Kritik Itu Cinta

Tulisan yang selalu dirindukan untuk saling bertegur sapa

 

Mencoba mengawali dengan sedikit bernostalgia akan romantisme cinta masa lalu yang hari ini terulang kembali romantisme itu, dimana bertegur sapa melalui tulisan antara ide dan gagasan seperti yang IMMawan Sniper dan IMMawan Jek lakukan. Sebelum ini, romantisme saling lempar ide dan gagasan dalam bentuk tulisan pun terjadi di dalam lingkungan IMM, dikala tulisan dengan judul IMM; Ikatan Mahasiswa Manja menjadi awal saling lempar tulisan itu terjadi. Selanjutnya melihat kebelakang akan kisah romantisme itu antara Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer serta antara al-Ghazali dan Ibnu Rusyd. Terlepas dari metode atau cara mengkritik dan adab berkritik yang disampaikan seperti apa yang telah disampaikan oleh IMMawan sebelumnya (IMMawan Sniper & IMMawan Jek) terkait dengan tulisan yang berjudul “Kritik Itu Bukan Cinta”.

 

Saya sudahi romantisme mala lalu, kita bangun romantisme hari ini dengan segelas kopi sebagai teman santai.

 

Mengawali dari sebuah definisi untuk menyamakan persepsi akan sebuah arti. Awali dengan mendefenisikan kata kritik. IMMawan Snipper maupun IMMawan Jek dalam tulisan sebelumnya sudah banyak memaparkan akan arti dari kritik. Disini saya sedikit saja menambahkan, kritik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.[1] Kritik membuka diri untuk perdebatan, mencoba  untuk meyakinkan orang lain, dan mengandung kontradiksi. Dengan demikian kritik menjadi tukar pendapat publik. Kritik tidak hanya menyangkut soal rasa baik, tetapi harus melibatkan cara-cara analisis dan bentuk-bentuk pengalaman khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain pada umumnya.[2] Menurut pandangan Curtis, kritik diartikan sebagai masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.[3] Kritik selalu menginginkan perbaikan dan perubahan dengan selalu menghadirkan ide dan gagasan serta dapat dipertanggungjawabkan.

 

Cinta sederhanya adalah lima huruf yang sulit didefenisikan. Kenapa sulit? Karena pada dasarnya cinta merupakan sifat yang subjektif dan masing-masing orang memiliki penjelasan yang berbeda-berbeda, tergantung dari pengalaman yang pernah dialami. Meskipun cinta itu sult didefenisikan, tapi beberapa ahli tampaknya tergoda untuk memberikan pengertian tentang cinta berdasarkan pandangannya masing-masing.            Berikut ini pengertian cinta yang pernah diungkapkan oleh para ahli:[4] Rabi’ah Al-‘Adawiyah: cinta adalah ungkapan kerinduan dan gambaran perasaan yang terdalam. Siapa yang merasakannya, niscaya akan mengenalinya. Namun, siapa yang mencoba untuk menyifatinya, pasti akan gagal; Jalaluddin Rumi: cinta adalah sumber segala sesuatu. Dunia dan kehidupan muncul karena kekuatan yang bernama cinta. Cinta adalah inti dari segala bentuk kehidupan di dunia; Kahlil Gibran: cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia karena cinta itu membangkitkan semangat hukum-hukum kemanusiaan dan gejala-gejala alami pun tak bisa mengubah perjalanannya. Cinta ibarat seekor burung yang cantik, meminta untuk ditangkap tapi menolak untuk disakiti; Mahmud bin Asy-Syarif: cinta adalah sebuah kerinduan yang tidak berujung, sebuah rasa kangen yang meletup-letup, dan sebuah kegilaan yang tidak berkesudahan; Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziah: cinta adalah luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih; Abu ‘Abdullah An-Nibaji: cinta adalah kesenangan jika itu ditujukan kepada makhluk, dan pembinasaan jika itu ditujukan kepada pencipta; Musfir bin Said az-Zahrani: cinta adalah satu emosi terpenting dalam kehidupan manusia. Faktor terpenting dalam menyatukan hati-hati manusia dan pembentukan kasih saying di antara sesama mereka; Ibnu ‘Abdush Shamad: cinta adalah yang mendatangkan kebutaan dan ketulian, cinta membutakan segalanya kecuali terhadap yang dicintai sehingga orang itu tidak melihat apa pun; Abdullah Nashih ‘Ulwan: cinta adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya dengan penuh gairah, lembut, dan kasih saying; Quraish Shihab: cinta adalah kencendrungan hati kepada sesuatu karena kenikmatan atau manfaat yang dapat diperoleh dari yang dicintai; Swihart: cinta adalah usaha aktif produktif yang melibatkan komitmen, penghargaan, perhatian, dan rasa persatuan; Eric Fromm: cinta adalah suatu seni yang memerlukan pengetahuan serta latihan.

 

Cinta adalah suatu kegiatan dan bukan merupakan pengaruh yang pasif. Salah satu esensi dari cinta adalah adanya kreativitas dalam diri seseorang, terutama dalam aspek memberi dan bukan hanya menerima; Hamka: cinta adalah perasaan yang mesti ada pada setiap manusia. Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih, dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, dan perkara tercela lainnya. Tetapi jika ia jatuh ke tanah yang subur, disana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi, dan lain-lain yang terpuji; Scott Peck: cinta adalah keinginan untuk mengembangkan diri sendiri dengan maksud memelihara pertumbuhan spiritual sendiri atau perkembangan spiritual orang lain; Afdan: cinta itu adalah Sriwahyuni

 

Kritik Itu Cinta

Pertanyaan yang kemudian hadir adalah mengapa kritik itu cinta? Padahal, secara defenisi meiliki arti yang berbeda-beda. Pada kesempatan kali ini saya sedikit (tidak banyak) akan berbicara soal kritik itu cinta.  Orang yang mengkritik sederhananya adalah orang yang tidak hanya memikirkan kehidupannya sendiri, melainkan ikut serta dalam memikirkan selain kehidupannya sendiri (baik itu berupa suatu kehidupan orang lain maupun suatu lembaga/organisasi). Kenapa bisa begitu? Karena, jika ada yang mampu menghadirkan sebuah kritik (yang kita maknai sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan bukan omong kosong) berarti dalam sebagain waktunya di selipkan untuk memikirkan sebuah perubahan pada apa yang dikritiknya. Apakah itu bukan cinta? Jika sebagian waktunya dibagikan untuk orang lain. Sehingga cinta dalam arti ini adalah membagi 24 jam waktu kita untuk orang lain. Tidak banyak yang membagikan waktunya untuk orang lain apalagi untuk organisasi kita untuk sebuah perubahan kedepannya.

Terlepas dari metode dan adab untuk mengkritik, pemimpin yang diberikan amanah tidak boleh menutup telinga akan kritikan yang masuk. Terbukalah mata dan telinga untuk melihat dan mendengar kritik yang masuk, karena kritik itu cinta bukan hinaan.

 

Nama IMMawan Ilhamsyah Muhammad Nurdin, sering disapa Ilham / Sultan Cinta. Sekarang Ketua Umum PC IMM Djazman al-Kindi Kota Yogyakarta. Kuliah di UAD, jurusan Teknik Filsafat Elektro. Asal dari Nusa Tenggara Timur, Lembata, Kedang, Wairiang.

 

 

Referensi:

Eagleton,Tery. 2003. Fungsi Kritik . Yogyakarta: Kanisius

Dan B. Curtis, et al.1996. Komunikasi Bisnis dan Profesional. Jakarta: Rosda Jayaputra Kurniawan, Harlis. 2009. Revolusi Cinta. Jakarta: Lingkar Pena Kreativa.

  1. Asyhari. 2006. Tafsir Cinta: Tebarkan Kebajikan dengan Spirit Al-Quran. Jakarta: Hikmah.

Rosyadi, Khoirul. 2000. Cinta & keterasingan. Yogyakarta: LKiS

 KBBI online

http://Pengertianahli.id/pengertian cinta menurut para ahli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: