Dinamika Perkaderan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah lembaga perkaderan islam yang berlandaskan ideologi Muhammadiyah (deklarasi setengah abad IMM poin ke 1) seruan tekstual secara khusus sebagaimana terncantum dalam poin ke 1 deklarasi setengah abad IMM menjadi spirit tersendiri untuk setaip kader-kader khsusunya pada tingkatan komisariat dan pimpinan cabang untuk mampu menjawentahkan pentingnya strategi dalam perkaderan secara nyata. Tentunya seruan ini memiliki alasan kuat untuk kemudian dideklarasikan, dimana pentingnya perkaderan sebagai persiapan generasi-generasi penerus dimasa depan. Karena definisi kaderisasi disini  ialah bagaimana kita memimpin saat ini dan bagaimana kita harus mempersiapkan generasi yang akan datang. Melihat secara lebih jauh bahwa landsan perjuangan IMM merupakan kepribadian muhammadiyah, menjadi sebuah keniscayaan bahwa IMM agar selalu mempersiapkan para kader penerus perjuangan sesuai dengan tujuannya.

Selain dari pada itu, arah dari pada perkaderan IMM melalui penciptaan sumber daya manusia yang mempunyai sikap kritis, dinamis, berintregitas serta logis sehingga transformasi dalam perkaderan ini bisa di implementasikan melalui pencipataan kader persyarikatan, bangsa, dan umat sesuai dengan perkembangan zaman, tentu hal dalam hal ini akhlakul karimah menjadi sesuatau tidak bisa untuk dilupakan, serta memilki komitmen perjuangan melalukan dakwah mar makruf nahi munkar dalam berIMM. Sesuai dengan falsafah perkaderan yang dimana mengembangkan uswah khazanah , pedagogi-kritis dan hikmah.

Saat sebagai para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dimana terjadinya degradasi sebuah peran serta keyakinan untuk dapat berdakwah amar makruf nahi munkar telah menjadi persoalan utama. Dilihat dari perkembangan zaman dimana telah menghadirkan format baru berupa instanisasi serta sebuah modernisasi sudah mereduksi peran para kader. Oleh karena itu IMM dalam sebuah garis gerakannya berupaya untuk bisa membangun nalar kritis serta membangub akhlak yang profetis cernderung berkutan pada kesibukkan parsialis.

Maka hal demikian menjadi analisis tersendiri dalam sebuah kaderisasi untuk bisa mewujudkan kader-kader yang siap berjuang menghadapi tantangan antar gerakan mahasiswa, namun sering menjadi persoalan sendiri bahwa kurangnya standar opreasional prosedur untuk agenda-agenda perkaderan, bisa dilihat terhadap penyelenggaran darul arqom dasar bagi setiap kader ikatan untuk menuntuaskan perkaderan utama tingkat pertama dianggap berhasil. Akan tetapi sering kali metode pelaksanaannya kurang adanya studi atau riset terlebih dahulu akan dibawa kemana para kader ini sesungguhnya apakah diarahkan menjadi seorang kader bangsa, umat ataupun persyarikatan, atau bisa dibilang orientasinya yang belum terarahkan secara jelas setelah mereka menuntaskannya di Darul Arqom Dasarnya. Hal ini masih jauh dari pada harapan terbukti tidak semua kader yang sudah menuntakan perkaderan awal banyak yang mencari jati dirinya diluar imm entah yang merasa tidak menemukannya diIMM atau bahkan faktor ekternal lain diluar sana tanpa ada persiapan matang, oleh para sebagaian pimpinan. Faktor tersebut terjadi bukan semata-mata terjadi begitu aja melainkan salah satu sebabnya karena kurangnya persiapan secara matang dan analisis kader hanya sebatas formalitas, sehingga pelaksanaan darul arqom dasar tersebut cenderung lebih menjadi formalitas atau hanya menggugurkan kewajiban semata. Ini bukan hanya menjadi tanggung jawab bagi bidang kaderisasi melainkan tanggunngjawab secara kolektif.

Selain dari pada itu persoalan yang sering kali dijumpai selama ini pada dasarnya adanya ekspetasi yang cukup besar terhadap perkaderan formal. Seakan-akan dengan adanya perkaderan formal, proses perkaderan menjadi selesai. Padahal, penentu yang lebih besar terhadap proses perkaderan setelah adanya perkaderan formal atau bisa dikatakan rencana tindak lanjut. Dimana proses kader lebih banyak berintraksi dengan sesama kader, pimpinan dan gerakan lain diluar dari pada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Proses interaksi ini akan memunculkan bermacam-macam persoalan, saat proses interaksi kadang kala kurang teratur secara sistematis melalui perkaderan jenjangnya seperti Mataf, latihan dasar ikatan dan sebutan lainnya, bahkan pada tingkat perkaderan formal tingkat pertama akan jauh dari pada harapan sebelumnya. Karena seringkali proses dari pada analisis terhadap kader tidak dijalankan secara baik dan mendasar. Maka berangkat dari hal ini tidak bisa disalahkan pula apabila kadang ada beberapa kader  justru menghilang entah kemana setalah menjalankan perkaderannya, menjadi pertanyaan sendiri memang siapakah yang salah?apakah kadernya sendiri?atau justru pimpinannya itu sendiri yang salah? Inilah beberapa pertanyaan sering kali muncul dan dipertanyaan bahkan sering kali kita sendiri sulit untuk bisa menjawabnya.

Oleh karena itu proses input dari pada perkaderan ini harus didasari dengan analisis akurat, sehingga pelaksanaan perkaderan bukan sebatas formalitas belaka atau hanya menggugurkan kewajiban dari progam kerja ditingkat pimpinan komisariat khususnya serta cabang pada umumnya. Karena kebanyakan agenda-agenda perkaderan non stuktural yang bisa dijadikan faktor pendukung hanya sebatas wacana-wacana begitu saja, sehingga jarang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini menampakkan dirinya sendiri sebagai organisasi pergerakan. Dan bisa dibilang akan kelihatan gerakannya ketika mendekati Pemilihan Umum Mahasiswa dari tingkat progam studi, Gubernur Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas, hingga Dewan Perwakilan Universitas dan Presiden Mahasiswa, ketika hampir sampai pada titik itu barulah kelihatan untuk belomba-lomba mengkader para kadernya secara baik untuk kemudian bersaing dengan gerakan-gerakan mahaisswa lainnya. Memang jika dilihat secara jauh pengisian di kursi-kursi Organisasi Kemahasiswaan sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan Ikatan di Perguruan Tinggi, kareena harapannya bisa mentransformasikan nilai-nilai Ikatan dengan semangat juangnya sebagai ujung tombak muhammadiyah diranah kemahasiswaan, terlebih apabila itu Perguruan Tinggi Muhammadiyah, hal akan menjadi sebuah kewajiban tersendri untuk bisa dilakukan, karena bisa dibilang untuk menjaga amal usaha muhammadiyah itu, bukan menutup kemungkinan bagi Perguruan Tinggi lainnya.

Demi merealisasikan perkaderan yang baik dan dinamis maka dibutuhkan analisis mendalam bagi seluruh calon kader mulai dari mereka memasuki di IMM. Contohnya melalui scrining awal dengan menggali sedalam-dalamnya informasi dari kader, seperti bakat dan minatnya pada bidang apa, sehingga setelah terhimpun secara baik, sebagai alat dasar untuk merumuskan formulasi gerakannya supaya sesuai dengan harapan. Salah satu cara yang biasa dilakukan ialah dengan adanya pendekatan secar kultural, karena sering kali pendekatan ini bisa membuat para kader ini merasa nyaman ketika berada diIMM, dan gerakan non formal lainnya contoh nonkrong di alun-alun kota dan lain lain. Pemetaan dalam rangka perkaderan juga dibutuhkan terhadap kader dilakukan hal itu, dengan cara membaginya dengan beberapa tipe diantara contohnya sebagai berikut, (a) tipe akademis dimana ini lebih kepada sudy oriented, atau takut mennggalkan kuliah, banyak di kostan serta kurang bergalau maupun selalu mementinkan kuliah, dari pada mengorbankan waktu untuk berorganisasi, (b) tipe hendonis ia suka having fun berpenampilan modis, tentu tidak suka dengan suatu hal formal, (c) tipe religus dimana kader sedehrana tidak suka aneh-aneh dan selalu berhati-hati serta berorientasi pada hal-hal yang bersifat syari dan selalu haus dengan siraman-siraman qolbu. Itu lah bebeapa metode perkaderan yang bisa dilakukan untuk menyiapkan para kader siap menghadapi tantangan dan berproses lebih jauh.

Terakhir untuk dapat merealisasikan hal tersebut untuk bisa menjadikan kader IMM sebagai Inti dari persyarikatan Muhammadiyah yang progesif bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara serta sesuai dengan sisitem perkaderan Ikatan dan sistem perkaderan Muhammadiyah untuk bisa menjadi keberlangsungan tampuk pimpinan umat nanti dimasa akan datang. Peran kader disini untuk bisa mentransformasikan nilai yang berlaku di IMM dan Muhammadiyah menjadi misi utama dalam emembentuk spirit perjuangan kader menegakan amar makrif nahi munkar sehingga cita-cita baldatun tyaibatun wa rabbun ghafur terwujud.

Sehingga untuk membangun kesadaran ditingkat komisariat dan cabang dalam rangka perkaderan harus memahami kerangka-kerangka meliputi dimensi praksis serta tidak hanya sebatas teoritis semata, sehingga dengan hal itu kader Ikatan Mahasiswa Muhmmadiyah benar-benar menjadi inti gerakan.

Oleh:

IMMawan Wahyu Tri (Bendahara Korps Instruktur Djazman al-Kindi 2019-2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: