Menjadi Produktif ditengah Pandemi

Udah berapa lama nih, kita di rumah aja dalam rangka social distancing atau tepatnya physical distancing? Sudah lebih dari tiga pekan tentunya. Ngapain aja coba di rumah? Apa cuma rebahan sambil scroll timeline Instagram, nonton drama Korea sampai begadang semalaman, atau justru main games bareng (mabar)? Diliburkannya kita untuk di rumah aja itu bukan sekadar buat seneng-seneng doang lho! Kita juga sepatutnya ikut berperan membantu pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 ini. Apa saja yang bisa kita lakukan? Sebagai contoh nih, kita bisa Learn From Home, Work From Home, and Pray From Home. Intinya kita diliburkan bukan buat rebahan santai every day in home. Masih banyak kegiatan positif yang bisa kita lakukan.

Memang bener sih, dengan kita rebahan di rumah dan mengurangi pergi keluar rumah itu bisa membantu mencegah penyebaran virus Corona, tapi, apa iya kita cuma mau rebahan santai aja? Mungkin di antara kita juga berpikir, Let it flow aja lah, nanti pandemi ini juga bakal berakhir. Nikmatin aja liburannya di rumah, seneng-seneng sepuasnya.” Bukan begitu cara menikmati liburan ini, wahai anak muda. Perubahan akan terjadi jika diusahakan dan tentu saja tidak akan terjadi secara tiba-tiba. Pandemi ini akan berakhir jika semua ikut berperan serta dalam prosesnya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Banyak lho, hal-hal yang bisa kita lakukan di rumah untuk membantu pemerintah menangani pandemi ini. Berkarya adalah salah satu bentuk kontribusi kita menangani pandemi ini. Berkarya itu cakupannya banyak. Bisa menyalurkannya dengan menulis untuk yang gemar menulis, bisa juga menekuni desain grafis, atau bisa juga belajar bikin konten, dan masih banyak lainnya. Entah karya untuk diikutkan perlombaan ataupun sekadar di-publish di media sosial.

Kita bisa juga tuh menulis opini kita tentang penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, “Seberapa efektif kah kebijakan physical distancing yang saat ini banyak diberlakukan?” Bisa juga dengan membuat desain-desain menarik untuk memberikan edukasi kepada masyarakat awam terkait cara-cara preventif yang bisa dilakukan untuk mencegah diri dari infeksi Covid-19? Buat yang tidak terlalu suka menulis ataupun desain juga bisa membuat konten dengan cara lain, seperti vlogging yang berisi edukasi ke masyarakat. Sebagai contohnya, “Sunbatting untuk mencegah terinfeksi Covid-19, bagaimana bisa?”  Kalau udah gitu baru deh kita bisa rebahan sambil publish karya kita di media sosial untuk mencerdaskan para netizen.

 

 

 

Kenapa sih nggak boleh rebahan melulu dan tetap harus berkarya?

  1. Kita punya akal dan hati

Pembeda antara manusia dan hewan sebenarnya bukan tentang ada atau tidaknya akal dan hati, tapi bagaimana akal dan hati itu digunakan oleh manusia. Misal nih, di masa pandemi ini kita lihat masih banyak masyarakat yang bandel, dihimbau untuk tetap di rumah aja malah keluyuran kemana-mana, nongkrong sana-sini, sedangkan di sisi lain tenaga medis kewalahan mengurusi pasien Covid-19 yang terus bertambah setiap harinya. Lantas dalam hati kita membatin, “Kasian ihh tenaga medisnya,”

Kata “Kasian ihh” tersebut termasuk bentuk simpati yang muncul dari akal kita sebagai respon setelah melihat realitas miris yang terjadi. Namun ketika kita melihat realitas tersebut dengan hati, kita tidak hanya berkomentar, “Kasian ihh,” tetapi kita juga akan berpikir, “Apa sih yang bisa aku lakukan untuk ikut berperan serta?” Nah, kalau sudah begitu pasti kita akan terpicu untuk melakukan sesuatu sebagai wujud rasa simpati, yaitu empati. Misalnya, membuka donasi untuk tim medis ataupun memberikan edukasi melalui media sosial kepada masyarakat untuk tidak keluyuran. Meskipun kita tidak berkontribusi secara langsung terjun di lapangan, tapi setidaknya kita sudah ikut berperan membantu pemerintah dalam menghimbau masyarakat.

 

  1. Kita adalah pondasi peradaban

Misalnya, kita sudah dihimbau untuk di rumah aja selama masa pandemi Covid-19, tetapi masih ada yang keluyuran, nongkrong-nongkrong di luar, dinasehatin masih ngeyel, apalagi beberapa ada yang menjawab, “Yaudah hidup juga hidup gue, kalau gue kena infeksi ya gue yang sakit, kalau gue mati ya udah kan selesai? Intinya yang rugi gue sendiri,” Itu jelas jawaban yang salah besar. Kita nggak tau sebenernya udah terinfeksi Covid-19 apa belum. Bagaimana kalau kita ternyata positif terinfeksi tetapi kita nggak tau? Kalau balik ke rumah pasti kontak sama keluarga, keluarga jadi berisiko terinfeksi dong. Semisal pun udah ketahuan kena infeksi terus dibawa ke rumah sakit, ya paramedis yang mengurusi juga berisiko tertular infeksi Covid-19.

Perumpamaan di atas adalah analogi kita nakal dan males-malesan itu nggak cuma merugikan diri sendiri, tapi ada imbasnya ke orang lain dan lingkungan. Rugi orang tua susah payah menanggung kebutuhan hidup dan bayarin SPP mahal-mahal, eh kitanya justru kerjaannya cuma menghamburkan uang untuk nongkrong sana-sini. Masyarakat juga rugi dong, gara-gara nakal dan malesnya kita, seharusnya di masyarakat kita bisa memberi manfaat, kenyataannya justru menambah beban. Sekarang coba deh mengubah mindset kita. Kalau kita nakal dan males-malesan tu bukan cuma ngerugiin diri sendiri, tapi orang lain dan lingkungan bakal ikut rugi.

 

 

  1. Kita adalah tumpuan bangsa

Tahun 2030, Indonesia bakal dapet bonus demografi. Masa ketika penduduk dengan usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibanding penduduk usia di bawah 15 tahun maupun di atas 64 tahun. Prediksinya di masa itu penduduk usia produktif akan sebesar 64% dari total jumlah penduduk yang diperkirakan sebanyak 297 juta jiwa (Kominfo, 2019). Kuantitas usia produktif yang fantastis, bukan? Hal yang berpengaruh untuk mendapatkan bonus demografi bukan dari kuantitas usia produktifnya, tapi tergantung peran penduduk usia produktif ini untuk memajukan Indonesia alias kualitas apa sih yang bisa dibanggakan dari penduduk usia produktif? Untuk mencapai bonus demografi itu tentunya dari sekarang para generasi muda harus bersiap-siap untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang.

Harus dicoba dari sekarang untuk berperan menghadapi persoalan yang terjadi agar kita tumbuh menjadi sosok tangguh dalam mengadapi tantangan zaman di masa yang akan datang. Jika dari sekarang presentase kenakalan remaja kian meningkat, tiap hari cuma males-malesan, maka mendapatkan bonus demografi 2030 hanya akan menjadi ekspektasi semata. Kuantitas fantastis usia produktif tidak lagi bisa dibanggakan, bahkan justru bisa berbalik menjadi beban bagi negara. Sadar atau tidak, pemuda (penduduk usia produktif) adalah tumpuan suatu bangsa. Untuk jadi pemuda yang ideal seiring bergeraknya zaman kita harus kuat dalam spiritual, intelektual, dan emosional. Pokoknya itu semua tidak akan bisa dicapai kalau kita hanya bermalas-malasan.

 

  1. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban

Perlu diketahui bahwa umur dan masa muda akan menjadi dua di antara lima hal yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) Tentang umurnya untuk apa digunakan, bagaimana ilmunya diamalkan, masa muda untuk apa dihabiskan, hartanya darimana didapatkan dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuh untuk apa digunakan. (HR Tirmidzi)

 

Ketika kita kelak ditanya, “Dulu waktu umur 20 tahun, apa yang sudah kamu lakukan?”, lalu kita hanya akan menjawab sekenanya, “Emm nongkrong di cafe, foya-foya, menghamburkan uang orang tua, males-malesan.” Tentu nggak akan lolos ‘LPJ’-an ke Allah dong, kalau seperti itu jawabannya. Masa muda adalah masa yang diapit dua kelemahan yaitu masa anak-anak dan lansia. Tubuh pemuda masih bugar dan pikirannya masih segar harusnya digunakan untuk memberikan banyak kebermanfaatan. Itulah kenapa pertanggungjawaban masa muda sangatlah berat di akhirat.

 

Kalau empat alasan itu belum cukup untuk membuat kita bangkit dari rebahan, males-malesan, coba deh dibuka lagi Al-Qur’an yang sudah lama tidak tersentuh. Lalu cari ayat-ayat Al Qur’an yang menegaskan tentang produktivitas. Contohnya seperti yang terdapat di dalam surat Al Insyirah ayat 7, bunyinya, “faidza faraghta fanshab” yang artinya “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), segeralah bekerja keras untuk urusan lain.” Kenapa Allah memerintahkan menggunakan huruf “fa” bukan “wa” atau “tsumma”? Karena kita diperintahkan untuk melakukan segala sesuatu dengan segera, sedangkan “wa” hanya untuk fase jeda pendek dan “tsumma” jeda panjang. Bukankah perintah untuk produktif telah tertulis dengan jelas? Kalau pekerjaan pertama sudah kelar, maka segerakan untuk melanjutkan ke pekerjaan selanjutnya tanpa perlu ditunda-tunda.

Lha terus rebahan nggak boleh gitu? Boleh dong, asal jangan berlebihan. Kalau lelah ya istirahat, kalau lelah boleh aja rebah. Rebahan sambil bermalas-malasan memang nikmat, tapi hanya akan menjadikan kita sebagai budak zaman. Terus berkarya memang melelahkan, tetapi akan menjadikan kita sebagai pemilik zaman. Coba deh relain nyamannya rebahan sambil males-malesan buat berkarya walau melelahkan, tapi lebih dekat dengan kebermanfaatan.

 

                                 DAFTAR PUSTAKA

Muqtadir, MA. (2020). Kaum Rebahan Beri Perubahan. Jakarta Selatan: Bhumi Anoma.

 

Oleh Hamnah Al Atsariyah

(Kader IMM Farmasi UAD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: