AKTIVIS IMM HARUS MENONTON UPIN & IPIN “KEKUATAN 10 SEN”

Kebudayaan mendongeng atau tradisi lisan bukanlah hal yang asing di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya folklor (cerita rakyat) yang beredar di tengah masyarakat kita. Ide cerita folklor itu sendiri biasanya berasal dari kondisi alam, permasalahan sosial, bentuk fisik, maupun kebudayaan masyarakat pada suatu daerah. Selain berfungsi untuk hiburan masyarakat, tradisi lisan ini mempunyai nilai guna yang jauh lebih penting dari sekadar dongeng pengantar tidur. James Dananjaya (ahli folklor) mengatakan bahwa tradisi mendongeng memiliki fungsi vital sebagai berikut; sistem proyeksi dan alat pendidikan, alat pengesahan pranata-pranata, pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat, serta yang paling penting adalah agar masyarakat setempat sadar akan identitas dan permasalahan kelompok mereka sendiri.

Seiring berkembangnya zaman, kebiasaan lisan ini mulai bergeser dalam segi media penyampainya, tapi tidak dengan pesan dan fungsi pentingnya di tengah masyarakat atau folk itu sendiri. Ketika pada masa silam cerita rakyat tersebar dari telinga ke telinga, maka pada abad ke-21 cerita rakyat tidak lagi dikonsumsi publik secara lisan, melainkan dengan tulisan, gambar (komik), bahkan dengan animasi film. Dalam tulisan ini saya akan sedikit membongkar eksistensi folklor yang masih berfungsi sebagaimana mestinya hingga saat ini dalam film animasi “Upin & Ipin eps. Kekuatan 10 Sen”. Dan setelahnya, apa yang bisa kita (baca: aktivis IMM) ambil dari animasi ini sebagai refleksi dari gerakan kita di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah khususnya di PC IMM Djazman Al-Kindi.

Percaya tidak percaya, animasi dua anak kembar berkepala plontos produksi Malaysia (negara yang masih serumpun dengan Indonesia) ini dapat kita sebut sebagai salah satu folklor modern. Terlepas dari perbedaan media yang digunakan dalam menyampaikan cerita, animasi “Upin & Ipin”  masih sarat akan nilai guna dan begitu relevan untuk kita sebut sebagai folklor atau cerita yang timbul dari rakyat. Sebelum kita membahas film animasi ini, baik jika saya menyertakan sinopsis “Upin & Ipin eps. Kekuatan 10 Sen” yang akan kita bicarakan bersama.

Sinopsis:

            Upin, Ipin, dan kawan-kawan nampak kaget dan seketika menghentikan permainannya ketika melihat asap hitam membubung tinggi ke langit Kampung Durian Runtuh. Mereka sontak berlari mendekat ke sumber asap. Setibanya di sumber asap hitam mereka melihat begitu banyak orang dewasa yang panik tergopoh membawa ember berisi air untuk memadamkan api yang hampir sepenuhnya menghanguskan sebuah rumah.

            Ketika api sepenuhnya berhasil dipadamkan, mereka melihat Ijat, temannya di Tadika Mesra menangis tersedu memandangi rumah yang sudah berwarna arang. Tanpa banyak tanya mereka menghampiri Ijat yang masih juga bersimbah air mata. Dengan bicara yang masih tersedu Ijat bercerita bahwa rumahnya yang baru saja hangus dilalap si jago merah. Mendengar cerita Ijat, Upin & Ipin serta teman-temannya langsung mencoba untuk menghibur Ijat.

            Esok harinya Ijat tidak masuk sekolah. Teman kelas maklum terhadap hilangnya seorang Ijat pagi itu. Kemudian Cikgu Jasmin selaku guru mereka masuk ke kelas dan memperkenalkan seorang perempuan baya bernama Tok Wan. Tok wan bercerita kepada seluruh anak dikelas bahwa dengan 10 sen saja mereka bisa membantu orang. Kemudian muncul kesadaran di benak Upin bahwa dengan 10 sen mereka bisa membantu Ijat yang baru saja ditimpa musibah.

 

***

 

Cerita tersebut diangkat dari permasalahan sehari-hari dan isu sekitar lingkungan. Dibentuk dan dirangkai dengan alur yang sederhana namun mengandung nilai-nilai dan pesan moral di dalamnya. Cerita ini mengangkat masalah sosial tentang kepedulian kepada sesama terutama bagi kaum yang lemah atau yang dilemahkan.

Pada adegan ketika Upin & Ipin mendekat ke pusat kebakaran, kita bisa mengerti bahwa hal tersebut muncul atas dasar penasaran mereka terhadap suatu kejadian yang aneh. Hal ini sangat dekat sekali dengan kita dan IMM. Seringkali ketika dihadapkan pada permasalahan yang terjadi di kehidupan berbangsa dan bermasyarakat kita cuma terjebak dalam rasa ingin tahu dan penasaran belaka. Setelah kita mengetahui masalah, kita merasa cukup puas kerna sudah mendapat informasi tanpa ada gerakan praksis untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Eh, tapi tenang dulu Immawan dan Immawati, masih ada adegan selanjutnya.

Adegan selanjutnya ketika mereka bertanya apa yang membuat Ijat menangis. Itu adalah bentuk observasi mereka terhadap kondisi dan keadaan yang sedang mereka saksikan. Sebagai aktivis IMM yang juga seorang intelektual dan katanya aktor utama pembawa perubahan, observasi amat penting kita lakukan. Pembacaan masalah (konflik) dan pengkajian isu menjadi hal yang sangat vital, sehingga nanti kita bisa memilih solusi terbaik untuk penyelesaian atas masalah dan konflik tersebut. Terlebih lagi akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang terjadi di negara maupun daerah, kita mesti banyak observai wahai Immawan dan Immawati, percayalah.

Sebagai aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang berdiri gagah pada landasan intelektualitas, kita tidak mungkin bergerak di atas persoalan yang sekadar kita ketahui daun masalahnya tanpa pernah sama sekali menyentuh akarnya. Seorang terpelajar versi IMM mesti punya pijakan dalam melangkah dan bertindak, dan hal itu tidak akan pernah kita dapatkan tanpa membaca dan melakukan pembacaan.

Akhirnya, poin penting cerita ini terdapat pada adegan ketika muncul kesadaran Upin untuk membantu Ijat dengan kekuatan 10 sen. Upin mengajak seluruh temannya untuk membantu mengadakan penggalangan dana guna meringankan beban Ijat yang ditimpa celaka. Luar biasa sekali seorang Upin yang masih duduk di bangku TK sudah dapat menganalisis kondisi sosial dan permasalahan yang terjadi di dekatnya. Kalau tidak keliru, di IMM hal ini kita sebut “Ansos” atau “Analisis Sosial”. Ayolah menjadi tanggap seperti Upin!

Melihat persoalan yang terjadi di masyarakat, aktivis IMM yang juga kokoh berdiri di atas landasan religiusitas dan humanitas mestinya sangat malu jika tidak berani terjun ke permasalahan yang terjadi di akar rumput. Aktivis IMM juga harus malu ketika tidak dapat berbuat banyak untuk membantu kaum marjinal, kaum miskin, dan kaum yang dilemahkan seperti yang sudah dilakukan oleh Upin & Ipin serta teman-temannya. Semoga kita semua, aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tidak kalah dari tokoh fiksi imajiner asal negara Harimau Malaya ini. Abadi perjuangan Immawan dan Immawati, bukan abadi perjuangan Upin & Ipin, ya.

 

Oleh: Syauqi Khaikal Zulkarnain

(Kabid SBO PK IMM FSBK UAD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: