Kader Sebagai Stabilisator dan Dinamisator

Sebelum jauh memahami artikulasi tersebut ,mari kita renungkan kembali sebuah peristiwa penting yang tidak akan terlupakan oleh kita semua,yaitu reformasi tahun 1998 ,yang mana agenda besar tersebut merupakan celupan ( Shibgah) dari mahasiswa,yang notabene mempunyai alasan yang sama dan juga tujuan yang sama.Dan kemudian akhirnya disatukan dan di ledakkan pada waktu itu,dan kemudian tak kalah pentingnya agenda tersebut juga memberikan pemahaman bagi kita semua bagaimana arti dari sebuah akal sehat,yang dimana akal sehat tersebut didasari pada landasan teologis yang jelas,yaitu  Iqra’ ( Baca) darisanalah muncul berbagai ide dan juga gagasan yang rasional yang tentunya dapat mendasari terjadinya reformasi kala itu.

Berbicara tentang kader / cadre yang secara bahasa bingkai dan secara terminologi adalah Orang yang dibina / ditugaskan dalam mewujudkan visi dan misi dari sebuah kepemimpinan / kelembagaan.Baiklah jika ditinjau dari aspek holistik ( keseluruhan), bagaimana seorang kader harus bisa menjadi core ( inti) generator ( penggerak) dan lainnya . Bagaimana dalam artikulasi yang saya sebutkan tersebut melainkan kader yang selalu terhubung dengan makna politik,dan nanti akan berujung kepada partai politik dan semacamnya.Akan tetapi pada pembahasan kali ini,kita akan lebih membahas kader pada lingkup Muhammadiyah,yang tentunya sebuah organisasi besar dengan amal usaha yang banyak dan juga praksis dari buah intuisi para kadernya yang luar biasa.

Konteks pada hari ini adalah bagaimana kader Muhammadiyah menjadi sebuah harapan agar menjadi Stabilisator dan Dinamisator.Stabilisator adalah penyeimbang dan dinamisator adalah penggerak.Lantas apa hubungan dengan Muhammadiyah ?,jadi hubungan yang paling fundamental dari dua kata tersebut adalah peran, peran itu diartikan sebagai porsi yang wajib dimiliki oleh setiap manusia,jadi kader itu mempunyai salah satunya dua peran yang kita kenal yaitu sebagai stabilisator dan juga dinamisator, kemudian peran tersebut juga dapat dikategorikan sebagai peran wajib a’in bagi kader,karena kader itu sendiri salah satu fungsinya juga menyangkut kepada 2 peran tersebut.

Stabilisator

Yang dimaksud stabilisator disini adalah orang yang bertujuan menjadi penyeimbang agar tidak terjadi ketidakstabilan,jadi yang dimaksudkan adalah bahwasanya seorang kader harus menjadi penyeimbang dalam hal apapun agar tidak menjadi berat sebelah,dengan cara membentuk kesadaran intelektual,karena dari dulu hingga sekarang permasalahan yang paling intim adalah literasi dan juga diskusi,dua budaya ini yang menunjukkan bahwasanya intelegensi dan aktualisasi dari seorang kader sebagai stabilisator dapat terjadi,banyak bermunculan hoax yang tidak menentu ,dikatakan dalam suatu Stadium General,”masalah terbesar bermunculan hoax adalah karena produktivitas keilmuan kita rendah dan dangkal,itulah sebabnya kita mudah sekali dibohongi dan dirasuki” konklusinya adalah jika memang Muhammadiyah disebut mempunyai gerakan tajdid, seharusnya Itu semua di dukung oleh gaya kadernya yang tajdid juga ,yaitu dengan membudidayakan Literasi dan menuangkan dengan diskusi.Haedar Nashir pernah berkata” Kita harus faham literasi klasik dan juga modern”. Artinya itu sebagai stabilisator yang hakiki karena salah satu modal kita di zaman post truth ( pasca kebenaran) ini kunci utama yang harus dipegang adalah Literasi dan juga Diskusi.

Dinamisator

Yang dimaksud dinamisator adalah orang yang menggerakkan terhadap sesuatu dan mempunyai tujuan.tentunya asas yang mereka gunakan adalah karena sudah tidak stabil akhirnya harus bergerak agar stabil,itu perumpamaan yang mudah untuk menggambarkan sekelumit.Akan tetapi memang pada halnya ketika kita berkaca kepada Reformasi 98 itu semua didasari atas kekecewaan ketika literasi tidak dihargai diskusi dibatasi dan juga menolak aspirasi,jadi Gerakan Mahasiswa itu dimunculkan karena pada awalnya karena aspirasi yang tidak digubris dan cenderung malah dijumudkan ( dihentikan) maka dari itu asas dinamisatoris ketika dikaitkan dengan keilmuan adalah bagaimana Muhammadiyah sendiri mempunyai tagline Islam Berkemajuan,tagline yang mempunyai sarat akan makna yang luas ,yaitu menyuarakan Islam dengan cara -cara yang modern tapi tidak sembarangan,dari puritanisme ke Kosmopolitan.Dan contoh satu kasus yaitu adalah bagaimana munculnya Terorisme adalah karena munculnya paham radikalisme ,sektarian , diskriminasi dan fanatisme ( Najib,Burhani, Muhammadiyah Berkemajuan).Maka dari itu kita sebagai kader-kader Muhammadiyah yang senantiasa menjadi penggerak ( dinamisator) jangan hanya bergerak kalau ada kasus -kasus saja ,akan tetapi bergerak dengan damai,yaitu bergerak yang dimana kita menyuarakan literasi dan juga diskusi agar semakin banyak , walaupun memang tidak eksistensif tapi kita pakai reflektif , pendekatan yang dilakukan cenderung bisa membuat orang sedikit cinta daripada tidak sama sekali.

 

Konklusinya adalah menjadi kader yang stabilisator dan dinamis itu harus senantiasa diimbangi dengan akal Budi pekerti yang baik dan juga jiwa yang terbebas dari belenggu.

Billahi Fii Sabilil Haq

Fastabiqul Khoirot

Oleh : M.Milzam Al Hazmi

(Kabid TKK PC IMM Djazman al-Kindi Kota Yogyakarta 2019-2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: