ANTARA BAIK DAN BURUK SELIPKAN FASTABIKUL KHAIRAT

 

Dari kaca mata filsafat, saya mencoba memandang filsafat yang selalu berbicara terkait pembahasan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi (Cabang-Cabang FIlsafat). Dalam cabang-cabang filsafat tersebut  yang bicara akan baik dan buruk lebih kepada pembahasan pada cabang aksiologi yang kemudian akan berbicara teori akan nilai yang kemudian dipetakan akan estika dan estetika. Etika, Moral dan Norma selalu menjadi pembicaraan yang kemudian menjadi keterbalikan akan arti diantaranya, segingga sedikit disini perlu menjabarkan akan apa itu etika, moral, dan norma. Etika akan berbicara soal ilmu tentang apa  yang baik dan apa yan buruk, kalua moral diartikan sebagai ajaran atau pengetahuan tentang baik buruk yang mengenai perbuatan, sikap, budi pekerti dll, sedangkan norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat wara kelompok di masyarakat, dipakai sebagai pedoman atau panduan tatanan dan pengendali tingkah laku yang sesuai.

Baik dan buruk kiranya akan selalu manjadi justifikasi masing-masing orang bahkan kelompok yang kiranya selalu mengkau baik dan mengatakan selain kelompok mereka buruk dengan norma yang dipakai masing-masing identitas. Sehingga baik etika,moral maupun norma akan  selalu hadir dalam membahas terkait baik dan buruk. Dalam buku akhlak tasawuf karangan Adudin mengartikan baik  sebagai sesuatu yang menimbulkan rasa keharuan dan kepuasan, kesenangan, persesuaian dan seterusnya. Sesuatu dikatakan baik bila ia mendatangkan rahmat, memberikan rasa perasaan senang dan bahagia, dihargai secara positif, sedangkan buruk diartikan sebaliknya dari baik, bis seperti tidak seharusnya, tidak sempurna dalam kualitas, dibawah standar, kurang dalam nilai, tak mencukupi dan dimaknai dengan segala yang tercela yang sederhananya buruk adalah perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku.

Terus kiranya Apa yang menjadi ukuran antara seseorang dikatakan baik dan seseorang itu dikatakan Buruk?

Jikalau berbicara soal ukuran, maka kita juga akan memandang norma-norma yang berlaku. Norma yang berlaku yang kemudian bisa dipakai untuk semua kalangan adalah norma yang duberikan Tuhan langsung kepada kita, karena tidak akan bertentangan dengan norma yang ada pada wilayah satu dengan wilayah yang satunya. Sehingga ukuran baik dan buruk tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada manusia yang dengan intuisi maupun akalnya dalam membentuk norma yang kemudian menjadi ukuran baik dan buruk (hasil akal maupun intusi seperti adat istiadat, aliran-aliran moral, dll). Oleh karena itu, ukuran yang pasti atau tidak spekulatif, obyektif, komprehesif,  dan universal untuk menentukan baik dan buruk hanyalah al-Qur’an dan Sunnah.

Diantara baik dan buruk akan selalu hadir dalam diri manusia dalam menilai orang.Apapun  yang kita kerjakan dengan niat baik akan selalu ada yang kemudian beberapa orang mengatakan itu baik ,beberapa orang lain akan mengatakan apa yang kita kerjakan buruk dan itu adalah fitrahnya manusia yang kemudian dalam sudut pandangnya berbeda-beda dalam memandang apa yang kita kerjakan. Oleh karena itu semboyan Fastabikul Khairat  yang artinya berlomba-lomba dalam kebaikan selalu digaungkan dan dikerjakan sebagai bentuk kata semangat dan motivasi untuk melakukan sesuatu walaupun ada beberapa orang memandang itu baik atau buruk, berlomba-lomba dalam kebaikan lah karena potensi perkataan baik dan buruk selalu ada.

Fastabikul khairat!!!

By. IMMawan Ilhamsyah Muhammad Nurdin (KETUM PC IMM Djazman al-Kindi Kota Yogyakarta 2019-2020)

Ditulis dalam diskusi Talk Show Mahasiswa Peduli Moral yang di adakan oleh Pimpinan Komisariat Non PTM di Cabang Djazman-alkindi dan Cabang Bantul.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: