KONTEMPLASI: Jalan Terjal Pendidikan Kita

Bagaimana jika anda bangun dipagi hari dan mendapati diri berubah menjadi seekor kecoa? Aneh bukan? Nyatanya hal itu yang terjadi pada Gregor Samsa dibuku karangan Franz Kafka berjudul Metamorfosis. Jika saya boleh sarankan, agaknya anda juga perlu membaca buku tersebut. Selepasnya, boleh jadi buku itu akan masuk ke daftar buku dengan skenario hidup terburuk yang pernah anda baca. Bagaimana tidak, Gregor Samsa didera habis-habisan oleh hidup yang tegang dan lelah. Begitu bangun pagi, yang terpikir olehnya adalah disiplin dan aturan perusahaan yang ketat, mengejar dan dikejar target ataupun jadwal keberangkatan kereta yang harus tepat dipagi hari yang buta. Begitulah hidup yang ditusuk oleh saraf kehidupan masyarakat industrial-modern. Bagaimana dengan anda? Dunia seperti apa yang akan anda hadapi lima tahun atau sepuluh tahun mendatang? Apakah akan sama seperti Gregor Samsa? Kalau iya, apakah anda siap bermetamorfosis menjadi kecoa?

 

Melalui Pendidikan, Akan Jadi Manusia Seperti Apa Kita?

Lupakan sejenak Gregor Samsa yang berubah menjadi kecoa di pagi hari. Kecuali fakta bahwa ia pernah menjadi kaum terdidik dimasa itu. Betul, tentu saja Gregor Samsa pernah menempuh pendidikan, narasi mutakhir untuk menjawab pembentukan karakter kaum masyarakat secara universal. Berbicara pendidikan, sejarah bangsa kita pernah terpuruk. Indonesia mengalami penjajahan dan tentunya hal ini menjadi pengalaman traumatik tersendiri. Bagaimana tidak, kehidupan yang seharusnya bernapaskan nilai-nilai kemanusiaan malah menjadi eksploitasi habis-habisan. Sampai akhirnya, datanglah salah seorang anggota dari De Trio of This Country alias Tiga Serangkai, yakni Ki Hajar Dewantoro dengan mendirikan Taman Siswa.

Mari kita kilas balik sebentar. Sebelum Taman Siswa, pendidikan bagi masyarakat adalah seperangkat sistem yang diatur oleh Belanda untuk menyiapkan tenaga pribumi siap kerja. Tak lain tak bukan, pendidikan ala Belanda saat itu hanyalah untuk menjadi persyaratan administrasi memasuki dunia kerja dan memenuhi kebutuhan kolonial saja. Isinya pendidikan ala kolonial adalah tentang menghukum yang salah. Padahal makna pendidikan sendiri juga tentang olah rasa, tentang cara menjadi manusia dan juga tentang pengetahuan yang diendapkan agar menjadi pengalaman kebertubuhan tersendiri. Maka perlu adanya transformasi dimana pendidikan bukan sekedar untuk kesuksesan ekonomi atau jabatan, bukan untuk kebutuhan pribadi saja, namun pendidikan adalah sebuah sistem yang mampu mereduksi pikiran kita dengan dihadirkan kesadaran kritis bagi para pembelajar. Seperti yang dikatakan oleh Paulo Freire, diperlukan kontradiksi-kontradiksi yang dihadirkan didalam kelas untuk menumbuhkan kesadaran kritis. Jadi melalui pendidikan, masyarakat akan terbebas dari belenggu keterjajahan secara pikiran dan perasaan melalui dialektika-dialektika dua arah.

Itu dulu. Bagaimana pendidikan hari ini? Bisa jadi pendidikan yang membebaskan hanya berhenti menjadi retorika jargonistik semata. Pendidikan yang memanusiakan manusia hanya berhenti pada kenyataan bahwa satu abad kemudian kita menemui zaman yang berbeda, regulasi yang berbeda, problematika yang berbeda dan bisa jadi pemaknaan yang berbeda pula. Kita telah hidup dengan zaman seperti kehidupan Gregor Samsa, industrial-modern. Kita hidup bersama masyarakat yang memimpikan peradaban yang maju. Industri 4.0 katanya. Semua lapisan masyarakat, baik kampus sampai ke institusi pendidikan lainnya berkata, “Siapkan diri kalian menghadapi industri 4.0” tanpa ada narasi bertanya, apakah itu industri 4.0 dan kenapa kita harus siap, tapi intinya kita disuruh siap saja. Pendidikan memang seharusnya kontekstual dan menjawab tantangan zaman yang ada. Namun, satu hal yang bisa saja terjadi, yakni hilangnya dialektika dua arah didalam praktik pendidikan itu sendiri.

Seluruh narasi tentang kemajuan teknologi, mengubah cara pandang masyarakat hari ini. Era kemajuan teknologi ternyata menjadi medium yang semakin menjamur diantara millenial. Katanya kaum millenial banyak ide dan cerdas dalam menciptakan peluang. Sanjungan yang melekat pada millenial ternyata didengar oleh korporasi dan mereka menyadari bahwa kelak millenial yang akan menciptakan peradaban dan memasuki dunia kerja dengan budaya kerja yang baru. Terciptanya RUU Cipta Lapangan Kerja katanya mempermudah millenial mendapat pekerjaan kelak karena iklim investasi yang bagus. Selain itu, baru-baru ini Kemendikbud juga menginisiasi kebijakan magang tiga semester diluar perkuliahan  agar tahu dinamika dunia kerja. Hanya saja, sepertinya seluruh narasi tentang pendidikan hari ini membawa kita pada kesimpulan bahwa, kita sedang disiapkan untuk memasuki dunia kerja.

Menjawab pertanyaan diawal, melalui pendidikan, bisa jadi kita disiapkan menjadi pekerja. Sama seperti apa yang terjadi dimasa kolonial dulu, ketika pribumi menempuh pendidikan, untuk dijadikan tenaga siap kerja pemerintah kolonial. Apakah benar begitu? Sekali lagi, sepuluh tahun dari sekarang, apakah anda siap bangun dipagi hari dan mendapati diri berubah menjadi kecoa seperti Gregor Samsa? Apakah pendidikan kita cukup humanis untuk memanusiakan manusia? Apakah kita akan menjadi alegori masyarakat tanpa sebuah cita-cita kecuali keniscayaan nasib untuk meraih impian material semata? Apakah kita akan menjadi masyarakat yang hiper-rasionalisme birokrasi yang mencekik kejujuran dan kepolosan dalam jejaringannya dan menamatkan segala macam idealisme? Mari kontemplasi.

 

Oleh : Widya Miftahul Hasanan

(Sekretaris Bidang RPK PC IMM Djazman al-Kindi 2019-2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: