Kritik Itu Bukan Cinta

Sebuah kritik untuk Esei “Siapa Bilang Kritikan Adalah Cinta” yang ditulis IMMawan Snipper

Kritik secara bahasa diambil dari kata krities, yang dalam bahasa Yunani berarti menghakimi, membandingkan atau menimbang. Dalam konteks sastra, kritik bukan hanya soal menampakkan yang buruk-buruk saja dalam karya seseorang, melainkan juga kelebihan di dalamnya. Mengkritik suatu karya artinya menganalisis baik-buruknya karya tersebut dengan metode-metode tertentu. Tampaknya, telah terjadi penyempitan makna “kritik” dalam bahasa Indonesia, yang sekadar dimaknai mencari sebagai celaan; cela; kecaman; kupas (masalah-masalah).

Dalam bahasa Arab, kritik dikenal dengan istilah Naqd. Dalam buku “Studies in Hadit Methodology and Literature” karya M. Azami disebutkan, kata Naqd ini muncul pada awal-awal abad kedua Hijriah, yang dalam literatur Arab bermakna “menemukan kesalahan dalam perkataan ataupun dalam syair”. Dalam Lisanul Arabnya (kamus arab ke arab) Ibnu Manzhur, naqd bermakna “memisahkan uang asli dari uang palsu”.

Bisa kita tangkap dari dua pengertian di atas, bahwa kritik haruslah bersifat akademis. Mengapa? Karena konsekuensi dari kritik adalah tanggung jawab. Jika hanya berbicara baik-buruk tanpa argumen yang bisa dipertanggung jawabkan, itu sama sekali bukanlah kritik melainkan omong kosong belaka.

Pertama-tama, izinkan saya mengambil ibrah dari Al-Qur’an menyoal kritik-mengkritik dalam berbagai sudut pandang, kondisi psikologis pengkritik dan yang dikritik, beserta konteks maupun situasi-situasinya. Anda bisa mencarinya dalam kisah Nabi Musa yang berhadapan dengan Ramses II (QS Taha: 43-44). Bunyinya begini “Pergilah kamu berdua kepada fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut”. Allah memerintahkan untuk berbicara dengan lemah-lembut supaya Ramses II ingat akan kesalahannya lalu takut kepada Tuhan yang sebenarnya. Nah, jika kita mau merenungkan lebih dalam, muncul pertanyaan mengapa Allah menyuruh Musa dan Harun untuk menyampaikan kritiknya dengan bahasa yang lemah lembut kepada penguasa yang sangat kejam dan arogan seperti Ramses II?

Satu, Ramses II pernah menjadi ayah angkat nabi Musa, dialah yang membesarkannya, dan kelak anak yang diasuhnya ini akan menjatuhkan kekuasaannya jua. Sebagai seorang anak, nabi Musa harus tetap bersikap lemah-lembut di hadapan ayah angkatnya sebagai tanda hormat karena telah mengasuhnya hingga menjadi pemuda yang pemberani.

Dua, Musa dan Harun hanyalah rakyat biasa, akses yang bisa ditempuh saat itu hanyalah berdiplomasi dengan lemah-lembut. Dengan kecerdasan yang mereka miliki, Ramses betul-betul kalang-kabut menanggapi argumen keduanya. Kondisi sebagai rakyat biasa memaksa mereka untuk berdialog dengan Ramses II yang memiliki bala tentara lengkap dengan senjatanya.

Tiga, Ramses II senantiasa diagung-agungkan di hadapan rakyatnya. Jika Musa dan Harun memilih jalur “tidak damai”, maka bisa membahayakan diri mereka sendiri. Apalagi, Bani Israil tidak disukai oleh bangsa Mesir saat itu.

Apa yang menjadi ketakutan Musa di awal terbukti, yang terjadi bukannya Ramses II menerima ajakan untuk takut kepada Allah melainkan Musa, harun, beserta semua Bani Israil dikejar-kejar sampai ke laut Merah. Untung saja, Allah hadir saat itu.

Sebenarnya, Saya hanya mau bilang, lemah-lembut dalam mengkritik ternyata tidak berhasil jika yang dikritik hatinya keras dan tidak mau mendengar. Bagaimana cara supaya yang dikritik mau mendengar?

Jika dilihat dari sudut pandang yang lain, kritik nabi Musa berhasil. Berhasil karena dengan kritiknya, Ramses II marah dan mengejar Musa sampai ke laut merah. Ternyata sesampainya di tengah laut merah, Ramses II tenggelam. Tentunya Ramses II tak akan tenggelam jika nabi Musa tidak membuatnya marah di awal kan?

Saya kecewa terhadap tulisan IMMawan Snipper membacanya berulang kali, mengapa tulisan beliau hanya mengulang persoalan-persoalan yang sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan. Ditambah, makna kritik dalam esai IMMawan Snipper hanya berbicara dalam konteks bagaimana adab dan metodologi yang baik dalam mengkritik. Akar persoalan sama sekali tidak tersentuh, cabang Djazman yang selama ini minim gerakan khususnya dalam narasi intelektual tidak menjadi prioritas IMMawan Snipper. Sama halnya dengan berbicara lingkungan, jika kita hanya membahas masalah bagaimana adab kepada lingkungan, dan bagaimana metodologi mengolah sampah tanpa menempatkannya dalam narasi pertentangan kelas akibat kapitalisme yang menghasilkan sistem ekonomi yang ekstraktif, sekadar mengambil dari alam tanpa memperbaiki, maka akar persoalan tidak akan pernah tersentuh. Beginilah saya mengibaratkan esei IMMawan Snipper.

Artinya, berbicara kritik bukan hanya sekadar bagaimana adab dan metodologi yang “baik” sebagaimana yang dicontohkan oleh nabi Musa kepada Ramses II, tetapi bagaimana caranya supaya kritik kita bisa tepat sasaran dalam arti yang dikritik bisa menyadari kesalahannya, bermuhasabah, lalu membenahi langkahnya ke depan. Artinya, sebelum bebicara adab dan metodologi, ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi:

1.    Jangan libatkan perasaan. Karena kita bertarung argumen, bukan bertarung emosi.

2.    Siapkan argumentasi maupun data untuk menyanggah.

3.    Niatkan sedari awal, kritikmu harus didengarkan, soalnya kita bukan nabi Musa yang bisa sesabar itu, apalagi menghadapi penguasa zalim layaknya Ramses II. Sudah penguasanya buruk, ayahnya sendiri pulak. Untuk apa mengkritik jika tidak diniatkan untuk didengarkan? Berniat itu wajib. Siapa yang menentukan? Allah dan kecerdasanmu.

4.    Tentukan, apa bentuk kritikmu, dan melalui apa? Misalnya jika kamu mengkritik lewat media sosial, pastikan bahasamu bisa dipahami dan direspon oleh yang kamu kritik. Atau jika kamu ingin mengkritik lewat sebuah karya, pastikan orang yang kamu tuju membacanya. Di sini, perlu menimbang seberapa jauh kekuatan maupun daya tangkap kita dengan orang yang dituju.

5.    Konsekuensi berada di pimpinan suatu organisasi misalnya, harus tahan banting terhadap kritik. Yang namanya kritik bisa berupa mulai dari yang paling halus sampai yang paling kasar (perbedaan antara halus dan kasar tidak akan pernah ada kalau anda tidak baperan)

6.    Perhatikan psikologis anda sendiri maupun yang dituju. Ada hadis, “jangan menghukumi seseorang jika kamu berada dalam keadaan marah”. Ini penting karena jikalau orang yang kita kritik ini lebih tua, atau dianggap lebih berilmu daripada kita, perlu pendekatan khusus semisal ngopi santai.

7.    Kalaupun mau lebih halus dan menyakitkan, kritiklah dengan tindakan. Tindakan di sini bukan hanya soal demonstrasi. Kita perlu mengetahui duduk persoalannya, lalu bermusyawarah dengan kawan-kawan yang lain, kemudian mengeksekusi secepat mungkin. Misal, di komisariat ada program-program yang masih mengambang, maka kita yang mengetahui hal itu harus menuntaskannya, atau merangkul kawan-kawan secara perlahan supaya bisa terlaksana. Dan bersikaplah seperti biasa tanpa mengharapkan imbalan. Di akhir, hanya orang-orang yang tidak tahu malu saja jika ia merasa tak bersalah.

 

Berbicara soal adab dan metode sebagaimana yang disampaikan oleh IMMawan Snipper, sepertinya perlu saya garis bawahi juga:

1.    Ilmu Jahr wa Ta’dil memandang keburukan seseorang terlebih dahulu lalu mengemukakan kebaikannya. Konsekuensinya, jika mengkritik jangan sampai ada bahasa “sesuai kadarnya”, karena untuk mengoreksi suatu kesalahan haruslah dengan cara menampakkan seluruh kesalahan-kesalahannya secara terperinci. Jika tidak, bagaimana caranya kita mau membangun kalau masih ada bahasa “sesuai kadarnya”. Kadar di sinipun tak jelas maksudnya apa, apakah itu bahasa kita, atau cara menyampaikannya, ataukah argumennya? Jujur saja, poin ke dua dalam sub judul “adab-adab pengkritik” cukup ambigu untuk dipahami.

2.    Soal adab. Tentu yang namanya kritik haruslah beradab. Kita semua sepakat dengan hal itu. Tetapi, bagaimana jika kita merasa sudah memenuhi adab ini dan tetap diacuhkan? Akankah kita hanya berpangku tangan dan sekadar bilang “yang penting kritik saya sudah sampaikan”. Apalagi jika bicara kritik dalam organisasi pergerakan seperti IMM. Tidak ada ruang untuk mengatakan “Manusia tempatnya salah”. Kesalahan akan menjadi sebuah batu loncatan kemajuan jika kita mau mengambil kritik tersebut (jika argumennya kuat dan valid)

3.     Poin ketiga dalam sub judul “adab-adab pengkritik” tertulis: “Tidak hanya memberikan penilaian negatif saja terhadap objek yang dikritik, jikalau objek yang dikritik tersebut juga mempunyai sisi-sisi terpuji, karena hal itu dapat menafikan aspek kebaikannya”. Baik, Begini, yang namanya kritik itu perlu radikal (mendalam/mengakar), biar menyentuh akar persoalan. Selain radikal, perlu juga komprehensif, yakni betul-betul menampakkan titik-titik mana saja yang perlu dibenahi. Apa salahnya jika kritik kita kepada kawan misalnya bersifat negatif semua, toh itu sudah konsekuensi. Kita tidak bisa membatasi pemikiran seseorang dengan dalih “jangan hanya menyalahkan, perlihatkan juga kebaikannya”. Bukan seperti itu, kita ini mau mengoreksi ada berapa lubang yang terdapat dalam gelas supaya bisa ditambal atau diganti ulang. Tidak perlulah untuk memuji “oh ini gelasnya masih cantik, tapi banyak lubangnya”. Kenapa tidak langsung blak-blakan saja bilang “ganti saja ini gelasnya, sudah rusak”. Kalau diibaratkan seperti itu.

4.    Begitu pula dengan poin ke-4 dalam sub judul yang sama, cukup lucu saya kira, untuk apa memberikan penilaian negatif terhadap objek yang memang tidak pantas untuk dicela? Bukannya kita sepakat bahwa gagasan haruslah bersifat ilmiah? Untuk apa saya mencela sesuatu yang memang tidak pantas untuk dicela? Ini hanya bentuk pengulangan bahasa saja. Sepertinya IMMawan Snipper butuh ngopi lebih banyak. Mungkin, sederhananya IMMawan Snipper memaksudkan untuk tidak mencela warna kulit, agama, ras, dan semua yang bersifat SARA. Iya jika konteksnya kritik kita dalam konteks pergerakan IMM. Tetapi kalau kritik di sini konteksnya adalah kritik terhadap agama lain? Seperti yang dilakukan Dzakir Naik di beberapa Negara, mungkin itu sah-sah saja karena didasarkan dengan argumentasi. IMMawan Snipper tidak menjelaskan kritik apa yang dimaksud di sini. Dan objek apa yang tidak perlu dikritik di sini sangat ambigu maknanya.

5.    Begitu pula yang dijelaskan IMMawan Snipper dalam sub judul “metodologi dalam mengkritik”, empat poin yang tertera di sana secara substansial sama saja dengan apa yang sudah disebutkan dalam sub judul “adab-adab pengkritik”.

6.    Yang saya herankan, mengapa hanya “pengkritik” saja yang harus beradab, apa tidak ada adab bagi yang mendengarkan kritik? Nah, IMMawan Snipper, mohon maaf sekali lagi, anda betul-betul kekurangan kopi. Logical fallacy telah terjadi dalam tulisan (pikiran) anda.

7.    Lalu apa adab bagi yang dikritik? Satu, mendengarkan, memperhatikan, dan menyimak secara serius orang yang mengkritiknya jika posisinya saat itu adalah bertemu langsung. jika kritiknya adalah melalui tulisan atau artikel, makan perlu dibaca sampai habis lalu direspon secara aktif. Dua, berusaha bermuhasabah dan menerima kritikan dari orang tersebut. Tiga, jika dalam konteks gerakan IMM, maka kita harus bertanggung jawab dengan ucapan maupun perbuatan dalam sehari-hari. Empat, Kita wajib menerima kritik demi kemajuan bersama. Jika kita tetap berkeras hati dan tidak mau menerima krititk, maka perlu bagi kita untuk memeriksa dua hal, hati dan pikiran.

 

IMMawan Snipper menyimpulkan, bahwa kritikan yang dilemparkan secara membabi buta tanpa memperhatikan adab-adab sebagai seorang intelektual Muslim bukanlah cinta.

Sepertinya, IMMawan Snipper tidak bisa membedakan mana kritik mana misuh kepada orang. Begini, adalah kesepakatan bahwa kritik haruslah bersifat akademis, ilmiah, dan bisa dipertanggung jawabkan. Bukan lagi namanya kritik jika ia bersifat membabi buta seperti supir angkot meneriaki tukang ojek online supaya minggir dari jalan. Penyebutan kritik yang dilemparkan secara membabi buta itu tak ada dalam kamus akademis manapun. Kategorisasi kritik itu hanya ada jika ditempatkan dalam suatu disiplin ilmu tertentu, misal kritik sastra, dll. Seharusnya, sesuatu yang diucapkan secara membabi buta mending dijauhkan dari kategori kritik.

Selanjutnya, untuk mendukung argumennya, IMMawan Snipper mencontohkan kisah Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Keduanya mempunyai riwayat pernah saling mengkritik di bawah bendera besar Filsafat. Bisakah ini disebut dengan kritik-mengkritik yang santun? Tidak. Mengapa? Memangnya ini soal perasaan jadi harus melibatkan sopan atau santun? Tentu tidak. Dan keduanya pun sudah sama-sama memahami apa yang dimaksudkan adab itu. Mereka saling menyerang secara membabi buta dengan peluru-peluru argumen yang panas.

Tak tanggung-tanggung, Imam Al-Ghazali memuntahkan peluru pertamanya bahwa filosof itu zindiq bahkan kafir karena tidak meyakini adanya hari akhir. Jika orang yang tidak tahu makna kritik, pasti menganggap itu adalah sebuah hinaan. Tetapi tidak halnya jika ia mengetahui makna kritik seperti Ibnu Rusyd menempatkan posisinya sebagai yang dikritik. Ibnu Rusyd menyerang juga dengan keahlian di luar filsafatnya, karena beliau memang juga merupakan ulama yang memahami pokok-pokok perkara dalam Islam. Beliau menjawab bahwa hal itu tidak benar, kendati para filosof tidak sependapat dengan kebanyakan ulama fiqh mengenai interpretasi terhadap hari akhir. Ibnu Rusyd mempertegas bahwa ini adalah masalah “Penafsiran terhadap teks agama” yang tidak terlepas dari subjektivitas si penafsir atau dengan kata lain, Ibnu Rusyd menyalahkan Imam Al-Ghazali. Kita tidak usah menutup-nutupi kata “menyalahkan” di sini, karena kita berbicara konteks kritik secara akademis dan dipertanggung jawabkan secara intelektual.

IMMawan Snipper menganggap kisah dua maestro kita ini sebagai makna “kritikan adalah cinta yang sebenarnya”. Saya tidak terlalu paham dengan pernyataan filosofis seperti itu. Saya cukup meyakini bahwa kritik adalah kritik, cinta adalah cinta. Keduanya bisa menyatu jika pengkritik dan yang dikritik sama-sama menyadari, tetapi sepertinya itu sulit terjadi jika makna kritik yang saya pahami dari IMMawan Snipper masih simpang siur.

Oh iya, satu hal lagi, apakah IMMawan Snipper pernah membaca atau setidaknya mendengar kisah perseteruan dua maestro sastra di Indonesia, yakni Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka mengenai  plagiasi  novel kapal Van Der Wijck? Jika belum, coba anda membaca dan menganalisis perdebatan mereka. Eh salah bukan perdebatan, lebih tepatnya kritikan Pram yang ngeri terhadap Buya Hamka, tokoh yang dihormati di Muhammadiyah. Buya Hamka sama sekali tak membalas kritikan dari Pram, yang mendakwahnya plagiat. Sampai-sampai, peluru sangat tajam menembus telinga buya Hamka, “kalau memang anda ulama yang mengajarkan kebaikan kepada orang-orang, mengapa anda tidak membela diri dari tuduhan pram, jangan-jangan tuduhan itu benar”? ini murni perdebatan intelektual. Inilah episode kritik-mengkritik yang elegan dari Pram terhadap ulama yang sangat dihormati. Walaupun di akhir, keduanya saling memaafkan secara halus. Pram mengirim anaknya belajar agama ke Buya Hamka, tanda kepercayaan Pram kepada keilmuan Buya Hamka.

Dari kisah Imam Al Ghazali vs Ibnu Rusyd sampai Pramoedya Ananta Toer vs Buya Hamka, tidak ada kita dapati di awal untuk mengingatkan lawannya supaya mengkritik dengan cara beradab. Seperti yang dilakukan IMMawan Snipper terhadap kita-kita yang baru saja mau memulai mengkritik cabang Djazman Al-Kindi demi kemajuan kita semua. Belum apa-apa, kita sudah diperingatkan untuk mentaati adab dan metodologi mengkritik. Sungguh, suatu kemunduran intelektual yang nyata.

IMMawan Snipper ini adalah kader IMM FAI yang luar biasa. Tetapi sayang, ia menyembunyikan identitasnya dan (mungkin) mengibaratkan dirinya seperti snipper yang memantau gerak-gerik lawan maupun kawannya dari kejauhan. Hanya saja anda bukan penembak yang jitu, IMMawan Snipper. Mohon maaf, senjatanya saya ambil dulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Identitas Diri

Nama saya A.R. Bahry Al Farizi, akrabnya disapa Jek. Sekarang anggota PK IMM FAI. Kuliah di UAD, jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Angkatan 2018. Asal dari Sulawesi Selatan. Suka nongkrong di mana saja asal ada sebat sama kopi heheheh.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: