Sosiologi Masyarakat Urban

Masyarakat Urban/Masyarakat kota juga masyarakat yang bisa dikatakan masyarakat peralihan dari pedesaan menjadi kekotaan. Seperti yang kita kerahui bahwa masyarakat pedesaan di Indonesia adalah masyarakat yang tergolong masyarakat yang tertinggal karena memang jauh dari jangkauan pusat pembangunan nasional.

Di indonesia pertumbuhan masyarakat sangat melonjak cukup tinggi dan akan terus meningkat. Banyak masyarakat pedesaan yang mencoba merubah nasib dengan merantau untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di perkotaan. Mereka berfikir bahwa kota besar adalah tempat mata pencaharian terbesar dan juga tempat mendulang kesuksesan, alasan masuk akalnya adalah karena nilai UMR yang lebih tinggi daripada di kampung  halaman hal tersebut yang membuat mereka berbondong – bondong untuk merantau ke kota besar. Faktor berikutnya adalah karena gengsi ingin dipandang sebagai orang sukses, hal seperti ini masih sangat melekat di kehidupan masyarakat. Banyak yang ingin dipandang sebagai orang yang sukses dengan hidup di kota besar. Meskipun pekerjaan mereka hanyalah seorang pengamen, pemulung dan lain – lain. Mereka nggak mempermasalahkan yang penting bisa hidup di kota besar. Realitanya memang apa yang mereka pikirkan tentang kehidupan di kota besar tidak sebaik yang mereka bayangkan. Begitulah beberapa pola pikir dan gaya hidup masyarakat urban yang akan coba untuk di bahas dan di jelaskan tentang ruang lingkup dan keadaan sosial masyarakat urban.

Kondisi sosial masyarakat urban merupakan peralihan dari pola masyarakat pedesaan menjadi kekotaan yang selalu menjadi perbincangan. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu dipahami dan di mengerti mengenai sosiologi masyarakat urban diantaranya adalah:

  1. Perbedaan Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan
  2. Pola Pikir dan Gaya hidup Masyarakat urban
  3. Perubahan & Dinamika sosial dalam masyarakat
  4. Sosiologi Ekonomi dan Keswadayaan Masyarakat

 

Perbedaan Masyarakat Perkotaan & Pedesaan

Masyarakat perkotaan atau masyarakat yang berpindah dari desa ke kota yang biasa lebih kita kenal juga dengan urban community. Sebenarnya makna dari masyarakat kota sendiri lebih ditekankan pada sifat hidup serta ciri atau pola hidup mereka yang memiliki beberapa hal lebih menonjol daripada masyarakat pedesaan, diantaranya:

  1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan kehidupan keagamaan di desa.
  2. Orang di perkotaan umumnya dapat lebih mandiri dan jarang bergantung terhadap orang lain.
  3. Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
  4. Pembagian waktu atau manajemen waktu yang harus teliti dan sangat penting untuk mendapatkankebutuhan individu.
  5. Perubahan sosial lebih sering terjadi karena kota biasanya sangat terbuka dalam menerima pengaruh luar.

Masyarakat Pedesaan atau rural community sangat identik dengan ikatan perasaan yang kuat antar warga/anggota masyarakat. Adapun cirinya antara lain sebagai berikut:

  1. Hubungan yang lebih mendalam dan erat antar sesama warganya.
  2. Gaya hidup yang berkelompok dengan dasar kekeluargaan
  3. Mata pencaharian sebagian besar di hasilkan dari sektor pertanian

Menurut soerjono soekamto (1986), masyarakat kota dan masyarakat desa memiliki perhatian yang berebeda,khususnya perhatian terhadap keperluan hidup. Di desa,yang diperhatikan adalah keperluan pokok,fungsi  – fungsi yang lain di abaikan. Sedangkan masyarakat kota melihat selain kebutuhan pokok, pandangan masyarakat sekitarnya sangat diperhatikan. Misalkan ketika menghidangkan makanan, di usahakan yang menghidangkan harus memberikan kesan bahwa memiliki kedudukn sosial yang tinggi. Di sini terlihat perbedaan penilaian orang desa menilai makanan untuk memenuhi kebutuhan biologis ,sedangkan orang kota lebih ke alat pemenuh kebutuhan sosial.(Elly M. Setiadi dan Kama A. Hakam,2013: p.88)

Sebenarnya perbedaan antara masyarakat urban atau perkotaan dengan desa bersifat gradual/ Sulit memberikan batasan karena adanya gejala sosial seperti urbanisme peralihan dari masyarakat desa ke kota dan tidak semua daerah dengan kepadatan penduduk tinggi disebut masyarakat kota/urban. (Latifah,2008,tentang masyarakat urban,Http://staf.blog.ui.ac.id, diakses 18 januari 2018)

 

Pola pikir dan gaya hidup masyarakat urban

Pola pikir sangatlah berperan penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pola pikir kana membentuk perilaku, sikap dan tanggung jawab terutama dalam kehidupan bermasyarakat. Pola pikir individualisme masyarakat kota yang sudah mendarah daging sangat susah kita rubah karena kondisi perkotaan yang membentuk mereka bahwa memiliki hidup yang cukup untuk diri sendiri dan keluarganya sudah cukup daripada ikut mengurusi hidup orang lain. Mereka cenderung bersifat kompetitif dan saling gengsi satu sama lain. Hal tersebut juga dapat berdampak negatif, kita ambil contoh sederhana masyarakat kota sengaja membangun rumah bertembok tinggi dan dijaga oleh anjing untuk keamanan. Padahal dengan tembok yang tinggi dan hanya dijaga oleh anjing justru memudahkan bagi pencuri untuk masuk masuk dengan memberi makan anjing dan dengan mudah masuk tanpa di ketahui tetangga sekitar karena tembok yang tinggi. Berbeda dengan orang desa yang rumahnya jarang bertembok dan jarang pula di masuki pencuri. Selain itu juga karena mereka percaya dengan tetangganya jika terjadi hal – hal yang tidak diinginkan mereka akan saling memperingatkan satu sama lain.

Gaya hidup masyarakat urban/kota bisa dibilang gaya hidup yang selalu mengikuti perubahan zaman. Selalu glamor dan konsumtif terhadap produk baru baik dalam hal fashion,teknologi,dan lain – lain. Misalkan seperti tahun 2010 diramaikan oleh musim berbusana tahun 1990-an dengan baju kedodoran ala hip – hop . bahkan gaya fashion di tahun 2017 mengarah ke tahun 1970-an. Dalam berbusan baju dress panjang untuk wanita dan setelan jas juga masih mendominasi masyarakat urban. (acer,2017,apa saja ciri khas gaya hidup masyarakat urban?(Http://www.acer.id.com, diakses 19 januari 2018).

 

Perubahan & Dinamika sosial dalam masyarakat

Pada pembahasan sebelumnya mengenai pola pikir dan gaya hidup masyarakat urban selalu mengikuti perubahan zaman hal tersebut juga selaras dengan perubahan sosial dalam masyarakat yang terjadi akibat modernisasi dan globalisasi yang terjadi di tengah masyarakat indonesia.

Arus modernisasi dan globalisasi adalah sesuatu yang pasti terjadi dan sulit dikendalikan, terutama karena begitu cepatnya informasi yang masuk dan masyrakat daerah perkotaan yang sangat terbuka terhadap hal baru. Masyarakat di indonesia menghadapi kewajiban ganda, di satu pihak melestarikan budaya bangsa dan di pihak lain membangun kebudayaan nasional yang modern.

Tujuan akhir dari kedua usaha atau kewajiban ini adalah masyarakat modern yang tipikal indonesia, masyarakat yang tidak hanya mampu membangun dirinya sederajat dengan bangsa lain, tetapi juga tangguh meghadapi tantangan kemerosotan mutu lingkungan hidup akibat arus ilmu dan teknologi modern maupun menghadapi tren global yang membawa daya tarik kuat ke arah pola hidup yang bertentangan dengan nilai – nilai luhur bangsa (indra siswarani,2006: p.16 ; M. Setiadi dan Kama A. Hakam,2013:p.62)

 

Kecenderungan terjadinya perubahan sosial merupakan gejala yang wajar timbul dari pergaulan hidup manusia di dalam masyarakat. Perubahan sosial juga akan terus berlangsung sepanjang masih terjadi interaksi antarmanusia dan masyarakat. Hal tersebut juga tentunya berdampak pada sosiologi masyarakat terutama masyarakat urban karean bermukim di wilayah kota – kota besar yang sangat terbuka terhadap hal – hal baru. (Asep saeful M,2016 : p.90)

Ralf Dahrendolf menyebutkan bahwa perubahan sosial tidak hanya datang dari dalam, tetapi dapat juga dari luar masyarakat. Perubahan dari dalam masyarakat tidak selalu disebabkan konflik sosial dan bahwa selain konflik kelas terdapat pula konflik sosial yang berbentuk lain.(Bajgja Wahluya,2009:p.56)

Memang dalam dinamika sosial memunculkan beberapa perubahan sosial yang nantinya pun juga menimbulkan beberapa konflik baik antara individu dengan individu maupun individu dengan kelompok atau kelompok terhadap kelompok. Karena pada dasarnya kaum urban merupakan kelompok yang heterogen berasal dari berbagai daerah banyak dari mereka para pendatang yang menempati kota – kota besar sebut saja jakarta, bandung, surabaya, bekasih, depok dan lain – lain. Dengan bertambahnya jumlah pendatang otomatis terjadilah inflasi kependudukan kota – kota besar kian padat tiap tahunya.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta Edison Sianturi mengatakan, anggapan untuk bisa mendapatkan lapangan pekerjaan yang lebih mudah menjadi salah satu pemicu mengapa banyak masyarakat daerah berbondong-bondong datang ke Ibu Kota, terjadi kenaikan jumlah penduduk menjadi 10,1 juta atau naik 1,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Pada 2016, angka jumlah penduduk naik sebesar 1,1 persen atau menjadi 10,3 juta penduduk. (Heru sri kumoro,tren pertambahan jumlah penduduk terus terjadi di jakarta,Http://megapolitan.kompas.com, diakses 19 januari 2018).

dari padatnya penduduk pun muncul berbagai konfik diantaranya karena gejala urbanisme peralihan dari rural community (masyarakat desa) menjadi urban community (masyarakat kota). Yang juga dapat menimbulkan perubahan sosial terhadap masyarakatnya. Dan menimbulkan kelas – kelas sosial dalam masyarakat.

Teori Konflik (Conflict Theory)

Menurut teori ini, konflik berasal dari pertentangan kelas antara kelompok tertindas dan kelompok penguasa sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini berpedoman pada pemikiran Karl Marx yang menyebutkan bahwa konflik kelas sosial merupakan sumber yang paling penting dan berpengaruh dalam semua perubahan sosial. Ralf Dahrendorf berpendapat bahwa semua perubahan sosial merupakan hasil dari konflik kelas di masyarakat. la yakin bahwa konflik dan pertentangan selalu ada dalam setiap bagian masyarakat. Menurut pandangannya, prinsip dasar teori konflik yaitu konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat dalam struktur masyarakat. Teori ini menilai bahwa sesuatu yang konstan atau tetap adalah konflik sosial, bukan perubahan sosial karena perubahan hanya akibat dari adanya konflik tersebut. Karena konflik berlangsung terus-menerus, perubahan juga akan mengikutinya.( Bajgja Wahluya,2009:p.57)

Sosiologi Ekonomi dan Keswadayaan Masyarakat.

Hubungan antara sosiologi dan ekonomi tentunya sangat erat kaitanya karena proses ekonomi sesungguhnya dibangun dari sebuah interaksi sosial. Maka timbul pertanyaan apakah sebenarnya ekonomi merupakan fenomena sosial atau gejala ekonomi yang terpisah dari aspek sosialnya.

Bila ekonomi melihat dari konteks ekonomi masyarakat dari aspek produksi,distribusi dan konsumsi. Sosiologi melihat masyarakat dari sisi yang lebih luas. Sebab fokus sosiologi lebih terarah kepada aspek perilaku sosial yang bergerak kepada pola – pola yang bermakna. Jadi memang ekonomi juga termasuk kedalam salah satu gejala sosial karena di dalamnya juga terdapat interaksi sosial dalam proses produksi,distribusi dan konsumsi.(Peni Chalid,2009:p.5)

Jadi bisa kita lihat bahwa memang sosiologi dan ekonomi merupakan kesatuan. Kita analogikan bahwa sosiologi masyarakat akan menimbulkam sebuah pola semacam gaya hidup seperti contoh masyarakat urban dengan gaya hidup konsumtif dan glamor yang menimbulkan fenomena di bidang ekonomi seperti bermunculanya produk – produk terbaru masyarakat urban/kota tentunya sangat tergiur karena gaya hidup mereka yang sangat konsumtif dan kompetitif syarat akan gengsi ingin memberikan kesan bahwa mereka memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat. Walaupun pada dasarnya tidak semua masyarakat urban/kota adalah orang yang bergelimang harta. Hal tersebut juga karena masyarakat urban yang heterogen di dalamnya ada juga masyarakat rural yang menjadi penndatang dan bertransformasi seketika ke kehidupan urban.

Karena berbagai macam konflik yang timbul tentunya harus ada sebuah solusi yang dapat mencapai sebuah kesejahteraan sosial. Dan dalam realita kehidupan bermasyarakat  dan bernegara memang pada umumnya perwujudan kesejahteraan menjadi tanggung bersama antar masyarakat. Disini masyarakat juga bukan hanya bereperan sebagai objek tapi juga sebagai subjek yang menjadikan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik lagi

Menurut Hardiman dan Midgley(1982: 178). Dikatakannya, bahwa kondisi kesejahteraan masyarakat di negara – negara berkembang dapat ditingkatkan secara signifan apabila apabila ada partisipasi masyarakat secara luas. Di samping itu ,pelayanan tersebut dan ikut terlibat dalam penyediaan pelayanan. Dengan demikian masyarakat lokal terutama masyarakat rural tidak hanya di beri pendidikan untuk menyadari kebutuhanya, akan tetapi juga perlu di dorong untuk secara mandiri melakukan upaya dalam rangka mencapai kesejahteraan rakyat. Bila itu tercapai sekat antara masyarakat urban dan rural bisa mungkin kita atasi dengan cara positif selain dari akibat gejala sosial seperti urbanisme.(Soetomo,2012:p.108)

Adapun kesimpulan dari permasalahan di atas bahwa sosiologi masyarakat dan ekonomi adalah sebuah kesatuan. Karena keterlibatan masyarakat dalam proses ekonomi dan adanya interaksi sosial yang terjadi dalam proses ekonomi itu sendiri. Dengan analisis menggunakan problem solving Faktanya: Pola hidup konsumtif masyarakat urban/Kota berdampak pada sektor produksi perekonomian. Masalahnya: Membludaknya populasi masyarakat urban/kota akibat gejala urbanisme menimbulkan beberapa kelas sosial karena tak semua masyarakat urban adalah orang berkedudukan dan memiliki harta melimpah. Dan solusinya: adalah ada pada masyarakat itu sendiri dengan keswadayaan masyarakat yang meningkat untuk mencapai sebuah kesejahteraan sosial maka masyarakat juga harus berperan aktif sebagai aktor perubahan.

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna. Kedepanya penulis akan lebih fokus lagi untuk menulis dan coba untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang permasalahan – permasalahan mengenai dinamika sosial yang terjadi pada masyarakat urban.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan dalam tulisan ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang di peroleh. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

 

DAFTAR PUSTAKA

Effendi,Ridwan. 2007,Ilmu Sosial Budaya dasar Ed 3,PT Fajar Interpratama mandiri, Bandung

Saebani A,Beni. 2016, Perspektif perubahan sosial , Pustaka setia, Bandung

Soetomo. 2012, Keswadayaan Masyarakat Manifestasi Kapasitas masyarakat untuk berkembang secara mandiri, Pustaka pelajar, Celeban Timur Yogyakarta

Chalid,pheni. 2009, Sosiologi Ekonomi , UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Waluya,Bagja. 2009, Menyalami fenomena sosial di masyarakat, Departemen Pendidikan Nasional,PT. Pribumi mekar,jakarta

Latifah,2008,tentang masyarakat urban,Http://staf.blog.ui.ac.id, diakses 18 januari 2018

Acer,2017,Apa sih ciri khas dan pola pikir masyarakat urban, Http://www.acer.id.com, diakses 19 januari 2018

Heru sri kumoro, 2018 ,tren pertambahan jumlah penduduk terus terjadi di jakarta,Http://megapolitan.kompas.com, diakses 19 januari 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: