Quarintine is Quality Time

Quarantine dalam bahasa Indonesia memiliki arti Karantina dan dalam bahasa Italia memiliki arti 40, istilah ini berawal dari sejarah pada  abad 14 di Vanesia yang bermaksud untuk melindungi kota – kota pesisir dari wabah (pandemik).  Saat itu wabah yang sedang berkembang adalah penyakit  PES yaitu sebuah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia pestis dan kemudian dikenal dengan istilah Black Death (maut hitam) karena mampu membunuh sekitar sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa. Sehingga kebijakan quarantine/karantina di terapkan dengan berdiam diri pada suatu tempat selama 40 hari sebelum masuk wilayah lainnya.

Pada abad 21 ini kembali ditemukan virus baru yang sama berbahayanya dengan virus PES pada abad 14 di Vanessia. Virus ini bernama Coronavirus Disease (COVID 19) yang bemula dari seekor kelelawar di Wuhan China. Kemudian menular pada tubuh manusia yang menyebabkan kematian pada seorang yang tidak memiliki sistem imun yang kuat dalam tubuhnya. Akhirnya kebijakan karantina diambil guna memutus rantai penularan dari virus mematikan ini.

Hampir setiap negara yang terpapar virus ini menerapkan karantina demi kebaikan bersama, dengan menghentikan setiap aktifitas yang menimbulkan percepatan penyebaran virus seperti di pusat perbelanjaan, di tempat hiburan, sampai pada tempat peribadatan.

Tidak banyak aktifitas yang dapat mereka lakukan  dalam masa karantina tersebut, karena keterbatasan ruang dan fasilitas yang tersedia. Sehingga masing – masing individu harus berupaya semaksimal mungkin  untuk tetap bertahan sampai batas waktu yang telah ditentukan demi terputusnya rantai penyebaran virus tersebut.

Terpenjara ?

Sebagian orang beranggapan karantina ini berimbas pada dunia industri dan ekonomi, sehingga menyebabkan merosotnya pendapatan Masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagian yang lainnya (terutama anak muda) beranggapan karantina ini adalah situasi dimana manusia tidak diberikan kebebasan dalam berekpresi lebih. Terkekang oleh keadaan bak hidup dalam sebuah kurungan penjara.

Stigma negatif tentang penjara sudah terdoktrin bagi siapa saja yang mendengarnya, tetapi stigma negatif itu dapat terbantahkan oleh mereka yang sempat terjerumus didalamnya, karena semua itu tergantung oleh sudut pandang indivdu dan bagaimana individu tersebut mampu menghadapi situasi yang ada. Contoh positif yang pernah masuk dalam penjara adalah Presiden Turki, Recep Thayib Erdogan, dan H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA).

Erdogan pernah dipenjara (1998) karena membacakan sebuah puisi yang kontroversial mengenai perbandingan masjid dengan barak, menara dengan bayonet serta keimanan dengan tentara. Dengan vonis kurungan selama 10 bulan.

Buya Hamka juga pernah  dipenjara (1964), Hamka dipenjara oleh pemerintah Orde Lama selama dua tahun empat bulan. Pemerintah menuduh Hamka telah melanggar undang-undang Anti-Subversif Pempres No. 11. Lebih spesifik ia dituduh terlibat merencanakan pembunuhan terhadap pemimpin besar revolusi, Presiden Soekarno.

Dari dua sosok diatas, kita dapat mengambil kearifan mereka selama menetap didalam penjara dan setelah keluar dari penjara.

Erdogan selama di penjara mampu menghasilkan pemikiran – pemikiran genius yang kemudian di suarakan setelah keluar dari penjara dan diterima oleh banyak kalangan dengan ikut berkontribusi membangun partai Keadilan dan Pembangunan setelah partai islam Erbakan di larang. Sehingga saat ini mampu terpilih menjadi pemimpin tertinggi Turki (Presiden). Kemudian Buya Hamka semasa menjalani hukuman selama 2 tahun dalam penjara mampu menyelesaikan tafsir Al – Qur’an yang diberi nama tafsir Al – Azhar.

Quality time !

Meski dengan keterbatasan ruang, dan fasilitas yang ada mereka tidak hilang ditelan waktu, melainkan mereka mampu mengoptimalkan keterbatasan itu dengan menghasilkan karya yang besar.

Quarantine adalah waktu yang berharga bagi kita untuk lebih mengenal diri sendiri, dan lebih serius mengasah kemampuan diri, agar menjadi pribadi yang unggul dan siap terjun menghadapi tantangan masa depan. Tidak mudah latah dan terjerumus pada keburukan.

Maka dari itu perlunya kita menentukan arah hidup ini. Hidup hanya sekali dan harus berarti !. “kalo hidup sekedar hidup, babi dihutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera dirimba juga bekerja.” Buya Hamka

Oleh:

IMMawan Iqbal Tawakal (Ketua Umum PK IMM Rasyd Ridha 2019-2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: