Hypebeast Ala Kader Merah Marun Millenial

Dewasa ini, kita tentu sering mendengar istilah hypebeast. Istilah itu sangat popular di semua kalangan, terutama di kalangan anak muda atau remaja. Maka tidak afdhol jika kita sering mengatakannya tetapi tidak mengetahui definisi dari hypebeast itu sendiri. Dilansir dari kamus online Urban Dictionary memberikan dua makna pada kata hypebeast. Makna pertama mengacu pada anak muda yang mengoleksi pakaian, sepatu, dan aksesoris demi terlihat keren di depan publik. Makna kedua mengacu pada mereka yang terobsesi (beast) dengan segala sesuatu yang bersifat kekinian (hype), khususnya untuk persoalan pakaian.
Mayoritas penganut hypebeast adalah para remaja yang dijuluki sebagai ‘selebgram’ yang selalu dituntut berpenampilan modis, menarik, dan kekinian. Semua yang mereka lakukan hanyalah semata untuk mendapat like dan pujian. Kaum hypebeast juga terobsesi bukan hanya untuk uptade dengan apapun yang bersifat kekinian, namun juga memastikan harus memiliki atau merasakannya. Mereka selalu memantau keluaran barang-barang terbaru dari berbagai merek yang memiliki label ‘limited edition’.
Lalu, bagaimana sikap kita sebagai kader merah marun (IMM) menghadapi dan mengikuti perkembangan hypebeast yang kian lama makin merebak ini? Yang pertama, sebagai kader IMM boleh saja untuk mengikuti trend hypebeast ini tetapi dengan tetap tidak meninggalkan prinsip-prinsip syari’at. Kedua, kita hubungkan dengan Tri Kompetensi Dasar yang ada di IMM, yaitu Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas. Dalam artian, hypebeast disini bukan pamer kekayaan, brand-brand terkenal atau apapun itu yang berhubungan dengan popularitas.
Dari sisi Religiusitas, yakni hubungan hypebeast dengan religiusitas kita hari ini adalah adanya pola yang sama antara kehidupan kaum hypebeast dengan kesholihan kita hari ini. Bukankah kita selama ini begitu terobsesi untuk mengunjungi Makkah baik lewat jalan umrah maupun haji dan tak lupa untuk selfie dengan latar belakang Ka’bah? Sebagai kader IMM hendaknya bukan terobsesi kepada fashion-fashion ala hypebeast yang harganya fantastis tetapi dengan cara meningkatkan ibadah, pengetahuan agama, dan hal-hal yang mendukung untuk meningkatkan kesholihan kita, karena kata orang-orang IMM itu berisi orang yang ‘alim’, maka dengan peningkatan ibadah kita bisa menjadi role model dalam perkaderan maupun dalam masyarakat tapi perlu diingat tanpa adanya embe-embel untuk pamer terhadap kesholihan dan ilmu yang dimiliki.
Kemudian dari segi Intelektualitas, kader IMM hendaknya memiliki pemahaman-pemahaman yang baik, pemikiran-pemikiran yang matang dan rasional, literasi yang baik, serta pengambilan keputusan yang mantap dan berani untuk mempertanggung jawabkannya karena kader IMM yang baik adalah demikian. Lebih baik memiliki obsesi untuk membeli buku-buku bacaan yang menunjang perkaderan, meningkatkan ilmu dan pengetahuan, bukan untuk membeli produk-produk untuk menjadi hypebeast.
Dan terakhir dari sisi Humanitas, kita sudah tau semua bahwa di IMM tidak akan lepas dari Humanitas. Jika melihat di masa sekarang dimana wabah COVID-19 menjadi pandemik di seluruh dunia ada baiknya sebagai seorang kader yang memegang erat Humanitas, uang dan harta yang kita miliki jangan hanya dibelanjakan kebutuhan untuk menjadi hypebeast, tetapi kita sisihkan sedikit untuk membantu para relawan, tenaga medis, dan orang-orang yang terdampak wabah ini (pekerja informal, ojol, dan lain sebagainya yang tidak memiliki penghasilan tetap atau pekerjaan tetap). Kalau kita belum mampu dari segi harta, minimal dari pengorbanan seperti menggalang dana, mencari donator atau apapun itu yang bisa menghasilkan sesuatu yang bisa membantu dan didonasikan.
Jikalau minimal sudah memiliki satu diantara itu atau memiliki semuanya, kader IMM bisa saja disebut sebagai kader hypebeast, dalam artian dia sebagai generasi penerus persyarikatan Muhammadiyah memiliki obsesi untuk menambah pengetahuan-pengetahuan dan ilmu-ilmu baru yang kekinian tetapi bukan sebagai ajang untuk ujub atau bangga diri. Dengan demikian, hypebeast ala kader merah marun bukan hanya memiliki fashion dan barang branded tetapi juga tidak melupakan tugasnya sebagai generasi penerus persyarikatan dan tidak meninggalkan ideologi yang sudah dipegang erat. Karena jika kita mengikuti perkembangan hypebeast tanpa ada kontrol maka akan sia-sia atau membuang-buang waktu, harta, dan kesempatan. Lebih baik kita meningkatkan derajat keimanan dan taqwa kita kepada Allah, meningkatan pengetahuan, memperdalam ilmu, dan memperbanyak diskusi sebagai salah satu keunggulan dari kader IMM.

 

Oleh Abdillah Fajar IIkhsan (Kabid RPK PK IMM JPMIPA UAD 2019-2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: