DILEMA MAHASISWA….

Mahasiswa…… Suatu gelar yang saya dapatkan ketika saya melanjutkan studI ke perguruan tinggi. Duduk di pojok kelas sambil menikmati hidangan dari pengajar yang disebut dosen, kemudian pulang untuk menikmati kehidupan di perantauan.

Kehidupan di kampus selalu memiliki ceritanya, banyak hal baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Sekelompok orang yang berkumpul mendiskusikan isu terbaru; sebagiannya lagi sibuk mengamankan acaranya; banyak pula yang sibuk dengan soal-soal dan laporan kuliahnya; ada pula yang matanya sayu, langkahnya cepat, dan bicaranya tertata ketika menyuarakan pemberdayaan masyarakat, pencemaran lingkungan dan semacamnya; kadang juga saya melihat sudut-sudut kampus yang diwarnai oleh Mahasiswa yang berdebat tentang kondisi birokrasi kampusnya, kebijakan kampus, dan tak lepas juga dari buah bibir mereka kritikan terhadap pemerintah; tidak sedikit juga yang lebih memilih menghubungkan wifi smartphone nya kemudian bersandar sambil scroll medsos kesukaannya.

Saya mungkin termasuk orang yang penasaran, membantu mengeluarkan kursi agar esok acaranya terlihat rapi, terkadang juga beragumen mengungkapkan kebenaran yang saya yakini dalam hangatnya forum diskusi, kemudian saya juga mengikuti komunitas olahraga yang saya senangi. Namun, tak sedikit pula yang memilih menjadi objek saja. Mereka berangkat dari kosnya, kemudian duduk di pojok kelas, lalu pulang dengan membawa tugas dan laporan kuliahnya, lalu jadilah mereka robot-robot yang siap bekerja, menjadi budak berpendidikan. Alasannya pun beragam ketika saya mengajak mereka untuk  menyisihkan waktu demi bermanfaat bagi sesama, ada yang mengatakan “aku mau fokus akademikku”, ada juga yang berdalih “saya ingin fokus menghafal al-Quran dan belajar agama”, dan tak sedikit pula yang memilih kalah dengan rasa malas dan kita tidak membahas kelompok orang yang ini.

JUJUR

Sebenernya saya tidak mempermasalahkan kalau memang itu yang mereka tujukan, toh latar belakang setiap orang berbeda-beda, lahir dari kondisi keluarga yang berbeda, dan memiliki pemikiran serta prioritas yang tidak sama. Namun, jujurkah ketika kata-kata itu keluar dari mulut mereka. saya teringat Muhammad shalallahu alaihi wassalam, beliau bukan hanya seorang Rasul, namun juga seorang panglima perang. Bukan hanya pemimpin negara, namun juga menanggung beban risalah. Kalau saja Rasulullah hanya mementingkan akademik sahabatnya tidaklah perlu Rasulullah membentuk suatu tatanan Negara, melainkan cukup membuka majlis Ilmu…. Teringat saya oleh seorang pemimpin terbaik yang melalui perkaderan panjang hingga akhirnya dapat menaklukan Konstantinopel yang pada saat itu nyaris tidak mungking kota itu ditaklukkan. Muhammad al-Fatih, biasa kita menyebutnya, seorang pemimpin yang bukan saja lihai lidahnya memurojaah hafalan al-Qur’an, namun juga mahir tangannya mengayuhkan pedang, tidak hanya luas ilmunya, tetapi juga akurat sasaran anak panahnya, dalam berfikirnya dan luas kebermanfaatannya.

It’s Okay

Baiklah, kalau anda memaksa tetap ingin fokus terhadap prestasi akademik anda, but I want you JUJUR. Oke, bisakah ketika saya rapat selama 2 jam dan disaat yang sama anda memanfatkan waktu itu untuk murajaah pelajaran kuliah anda?, bisakah ketika yang lain memikirkan permasalahan masyarakat sedangkan anda sibuk mengikuti lomba untuk melengkapi prestasi akademik anda?, bisakah anda lulus dengan predikat cumloude?. Kemudian anda yang mengaku ingin fokus menghafal al-Qur’an dan belajar agama, hmm baiklah, bisakah anda ketika orang lain menghabiskan 1 periode suatu organisasi dan disaat yang sama anda menyelesaikan hafalan 5 juz misalnya?, bisakah anda lulus kuliah telah khatam 5 kitab ulama misalkan?, atau apapun yang menjadi alasan anda ketita enggan berorganisasi, MAKSIMALKANLAH!!!..

Terakhir, saya ingin mengajak anda melihat lebih dekat lagi, akhir 2019 lalu ditetapkan mawapres Universitas Ahmad Dahlan, Peringkat pertama diraih oleh Hudzaifah Saiful Haq (Ketua Umum IMM Fast 2019/2020-Sistem Informasi), peringkat kedua diraih oleh Bayu Selo Aji (Ketua Bidang Ekowir IMM BPP 2019/2020-BK) dan peringkat ketiga diraih oleh Nadia Afina Zulfa (Ketua Bidang Hikmah IMM Psikologi 2019/2020). Merekalah Cendekiawan berpribadi, kader IMM yang memiliki trikompetensi, yang dapat mendamaikan antara organisasi, prestasi dan ngaji.

Oleh:

IMMawan Edy

(Ketua Umum PK IMM Komisariat Farmasi 2019-2020)

4 tanggapan pada “DILEMA MAHASISWA….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: