Siapa Bilang Kritikan adalah Cinta

 

 

 

Manusia merupakan makhluk istimewa ciptaan Tuhan yang berbeda dari makhluk lain nya. Di dalam Al-Qur’an  “manusia” disebut dengan  beberapa kata (bahasa Al-Qur’an). Adakalanya manusia disebut Bani Adam, An-Nas, atau Al-Insan. Berbeda dengan malaikat yang wajib (mutlak) menaati seluruh perintah Tuhan, manusia diciptakan dengan diberi kebebasan untuk memilih, fa alhama haa fujuroha watakwahaa. Dikatakan bahwa lupa dan salah adalah hal yang manusiawi, meskipun ungkapan ini kurang tepat dijadikan alasan untuk menolak kritikan dan peringatan.

Kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Kritik bisa dilakukan dengan bentuk lisan, tulisan, atau tindakan. Dari zaman ke zaman seni mengkritik pun berbeda-beda,. Jika di zaman “jahiliah” orang mengkritik menggunakan bait-bait syair, maka di zaman para ulama, abad pertengahan, orang-orang mengkritik lewat tulisan (berupa kitab).  Ini tentunya harus menjadi spirit keilmuan, bahwa berbeda pandangan maka harus berani beradu gagasan. Dengan kata lain bertarunglah dengan cara seorang intelektual, tanpa harus marah, memaki atau menghujat, sebaliknya ungkapkanlah gagasan dengan metode ilmiah dan tepat sasaran langsung pada inti persoalan. Lalu kemudian masuk pada era dimana  orang-orang mengkritik secara langsung, melalui lisan – misal dengan berupa orasi, dan tindakan – misal dengan aksi demontrasi, sampai kemudian di era serba digital ini orang-orang mulai mengkritik dengan tulisan, salah satunya melalui media sosial.

Namun ada hal lain yang menurut saya penting untuk diperhatikan bahwa dalam mengkritik, saya merujuk pada disiplin keilmuan yang saya pelajari yaitu berkaitan dengan apa yang disebut dengan “jarh wa ta’dil” yang artinya memberikan penilaian baik atau tidak nya seseorang. Saya akan mencoba menyederhanakan bahasanya agar mudah dipahami oleh pembaca.

 

Adab-Adab Pengkritik

Dalam mengkritik, sebaiknya dilakukan berdasarkan pada adab, diantaranya :

  1. Konsistensi dalam memberikan penilaian terhadap objek yang dikritik
  2. Memberikan penilaian negatif sesuai dengan kadarnya
  3. Tidak hanya memberikan penilaian negatif saja terhadap objek yang dikritik, jikalau objek yang dikritik tersebut juga mempunyai sisi-sisi terpuji, karena hal itu dapat menafikan aspek kebaikan nya.
  4. Tidak dibolehkan memberikan penilaian negatif terhadap objek yang dikritik yang tidak sepantasnya untuk dicela

 

Metodologi dalam Mengkritik

Disamping itu, sekiranya perlu mengetahui metode dalam mengkritik, diantaranya :

  1. Bersikap objektif dan amanah dalam melakukan kritikan.
  2. Tidak boleh hanya mengkritik tentang kelemahan objek yang dikritik jika terdapat sisi positifnya maka harus disampaikan
  3. Tidak boleh mengkritik secara berlebihan.
  4. Tidak boleh mengkritik objek yang tidak perlu dritik

 

Dari uraian diatas, artinya bahwa kritikan yang dilemparkan secara membabi buta tanpa memperhatikan adab-adab sebagai seorang intelektual muslim bukanlah cinta. Sebagai contoh, Imam Al-Ghazali yang tak sepakat dengan beberapa pendapat dari para filsuf muslim seperti Ibnu Sina, Al-kindi, dan Al-Farabi, tetapi Imam Al-Ghazali dalam mengkritik para filsuf muslim tersebut, beliau hanya mengkritik apa yang perlu dikritik, jika dilihat dalam kitab tahafut al-falasifah nya beliau menyertakan alasan yang lengkap dan jelas. Kemudian muncul Abu Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd yang membantah Al-Ghazali melalui kitabnya thahafut at-thahafut tapi lagi-lagi dengan cara yang amat santun, misalnya tergambar dari ungkapannya; “Al-ghazali salah paham,” ini menandakan bahwa Ibn Rusyd tetap tidak menyalahkan atau menghakimi   Imam Al-Ghazali sebagai objek yang dikritik, sebaliknya Ibn Rusyd justru mengakui dan mengagumi keilmuan imam Al-Ghazali, itulah makna “kritikan adalah cinta” yang sebenarnya. Saya tutup tulisan ini dengan ungkapan dari seorang master mentalist dalam dunia sulap Deddy Corbuzier bahwa,kau boleh benci dengan perilaku seseorang, tapi jangan sekali-kali benci dengan orang nya.”

Wallahu’alam bishowab

Sekian terimakasih

Mohon maaf atas segala kesalahan

 

Oleh IMMawan Snipper

(Kader IMM FAI UAD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: