IMM DALAM PUSARAN POLITIK PRAKTIS MAJU ATAU MUNDUR

Mahasiswa merupakan generasi muda harapan bangsa, harapannya membawa perubahan untuk masa depan yang mencerahkan. Sekaligus sebagai aktor terdepan dalam kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam sejarahnya sendiri generasi muda telah menuliskan tinta emasnya, sebagai pelopor kemerdekaan. Terbukti dengan berdirinya organisasi budi utomo ini menjadi salah satu bukti, bahwa masa depan bangsa Indonesia berada pada tangan generasi muda atau lebih dikenal oleh kalangan mahasiswa. Selain dari pada itu generasi muda tersebut melakukan perlawalanan terhadap penjajah dengan satu tujuan yang sama, berupa kemerdekaan bangsa Indonesia yang berdaulat dan terbukti dengan kesungguhannya mampu mengantarkan sampai kepada pintu gerbang kemerdekaan Indonesia

Dalam perjalananya sendiri setelah kemerdekaan para generasi muda juga menunjukkan kekuatannya sebagai kontrol sosial. Saat itu mampu menumbangkan rezim orde lama yang telah berkuasa sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, terlepas dari pada dialeketika perjalannya, selama 20 tahun lamanya. Sama halnya dengan lengsernya orde baru hingga membuat presiden Soeharto terpaksa melakukan pengunduran dirinya didepan massa khususnya para mahasiswa yang saat itu telah menduduki gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat, tumbangnya rezim orede baru ditandai dengan lahirnya era Reformasi.

Hal itu menjadi pelajaran tersendiri bagi kita saat ini agar mampu meneruskan perjuanganya sebagai generasi muda harapan bangsa, serta menjadi pelajaran berharga bagi pemegang kekuasaan dinegeri ini untuk bisa melakukan pemerintahan seadil-adilnya yang berpihak kepada rakyat, namun berjalannya waktu seiring dengan perkembangan teknologi modern saat ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Apakah mampu untuk tetap beridiri pada gerda terdepan atau justru sebaliknya?, ini menjadi refeleksi tersendiri akan dibawa kemana arah bangsa Indoensia ini akan dibawa.

Tentu perjuangan saat ini menjadi semakin sulit tak terkecuali dalam tubuh IMM sendiri ketika hegemoni kekuasaan membelenggu dengan kenikmatan, sehingga dapat meruntuhkan pemikiran-pemikiran kritis dalam diri kadernya. Perhelatan perpolitikan dengan pesta pemilihan mulai dari bupati hingga sampai kepresiden begitu halnya pada lembaga legislatifnya seolah semua ingin mengambil perannya masing-masing. Disituah peran seorang kader IMM dalam penguatan jati dirinya semakin berat, selain karena tantangan zaman juga desakan dalam segi ekonomi, maka tak jarang apabila sebagaian terjerumus di dalamnya. Meskipun tetap banyak juga yang selalu memegang teguh kepribadiannya dalam menghadapi dinamika tersebut.

Melihat dalam Khitah Denpasar Muhammadiyah tahun 2002 bahwa peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dilakukan dua strategi  dan lapangan perjuangan. Kekuasaan atau kenegaraan (real polittics, politik praktis) sebagaimana dilakukan oleh partai-partai politik atau kekuatan-kekuatan politik formal ditingkat kelembagaan negara. Kedua, melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang bersifat pembinaan atau pemberdayaan masyarakat maupun kegiatan-kegiatan politik tidak langsaing (high politcs) yang bersifat mempengaruhi kebijakan negara dengan perjuangan moral (moral force) untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik ditingkat masyarakat dan negara sebagaimana dilakukan oleh kelompok-kelompok  kepentingan (interest grups).

Muhammadiyah secara khusus mengambil peran dalam lapangan kemasyarakatan dengan pandangan bahwa aspek kemasyarakatan yang mengarah padapemberdayaan masyarakat tidak kalah penting dan strategis dari pada aspek perjuangan politik kekuasaan. Perjungan dilapangan masyarakat diarahkan untuk membentuk masyarakat utama atau masyarakat madani (civil society) sebagai pilar utama terbentuknya negara yang berdaulatan rakyat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang merupakan bagian dari organisasi ortonom muhammadiyah harus mampu meneguhkan identitasnya ditengah pusaran politik global sebagai gerakan mahasiswa islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Melihat tujuannya sendiri “Mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah”. Dari tujuannya sudah jelas bahwa hal ini menjadi ujung tombak bagi muhammadiyah sekaligus sebagai generasi ang akan datang. Untuk itu alangkah baiknya apabila sebagai kader IMM alangkah baiknya apabila tidak terjebak dalam pusaran politik global yang semakin menghegemoni dan tetap mengedepankan kepentingan masyarakat secara luas, hal ini juga sudah menjadi bagain dari pada tanggungjawabnya, dalam poin ketiga trilogi merupakan kemasyarakatan, kemasyarakatan disini tentu sangatlah luas. Begitu halnya dalam enam penegasannya poin ke 6 “ Menegaskan bahwa IMM Lillahita’ala dan senantiasa diabadikan untuk kepentingan rakyat”.

Peran dalam kontrol sosial, atau penguatan sosial politik, ditengah-tengah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, secara lebih khusus dalam peran serta dalam partisipasi politik para generasi muda seperti halnya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai fungsi eksponen mahasiswa dalam muhammadiyah sudah menjadi keharusan menjadi orang yang paling depan dalam mengabdikan dirinya kepada rakyat, menguitip dalamnilai dasar kader ikatan poin ketiga “ Segala bentuk, ketidak adilan, kesewenang-wenangan dan kemungkaran adalah lawan besar gerakan IMM perlawanan terhadapnya adalah kewajiban setiap kader IMM”. Tentu seruan terhadap lahirnya nilai dasar ini mengisyaratkat bahwa IMM harus mampau melawan ketidak adilan yang ada untuk bisa mewujudkan “Baldatun Tyaibatun Wa Rabbun Ghafur”

Melihat lebih jauh kepada hasil muktmar imm pada tahun 2004 yang dimana usianya pada saat itu sesuai dengan tahun kenabian melahirkan sebuah gagasan manifesto 40 tahun politik IMM, pada poinnya sudah sangat jelas bahwa kita harus menjadi gerda terdepan dalam membela kepentingan masyarakat bukan pada oligarki kekuasaan, serta harus mengedepankan politik nilai yang berbasis pada penguatan intelektualitas. Berbicara politik nilai disini ialah merujuk kepada pemikiran-pemikiran poltik klasik era yunani kuno yang direpresentasikan oleh setidaknya plato dan muridnya arisoteles, dalam pengertian klasik politik dimengerti bahwa tak lain untuk bisa mewujudkan kebaikkan, bersama. Di Indonesia ini berkembang jelang kemerdekaan (persidangan BPUPKI) yang kemudian rumusan pancasila adalah produk dari poltik nilai. Sila-sila didalam pancasila sarat akan nilai-nilai agung dan mulia. Namun yang terjadi saat ini di era liberal politik dalam pengertian klasik (nilai) jadi sesuatu yang asing. Bahkan hanya dipahami sebagai pragmatis, sebagai alat perebutan kekuasaan dan kepentingan, sehingga ada ungkapan tak ada kawan atau musuh abadi tapi hanya kepentingan abadi, maka dengan demikian memberikan gambaran bahwa politik dimengerti sebagai kepentingan tanpa melibatkan sebuah nilai meskipun hanya secuil. Tentu menjadi hal lumrah jika pemahaman politik sebagai kekuasan serta kepentingan, akan tetapi selipkanlah politik nilai meski hanya sedikit saja.

Berbicara mengenai politik praktis sebagai seorang kader IMM, melihat dalam hasil muktamar 2014 di Surakarta untuk bisa menegaskan kembali khittah atau garis perjuangan awal IMM sebagai mana munas pertama kali di kota barat atau yang lebih dikenal dengan enam penegasan salah satu poinnya disini ialah “Menegaskan bahwa amal IMM Lillahita’ala yang senantiasa di abadikan untuk kepentingan rakyat” disini sudah sangat tegas sekali bahwa segala bentuk amalnya senantiasa dibadikan dalam cita-cta meraih ridhanya Allah SWT, dan tidak terjebak dalam arus politik praktis. Dan jawaban itu diri kita sendiri yang akan mengetahuinya akan dibawa kemana arah gerak perjuangan IMM ini kedepan.

Oleh: IMMawan Wahyu

(Kabid Hikmah PC IMM Djazman al-Kindi Kota Yogyakarta 2019-2020)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: