IMMawan dan IMMawati di tempat lain juga dan apa yang di sampaikan oleh IMMawan Ode sama juga dirasakan oleh IMM ditempat lain. Oleh karena itu, mari lihat IMM dari kacamata keseluruhan (kalau kata IMMawan Ode “Mari memakai kacamata yang lebih jernih melihat IMM secara lebih luas dan Kritis”). Kalau dari dua tulisan sebelumnya dalam kacamata sekitar wilayah Universitas Muhammadiyah Malang dan dari kacamata wilayah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sehingga butuh kacamata-kacamata lain untuk memandang IMM untuk menjawab suara akibat adanya bunyi (ditunggu tulisan romantisme IMMawan/I yang lain).

Yang pasti IMM itu bukan Ikatan Mahasiswa Manja

Tidak pernah terlepas dari romantisme masa lalu soal IMM (Bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) bahwasanya awal mula berdiri menjadi dasar bahwasanya Muhammadiyah membutuhkan anak-anak muda kaum inteklual yaitu mahasiswa sebagai martil Gerakan Muhammadiyah dikalangan kampus. Melihat romantisme masa lalu IMM (bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) jangan pernah kemudian menganggap kemudian membesarkan-besarkan kalau kelahirannya akibat dari desas desus dibubarkannya HMI dan dianggap sebagai penampung wadah kader HMI. Akan tetapi, jauh sebelum itu kelahirannya diakibatkan karena adanya keinginan Muhamadiyah membentuk perguruan tinggi juga di iringi dengan keinginan menghimpun mahasiswa Muhammadiyah dalam satu wadah organisasi. Sehingga hal tersebut terwujud dengan dibentuknya Departemen Kemahasiswaan yang kemudian menjadi Ihwal dari terbentunya IMM (bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Secara sejarah jelas kiranya IMM (bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang nantinya melanjutkan perjuangan Muhammadiyah kedepannya sehingga wajib hukumnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah (salah satu Amal Usaha Muhammadiyah)  memfasilitasi IMM (bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang berada di wilayahnya, karena secara konstitusi resmi diatur. Oleh karena itu, pemahaman akan identitas (baca: Ideologi) sangat penting untuk diketahui oleh kader Ikatan agar tidak sempit mengartikan permasalahan yang terjadi di Ikatan. Kader Ikatan yang tidak memahami akan identitas lebih tepat saya katakan kader manja seperti yang telah disampaikan IMMawan Akmal tapi tidak pada label organisaninya karena itu akan disanggah dengan apa yang disampaikan oleh IMMawan Ode karena IMM (bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) tidak terbatas di wilayah tertentu saja, akan tetapi hamper seluruh di wilayah Nusantara bahkan diluar. Proses kemanjaan ini yang perlu kita kembali dimaknai kepada oknum tertentu akibat lemahnya identitas. Maka dari itu, mari kita tanamkan identitas kepada kader sejak dini dan kembali melihat sejarah seperti IMMawan Irawan yang mencoba melihat sudut pandang tokoh pendiri IMM bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) sebagai anti tesis Ikatan Mahasiswa Manja.

Dalam kacamata saya pendalaman dan pemahaman akan ideologi IMM (bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) menjadi hal yang penting untuk kita maknai secara bersama dengan penafsiran yang berbeda sesuai kebutuhan tempat dan waktu. IMM hari ini perlu membuka pintu-pintu ijtihad baru untuk memaknai IMM (bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) dalam konteks waktu dan tempat yang pastinya tidak melepas ideologi sebagai pondasi dasarnya. Sebagai penutup, tulisan ini bukan untuk membantah tulisan-tulisan sebelumnya karena tulisan sebelumya bagi saya merupakan romantisme yang perlu dilanjutkan dengan tulisan-tulisan lainnya, tapi tulisan ini sebatas kata-kata pengantar untuk selalu mengingat pentingnya pemahaman akan identitas dasar Gerakan dan memastikan IMM itu bukan Ikatan Mahasiswa Manja tapi IMM itu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah seperti yang sudah ditegaskan oleh IMMawan Sirajudin kalau kita itu adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Dari Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Djazman Al-Kindi Kota Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: