Menelaah Makna Ilmu dan Amal Dari Ibnul Qoyyim

             Dalam kamus besar bahasa Indonesia makna menelaah salah satunya mempelajari[1], mempelajari disini ialah bagaimana kita memahami atas kesadaran keilmuan itu dapat di bangun ditengah-tengah kehidupan, sebagai sarana pembangun sumber daya yang berkeadaban dan maju dalam pemikirannya.

Ilmu

Ilmu sendiri bermakna pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode yang ilmiah yang dapat digunakan untuk menjelaskan dan menerangkan kondisi tertentu dalam bidang pengetahuan[2]. Maka dengan demikian ilmu menjadi fondasi dalam kerangka pengetahuan secara mendalam.

Amal

Amal dalam makna sederhananya sebuah perbuatan baik maupun buruk, sebagai contohnya ibadah umat manusia kepada Tuhan nya untuk mengabdikan dirinya kepadanya. Selain dari pada itu tugas sebagai manusia sebagai khalifah, dalam hal ini memiliki tujuan untuk memberikan manfaat kepada sesama manusia, sebagaimana tertuangkan dalam hadits “Khoiru’naas an’fauuhum linnas” sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan sebagai umat manusia sudah seharusnya berbuat demikian dan menjauhi segala berbuatan yang buruk, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran untuk menciptakan kebermanfaatan hidup didunia ini.

Biografi Ibnul Qoyyim

Memiliki nama lengkap Ibnul Qoyyim al-Jawziyyah nama populer untuk Syams ad-Din Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayub bin Sa’ad bin Haris az-Zar’i ad-dimasqi[3]. Ibnul Qoyyim dilahirkan di Damaskus pada tanggal 7 Syafar 691 H bertepatan dengan 29 Januarai 1292 M.

Ilmu dan Amal ibnul Qoyyim

Ibnul Qoyyim mengawali perjalanannya dalam rangka menuntut ilmu masih diumur yang relatif masih muda, saat itu berusia 7 tahun, telah memulai penyimakan hadits dan ilmu-ilmu lainnya di majelis-majelis para guru beliau. Pada usia ini juga telah menyimak beberapa juz berkaitan dengan Ta’bir ar-Ruyaa (tafsir mimpi)  dari gurunya beliau Syihabudin al-Abir. Hal ini juga didukung dalam lingkungan keluarganya yang dilingkupi dengan ilmu, keluarga yang religius dan memiliki banyak keutamaan. Ayahnya bernama Abu bakar bin Ayyub az-Zura’i dan berperan sebagai pengasuh al-madrasah al-Jauziyah. Maka dari sinilah Ibnul Qpyyim belajar dari asuhan serta bimbingan ayahnya secara langsung secara ilmiyah. Disamping itu karena hidup dilingkungan ilmiah yang sempurna, maka beliau mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk pengembangan ilmu, sehingga banyak karya intelektualnya di jadikan sumber ilmu.[4]

Pada dasarnya pemikiran-pemikiran Ibnul Qoyyim al-Jawaziyah bersifat pembaharuan. Tak terkecuali alam bidang Tasawuf, Ibnul Qoyyim al-Jawaziyah menghendaki agar Tasawuf dikembalikan kepada sumber aslinya yaitu Al-Qur’an dan as-Sunnah dan tanpa penyimpangan-penyimpangan[5]. Dan Ibnul Qoyyim al-Jawaziyah menolak taklid dan membuka pintu ijtihad serta kebebasan dalam berfikir[6]. Gelora pemikiran Ibnul Qoyyim al-Jawaziyah yang tegas dan berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul, menolak taklid menyerang bid’ah dan khurafat, dapat dipahamu apabila kita melihat situasi dan kondisi Gelora pemikiran Ibnul Qoyyim al-Jawaziyah hidup, pada akhir abad ke tujuh dan awal abad ke delapan[7]

Begitulah Ibnul Qoyyim al-Jawaziyah memahami dan meneladini sebuah ilmu yang menolak bentuk taklid tanpa mengetahui sebab dan akibatnya. Melainkan menginginkan sebuah kebebasan dalam berfikir sebagaimana telah dijelaskan seblumnya, maka tak khayal apabila beliau berhasil melahirkan karya-karya besar sebagai buah dari pemikirannya seperti Ighatsah al-lahfan min Masyayidi asy-Syaithan serta Raudhatu al-Muhibin wa Nuzhatu al-musytaqqin dan masih banyak lagi karyanya berjumlah 94.,

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata memyifati diri beliau bahwa biasanya setelah mengerjakan Shalat shubuh duduk ditemapat beliau berzikir, Kepada Allah hingga hari telah meninggi Ibnul Qoyyim berkata “Haruslah bagi seorang yang meniti jalan hidayah memiliki kemauan kuat yang akan mendorongnya dan mengangkatnya serta ilmu yang akan menjadikannya mengerti atau yakin dan memberinya hidyah atau petunjuk”

 

Oleh : Wahyu Tri Nur Ahmad Firdaus (Kabid Hikmah PC IMM Djazman Al-Kindi Kota Yogyakarta periode 2019/2020)

 

Daftar pustaka

Kamus besar bahasa indonesia

Depag, Ri Ensiklopedia islam diindonesia

RA Gunadi dan M. Shoelhi (peny.) Khazanah orang besar islam

M, Laily Mansur, ajaran dan teladan para sufi

  1. Khudari Bek, Tarikh at-Tasyri al-Islami

Ibnu Kasir, al bidayah wa an-nihayah

 

 

[1] KBBI

[2] KBBI

[3] Depag, Ri Ensiklopedia islam diindonesia ‘

[4] RA Gunadi dan M. Shoelhi (peny.) Khazanah orang besar islam

[5] M, Laily Mansur, ajaran dan teladan para sufi

[6] M. Khudari Bek, Tarikh at-Tasyri al-Islami

[7] Ibnu Kasir, al bidayah wa an-nihayah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: