MANIFESTO GERAKAN PROFETIK MULTIKULTURALISME

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
( Q.S. Al-Hujurat : 13)

Indonesia merupakan bukti nyata perkataan Tuhan, karena kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas menyebabkan Indonesia menjadi negara yang multi etnis, multi ras, multi budaya dan multi agama. Wilayahnya yang luas yang terdiri dari ribuan pulau, keragaman budaya, suku, ras dan agama adalah sebuah kekayaan yang dimiliki bangsa ini. Keragaman kebudayaan oleh masyarakat lazim disebut multikultural. Akan tetapi, keragaman tidak hanya sebatas keberagaman budaya saja melainkan suatu kemestian agar setiap kesadaran
akan adanya keberagaman, mesti ditingkatkan lagi menjadi apresiasi dan dielaborasi secara positif, pemahaman ini yang disebut sebagai multikulturalisme.

Multikulturalise merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan tentang keberagaman kehidupan di dunia, mencakup nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang dianut, di dalam suatu bangsa multikulturalisme merupakan sebuah keniscayaan. Keberagaman yang terjadi seharusnya dimaknai sebagai warna warni hidup, sebagai pelengkap antara satu dengan yang lainnya, bukan sebagai sesuatu yang aneh, yang harus dimusnahkan. Pandangan yang tidak dapat menerima kemajemukan hanya akan menghancurkan, baik individu
itu sendiri, kelompok, golongan, maupun bangsa. Kemajemukan tidak hanya terjadi dewasa ini, namun juga telah terjadi pada masa klasik. Masa klasik ialah masa yang dimulai dari tahun 600 M hingga 1250 M atau masa yang dimulai dari diutusnya Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir, yang kemudian kepadanyalah diturunkannya kitab suci Al-qur’an melalui malaikat Jibril untuk seluruh manusia di seluruh alam sebagai petunjuk dan pedoman.
Kedatangan Islam di Arab terjadi pada zaman jahiliyah, yakni masa yang menggambarkan kondisi penduduk Arab yang berada dalam ketidaktahuan, sebagaimana kata jahiliyah itu sendiri yang berasal dari kata jahala yang berarti bodoh atau tidak peduli. Kebodohan yang dimaksud ialah kebodohan atau ketidaktahuan terhadap petunjuk Illahi. Kala itu, banyak yang menyembah berhala, membuat patung-patung dari tangan mereka sendiri, dan kemudian menganggapnya sebagai Tuhan.

Menengok sejarah, maka akan ditemukan bahwa periode klasik dalam sejarah Islam merupakan periode pertumbuhan komunitas Muslim pertama. Komunitas ini menunjukkan identitas atas kesamaan kepercayaan, pandangan, dan perilaku sesuai dengan ajaran Islam. Sebagaimana yang telah dimulai pada masa nabi Muhammad SAW, komunitas pertama penganut  Islam berasal dari keluarga Nabi. Komunitas muslim pertama ini pula telah menunjukkan adanya keragaman kultur mereka masing-masing, sehingga ajaran Islam mulai akulturatif.
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, kepemimpinan digantikan oleh sahabat beliau, dan pada masa ini disebut dengan masa khulafaur rasyidin atau yang bermakna pemimpin seusai wafatnya nabi yang memiliki tujuan untuk melanjutkan tugas Nabi sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan. Khulafaur rasyidin terjadi pada pemerintahan abu bakar ash-shidiq, umar bin khattab, usman bin affan, dan ali bin abi thalib. Pada setiap masa pemerintahan khalifah ini, akan memiliki corak keberagaman yang berbeda. Bahkan keberagaman semakin bertambah setiap periodenya. Sebagaimana disadari setiap tahun akan bertambah kehadiran manusia. Setiap kepala memiliki pemikiran, pandangan, serta prinsip yang berbeda, yang sebenarnya dari pemikiran, pandangan inilah keberagaman terjadi, kebudayaan merupakan budi daya akal manusia. Sehingga menjadi wajar manakala
multikulturalisme berkembang setiap masa. Pada masa khulafaur rasyidin, politik dan sistem pemerintahan yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Rasullulah SAW, kendati terjadi pembaharuan diberbagai
tempat, dan kondisi. Misalnya saja pada masa khalifah umar bin khattab yang mulai memisahkan lembaga eksekutif dengan lembaga yudikatif yakni mendirikan pengadilan, kemudian juga membentuk baitul mal, membentuk pasukan kepolisian, dan juga pada masa usman bin affan yang menambah pos penjagaan di setiap perbatasan untuk memperketat pengawasan. Pada masa khulafaur rasyidin perkembangan Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan selanjutnya, yaitu pada masa Dinasti Umayyah di damaskus. Politik yang dikembngakan oleh dinasti umayyah yakni politik Arabisme. Namun, hal ini bukan berarti menjadikan komunitas yang berbasis monokultur (seragam), melainkan kebudayaan Arab-Muslim yang berbasis budaya etnis lokal. Sehingga komunitas Muslim berkembang dalam fenomena kebudayaan yang bercorak multikultur pada lingkup hegemoni politik arab. Hal ini dilakukan agar tidak menghilangkan budaya etnis lokal sebagai khasanah dan kekayaan bangsa damaskus sendiri, yang terpenting adalah etnis budaya lokal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran islam.
Perkembangan selanjutnya yakni terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah di Baghdad, Irak. Pada masa ini komunitas Muslim lebih bersifat eksogen, keragaman budaya yang terjadi karena adanya interaksi dengan budaya luar Islam dan luar budaya Arab. Fakta multikulturalisme dalam sejarah islam klasik memperlihatkan beragamnya
perkembangan komunitas Muslim, diantaranya: 1) periode awal Islam yakni terjadi pada masa nabi dan khulafaur rasyidin, pada masa ini komunitas muslim berbasis Arab atau memegang teguh tradisi ash-ashabiyyah al-qabaliyyah. Tradisi ini berperan penting dalam membentuk komunitas Muslim dalam menumbuhkan struktur sosial maupun pengembangan kebudayaan. 2) masa Dinasti Umayyah khususnya yang berpusat di Damaskus. Kebijakan arabisasi yang menekankan mono-kulturalisme. 3) masa abbasiyah, penyadaran akan hukum Islam, namun masih menjunjung
tinggi budaya dan nilai kearifan lokal.

Manifesto menurut kamus besar bahasa indonesia adalah suatu pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau suatu kelompok. Adapun bentuk atau contoh dari manifesto yaitu manifesto komunis, manifesto fasis, manifesto kebudayaan dll. Manifesto kebudayaan adalah konsep kebudayaan yang mengusung humanisme universal[2]. Manifesto Kebudayaan ini muncul diprakarsai oleh H.B Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo
Soekito, Zaini, Bokor Hutasuhut, Goenawan Mohamad, A. Bastari Asnin, Bur Rasuanto, Soe Hok Djin, D.S Moeljanto, Ras Siregar, Hartojo Andangdjaja, Sjahwil, Djufri Tanissan, Binsar Sitompul, Gerson Poyk ,Taufiq Ismail, M. Saribi, Poernawan Tjondronegoro, Ekana Siswojo, Nashar dan Boen S. Oemarjati [3]. Manifes Kebudayaan ini adalah bentuk respon dari teror-teror dalam ranah budaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tergabung dalam Lekra
(Lembaga Kebudayaan Rakyat) [3]. Oleh orang-orang Lekra, Manifesto Kebudayaan yang sering disebut Manifesto Kebudayaan diplesetkan oleh orang-orang Lekra menjadi manikebo yang artinya sperma kerbau [4]. Adapun sejarah dari manifesto kebudayaan yang ada di Indonesia yaitu dalam bentuk Naskah Manifesto Kebudayaan yang selesai dikerjakan oleh Wiratmo Soekito pada tanggal 17 Agustus 1963 pada pukul 04.00WIB. Kemudian naskah tersebut dapat diterima oleh Goenawan Mohamad dan Bokor Hutasuhut sebagai bahan yang akan diajukan ke diskusi pada 23 Agustus 1963 di Jalan Raden Saleh 19, Jakarta. Setelah disetujui, naskah tersebut kemudian diperbanyak dan disebarkan kepada beberapa kalangan seniman untuk dipelajari terlebih dahulu sebagai landasan ideologi [2]
. Dengan bertempat di Jalan Raden Saleh 19 Jakarta, pada tanggal 23 Agustus tepat pukul 11.00WIB diadakan rapat untuk membahas Manifesto kebudayaan. Rapat ini dihadiri oleh tiga belas orang yang terdiri dari kalangan seniman dan budayawan. Ketiga belas orang tersebut adalah H.B Jassin, Trisno Sumandjo, Wiratmo Soekito, Zaini, Bokor Hutasuhut, Goenawan Mohamad, A. Bastari Asnin, Bur Rasuanto, Soe Hok Djin, D.S Moeljanto, Ras Siregar,
Sjahwil, dan Djufri Tanissan[2] . Kemudian sidang panitia perumus yang berakhir pada pukul 02.30WIB memutuskan bahwa Manifestasi Kebudayaan dibagi dalam tiga bagian. Ketiga bagian itu dijabarkan menjadi Manifesto Kebudayaan, Penjelasan Manifesto Kebudayaan, dan Literatur Pancasila. Hasil rumusan ini akan dibawa ke dalam sidang lengkap yang akan diadakan pada 24 Agustus 1963 [2] . Pada tanggal 24 Agustus 1963 diadakan sidang pengesahan Manifesto Kebudayaan dengan pimpinan sidang Goenawan Mohamad dan sekretaris Bokor Hutasuhut.
Sidang ini dilaksanakan di Jalan Raden Saleh 19 Jakarta dan dimulai pada pukul 13.00 WIB. Atas nama panitia, Bokor Hutasuhut melaporkan hasil kerja panitia perumus yang telah menetapkan Manifesto Kebudayaan terdiri dari tiga bagian yaitu Manifesto Kebudayaan, Penjelasan Manifesto Kebudayaan, dan Literatur Pancasila. Secara aklamasi panitia menetapkan hasil sidang yaitu Manifesto Kebudayaan tidak bisa diubah lagi dan Manifesto Kebudayaan tidak apriori melahirkan organisasi kebudayaan. Kemudian, Manifesto Kebudayaan ini dipublikasikan lewat surat kabar
Berita Republik dalam ruang “Forum” Sastra dan Budaya No.1, Th I, 19 Oktober 1963 dan majalah Sastra No. 9/10, Th III,1963 [2].

Setelah melihat bentuk profetik kebudayaan yang kemudian menghasilkan satu bentuk falsafah kebudayaan maka dari itu saya mencoba mengajak pembaca untuk melihat dari sudut padang profetik untuk menghasilkan satu gerakan untuk multikulturarisme. Menurut pengertian dari KBBI profetik itu berkenaan dengan kenabian. Kenabian di sini menekankan pada aspek ketuhanan. Seorang yang hidup dalam lingkungan yang beragam baik agama, ras, etnis, bahasa maupun budaya tanpa aspek ketuhanan tidak akan berarti apa-apa. Mereka mampu memecahkan
permasalahan sosial yang ada namun pada akhirnya terbentur pada pertanyaan untuk apa mereka
memecahkan permasalahan sosial tersebut. Selama ini para filsuf ilmu sosial mencoba untuk memahami aspek teologis dari kacamata rasionalitas namun mereka pada akhirnya gagal karena tidak mampu membahasnya. Sementara Islam memberikan warna baru dalam aspek teologis ini.

Prof. Al-Tarsam mengatakan bahwa dalam membangun peradaban Islam, Rasulullah memulainya
dengan membangun fondasi pandangan hidup dan teologis ummat Islam (periode Makkah).
Sementara ketika ummat Islam hijrah ke Madinah, aspek ibadah dan keilmuan dikembangkan
untuk memperkuat aspek teologis yang sebelumnya telah diletakkan. Aspek teologis yang
dibangun di awal ini jelas menggambarkan pentingnya aspek ketuhanan dalam bermasyarakat,
sehingga Rasulullah memulai fondasi peradaban dari aspek ini.

Ilmu ketika disandingkan dengan aspek teologis akan bernilai ibadah. Ibadah, yang terdiri
dari ibadah maghdhah dan ghairu maghdhah, pada dasarnya adalah dua yang saling berkait.
Ibadah transedental seperti shalat, bukan sekedar hubungan vertikal seorang hamba terhadap
Tuhannya, tapi juga hubungan horizontal seseorang dengan masyarakatnya. Sebagaimana dalam
surat Al-Ma’un dijelaskan bahwa orang yang baik sholatnya adalah orang yang juga baik secara
sosial. Begitu juga dengan zakat. Secara zhahir balasan dari zakat adalah hubungan antara hamba
dengan Tuhannya, namun dampak dari zakat dirasakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya
individu.

Menurut Kuntowijoyo, gagasan profetik berpijak pada tiga elemen utama: humanisasi
(ta’muru bil ma’ruf), liberasi (tanhawna ‘anil munkar), dan transendensi (tu’minu billah). Konsep
ini berakar dari Al-Qur’an Surah Ali Imran: 110: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman
kepada Allah”. Konsepsi Kuntowijoyo diderivasikan dari tiga elemen yang Allah sebut sebagai
prasyarat umat terbaik tersebut.

Menurut Kuntowijoyo, Amar Ma’ruf (menyuruh kepada yang baik) tidak hanya berada
dalam konteks individual, melakukan kebaikan pada sesama. Ia harus ditransformasikan dalam
konteks sosial budaya. Kuntowijoyo menafsirkannya sebagai emansipasi manusia kepada fitrahnya: pada posisinya sebagai makhluk yang mulia. Inilah yang ia sebut sebagai humanisasi
teosentris: kembalinya manusia pada fitrahnya sebagai makhluk Allah yang diberi tanggung jawab
untuk mengelola bumi. Humanisasi berarti menebar kebaikan dengan titik pijak keadilan. Misi
humanisasi adalah menempatkan manusia sebagai khalifatullah fil ‘ardli, pemimpin di muka bumi,
yang mesti menjalankan misi keadilan. Upaya-upaya rekonstruksi ini perlu dijalankan dalam
konteks sosial-budaya, termanifestasi dalam ruang-ruang publik yang konkret, dan menjadikan
Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Sementara itu, Nahi Munkar (mencegah kemunkaran) juga tidak bisa hanya dimaknai
dalam kerangka individual. Secara sosial, nahyi munkar berarti pembebasan manusia atas
penindasan dari manusia lainnya, pembebasan dari segala bentuk kegelapan (zhulumat),
kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dsb. Juga pembebasan manusia atas kezaliman yang
dilakukan oleh manusia lainnya. Artinya, konsep nahyi munkar memiliki implikasi gerakan dan
struktural. Spirit pembebasan ini banyak ditemui dari puisi-puisi Kuntowijoyo, sebagaimana
penulis kutip di atas: “Karena kakiku masih di bumi, Hingga kejahatan terakhir dimusnahkan,
Hingga para du’afa dan Mustada’afin diangkat Tuhan dari penderitaan”.
Dalam pelbagai tulisannya, Kuntowijoyo juga banyak memberikan kritik-kritik sosial atas
realitas yang ada. Ia banyak melihat kondisi sejarah sosial Indonesia yang diwarnai oleh praktikpraktik eksploitasi kapital. Potret penindasan ini muncul dalam bentuk oligarki antara pemodal
besar dengan negara yang kemudian menyebabkan akses rakyat kecil atas ekonomi menjadi
terhambat. Ia menyebutnya sebagai dhuafa dan mustadh’afin. Pembebasan juga perlu dilakukan
pada praktik kezaliman ekonomi seperti ini. Spirit Marx atas pembebasan manusia dari
keterasingan juga senada dengan konsepsi beliau tentang pembebasan.
Adapun tu’minu billah berarti pengembalian segala sesuatu pada hakikatnya yang paling
mendasar: tauhid. Pada titik inilah gagasan ilmu sosial profetik menjadi penting. Gagasan tauhid
tidak hanya berada pada level teologis, tetapi juga harus diterjemahkan melalui langkah-langkah
sosial konkret. Konsep transendensi ini dapat dibaca melalui konsep tauhid sosial yang digagas
Amien Rais dan Teologi Al-Ma’un yang dicanangkan KH. Ahmad Dahlan.

Wacana tauhid sosial mengejawantahkan tauhid dalam semua dimensi kehidupan. Menurut
Amien Rais, Tauhid Sosial merupakan dimensi sosial dari konsep tauhid (pengesaan Allah secara
mutlak), agar konsepsi tauhid yang telah terintegrasi di pola pikir umat Islam dapat dipraktikkan
pada tataran masyarakat.Implikasi yang diharapkan dari Tauhid Sosial ini adalah munculnya
manusia-tauhid [5] yang mampu berpikir secara arif dengan landasan tauhid dan syariah. Tauhid
harus ditransformasikan dalam bentuk akhlak dan etika sosial. Dalam konteks sosial-politik, etika
tersebut tidak hanya diwujudkan dalam aktivitas berinteraksi dengan individu, tetapi juga dalam
ruang-ruang public [6].

Sementara itu, KH. Ahmad Dahlan memperkenalkan cara berpikir yang sederhana:
mengamalkan perintah Allah dalam Al-Qur’an secara nyata. Dalam konteks ini, Kyai Dahlan
mengajarkan murid-muridnya Surah Al-Ma’un secara berulang-ulang. Sudah barang tentu, murid-
muridnya bertanya. . Kyai Dahlan kemudian mengajak murid-muridnya ke pasar dan membeli
kebutuhan hidup sehari-hari mereka, lantas pergi ke tempat orang-orang miskin dan memberikan
barang-barang tersebut kepada mereka. Tak cukup sampai di situ, Kyai Dahlan juga mengajak
murid-muridnya untuk memelihara anak-anak yatim yang miskin, sebagaimana dipesankan dalam
surah Al-Ma’un tersebut. Ada satu semangat yang bisa ditangkap dari kisah sederhana tersebut. Kyai Dahlan
mengajak kita untuk mengejawantahkan ajaran tauhid dan ayat-ayat Al-Qur’an dalam bentuknya
yang sangat praksis dan implementatif, yaitu pengamalan nyata. Bentuk inilah yang disebut oleh
Kuntowijoyo sebagai “Gerakan Sosial Muhammadiyah” [7].

Fakta di lapangan ditemukan bahwa perdebatan warga Muhammadiyah menyoal wacana
multikulturalisme diawali hasil muktamar Denpasar Bali tahun 2002 ketika dewan tanwir
memutuskan makna amar ma’ruf nahi munkar tidak hanya dimaknai sebatas tekstualitas, tapi
bagaimana gerakan berkemajuan yang mengusung isu ‘dakwah kultural’ diimplementasikan
dengan baik. Dalam perjalanannya, hasil keputusan tersebut warga Muhammadiyah sendiri secara
internal dapat dipetakan menjadi tiga kelompok, yakni puritan, moderat, dan reformis. Walaupun
‘dakwah kultural’ banyak ditentang oleh kelompok puritan, faktanya sedikit yang sepakat dengan
kelompok tersebut. Gaung kelompok moderat dan reformis lebih besar, secara utuh gerakan
multikulturalisme dapat diimplementasikan dengan baik hingga ke akar rumput[8]
Sudah sama-sama kita pahami, jauh sebelum adanya istilah multikultural ini, secara
konseptual maupun dalam realitas sejarah, Islam adalah agama yang terbukti berhasil mewujudkan
masyarakat multikultur di Madinah, Baghdad, Palestina, Andalusia dan sebagainya. Di Madinah,
Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam memelopori satu Negara dengan Konstitusi
tertulis, pertama di dunia. Di Palestina, Khalifah Umar bin Khathab adalah pemimpin pertama di
dunia yang memberikan kebebasan beragama dalam perspektif Islam di Kota Jerusalem, tahun 636 M.

Memahami sejarah sosial suatu perdaban sangat penting, sebab makna suatu konsep tidak
terlepas dari sejarah dan sistem (medan) makna yang ada dalam suatu peradaban. Tujuan untuk
mewujudkan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat adalah baik. Perbedaan tidak identik
dengan konflik. Dan Islam sudah berhasil mewujudkan kehidupan harmonis antar berbagai
kelompok yang beragam seperti yang telah diteladankan oleh orang-orang sebelum kita. Menolak
keragaman sama dengan menolak kehendak Tuhan alias kafir sama takdir Tuhan. Oleh sebab itu,
sikap angkuh, sombong, ingin benar dan menang sendiri, serta merasa paling hebat adalah musuh
kaum beriman. Sebab, sikap seperti itu mengibaratkan perlawanan dengan Tuhan sendiri.

 

Referensi
[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Jakarta: Lentera Hati, 2012, cet ke-5, hlm.615-618
[2] D. S. Moeljanto dan Taufiq Ismail (1995). Prahara Budaya: Kilas-Balik Ofensif Lekra/PKI
Dkk. Bandung: Mizan.
[3] K. S., Yudiono, ed. (2007). Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo
[4] Setiawan, Hersri, ed. (2003). Kamus Gestok. Yogyakarta: Galang Press.
[5] Akh. Muzakki. Mengupas Pemikiran Agama dan Politik Amien Rais Sang Pahlawan
Reformasi. Jakarta: Lentera, 2004.
[6] Amien Rais. Demi Kepentingan Bangsa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997
[7] Kuntowijoyo. “Gerakan Sosial Muhammadiyah” dalam Paradigma Islam: Interpretasi untuk
Aksi. Bandung: Mizan, 2008
[8] Syamsuddin, M. (2017). GERAKAN MUHAMMADIYAH DALAM MEMBUMIKAN WACANA
MULTIKULTURALISME: SEBUAH LANDASAN NORMATIF-INSTITUSIONAL, 1(2). Retrieved
from http://ejournal.uin-suka.ac.id

Oleh:

IMMawan Ilhamsyah Muhammad Nurdin

(Ketua Umum PC IMM Djazman al-Kindi 2019-2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: