Covid-19 diantara Narasi Lingkungan yang Kontradiktif

 

Dahulu kami pikir, penyakit paling berbahaya adalah penyakit jantung, sehingga kalau saya demam tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Tapi bagaimana dengan tragedi kematian yang dimulai dengan demam, flu, batuk dan kemudian meninggal? Ternyata covid-19 membuat penderita memiliki gejala demikian. Sampai hari ini (16 April 2020), jumlah kasus virus corona menembus angka dua juta lebih didunia. Dilansir dari tirto.id1, sebanyak 134.607 diantaranya meninggal. Terlihat cukup psimis untuk membuka tulisan ini dengan narasi yang baik. Pasalnya, beberapa problema pun muncul seiring dengan penyebaran virus ini. Kesehatan, ekonomi, dan berpengaruh terhadap mental psikis masyarakat. Sebenarnya, bagaimanakah proses penyebaran virus ini dalam tubuh manusia? Penyebaran virus ini dimulai ketika menyerang sel cilia paru-paru yang berfungsi menyaring kotoran. Sel cilia yang rusak akan membuat penderita merasakan sesak karena pada fase ini paru-paru mulai dipenuhi oleh kotoran. Menyadari hal itu, sistem imun akan mengirim sel imun, namun yang terjadi sel imun justru merusak sel paru-paru yang sehat dan menggerusnya hingga sistem pernapasan gagal.

Semenjak ditetapkan menjadi pandemi beberapa negara memberlakukan sistem lockdown. Pembatasan aktivitas diruang publik diterapkan sebagai usaha mengurangi penularan. Beberapa perusahaan memberlakukan sistem kerja dari rumah dan sekolah pun menggunakan sistem daring. Jalanan mulai sepi, pabrik industri dan transportasi massal berhenti beroperasi, tempat wisata dilarang dikunjungi dan beberapa tempat publik lainnya. Aktivitas masyarakat hari demi hari mulai dibatasi. Tanpa disadari, seiring dengan kebijakan tersebut, terdapat dampak yang signifikan terhadap pengurangan polusi udara. Muncullah perbincangan menarik tentang dampak positif covid-19, yakni perubahan iklim dalam skala yang besar dan berpengaruh terhadap lingkungan kita dimana katanya bumi mulai membaik.

 

Benarkah Bumi Membaik?

Dilansir dari artikel voi2, proyeksi satelit milik Amerika Serikat (AS) telah mengukur tingkat kesehatan vegetatif di bumi yang hasilnya memperlihatkan tingkat kehijauan dibumi naik secara signifkan selama masa pandemi covid-19. Masih dari artikel yang sama, citra satelit dari sejumlah negara pun memperlihatkan bagaimana tingkat polusi dibumi menurun cukup drastis. Polusi udara memang hal yang buruk. Setidaknya, polusi udara menurunkan harapan hidup global dan barangkali memangkas peluang hidup kita. Berdasarkan pemberitaan dari beberapa media, terjadi pengurangan produksi sampah dibeberapa daerah. Seperti yang dilansir dari trubus3, di Jakarta sampah berkurang 620 ton per hari. Hal ini dikarenakan sampah dari tempat komoditas seperti hotel, mall, dan tempat wisata juga berkurang. Hal serupa juga terjadi di Cirebon, dimana volume sampah disana menurun. Sehingga muncul perspektif baik dengan mencari dampak positif covid-19, yakni narasi tentang keadaan bumi yang mulai membaik karena corona. Apakah bumi memang membaik?

Namun, coba bayangkan, apa yang akan terjadi jika pandemi ini sudah usai? Ya, pabrik industri kembali beroperasi, jalanan mulai sibuk, dan barangkali mereka akan beroperasi dua kali lipat lebih produktif untuk mengejar ketertinggalan. Kapitalisme akan tetap berjalan dan ada dalam setiap sendi kehidupan kita tanpa memungkirinya. Covid-19 memang memiliki jejak buruk untuk sistem perekonomian global. Sehingga kemungkinan semua sektor ekonomi akan kembali digenjot lebih sering untuk mengembalikan dampak buruk terhadap perekonomian pasca pandemi. Dengan kata lain, covid-19 bukanlah solusi mutakhir untuk menjawab persoalan lingkungan kita hari ini. Jika memang bumi harus membaik, maka bumi akan membaik tanpa harus mengorbankan nyawa manusia. Seluruh narasi tentang ‘bumi membaik’, justru melahirkan polemik dimana kita seolah-olah peduli lingkungan tapi menggagalkan seluruh narasi kemanusiaan kita. Bumi dan manusia harus membaik bersama, berjalan beriringan dan senada agar kita mampu selaras ditengah berbagai macam problema.

 

Bumi dan Manusia harus Membaik Bersama

Dibutuhkan narasi yang cukup filosofis untuk tetap berjalan beriringan dengan selaras antara bumi dan manusia untuk saling menjaga. Pasalnya, narasi filosofis ini barangkali susah diterima akal manusia yang hiper-rasionalis. Yakni memperlakukan alam sebagai entitas yang bernyawa sebagaimana kita. Mengilhami bahwa alam adalah entitas hidup yang perlu dijaga, akan menggilas seluruh pandangan antroposentris kita. Dengan begitu, pandangan ekonomi kapitalistik akan menjadi suram dihadapan narasi filosofis ini. Vandana Shiva mengatakan bahwa harmoni antara alam dan manusia mendorong terjadinya kesinambungan kehidupan yang berlangsung lama. Jadi, untuk menjawab persoalan lingkungan kita hari ini, wabah corona bukan jawaban yang tepat sebagai solusinya. Namun manusia dengan segala pandangannya tentang alam yang perlu diperbaharui. Hal ini melibatkan seluruh daya spiritual dan kekuatan transendental dalam diri manusia itu sendiri. Yakni meyakini bahwa sumber daya alam yang disediakan kepada manusia adalah untuk dijaga.

Dengan adanya wabah ini, memang banyak hikmah yang bisa dipetik. Namun menyimpulkan bahwa pandemi sebagai solusi masalah lingkungan kita, rasa-rasanya tidak manusiawi karena banyaknya nyawa manusia yang hilang. Agaknya sangat kontradiktif jika angka kematian yang diakibatkan oleh wabah ini membuat lingkungan kita lebih baik. Lingkungan kita akan lebih baik jika manusia berperilaku baik terhadap alam. Kita juga perlu mengubah perspektif lebih baik lagi. Jika kita menganggap bahwa bumi sedang istirahat untuk memperbaiki diri, maka setelah ini, kita juga mampu mengubah perilaku kita untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar bumi tetap baik-baik saja dan mempertahankan kelestarian lingkungan yang sustainable kedepannya.

 

Resilient Community sebagai Solusi ditengah Pandemi

Tentunya penulis ingin menyelipkan sedikit perspektif tentang bagaimana solusi dalam menghadapi wabah ini. Dalam kondisi krisis seperti ini, ketika negara justru malah sibuk mengurusi praktik politik ditingkat atas, yang kita butuh adalah sebuah resilient community ditingkat bawah, yakni sebuah komunitas yang saling bahu membahu dalam menyelesaikan masalah, saling mendukung juga menjaga dalam segala aspek. Komunitas yang seperti ini bergerak dalam setiap lini masyarakat dan meningkatkan kohesivitas sebagai sebuah kelompok dan berusaha menjadi satu. Bisa dikatakan, kohesivitas adalah sebuah proses yang dinamis. Proses ini yang merefleksikan kecenderungan masyarakat untuk tetap bersatu mencapai tujuan demi kemaslahatan bersama (Carron dalam Harun & Mahmood dalam Krisnasari & Purnomo, 2017)4. Ketika pemegang kekuasaan tidak bisa diandalkan sepenuhnya, maka kita, masyarakat ditingkat bawah mulai mengambil peran, setidaknya sebagai individu dalam kelompok manusia.

Resilient community juga mencerminkan usaha-usaha untuk saling meluruskan informasi, serta berbagi sumber daya untuk menjaga ketahanan pangan bersama. Mengenai ketahanan pangan, tentunya perlu diolah dengan rantai pasok yang efisien dan sistem pendistribusian yang manusiawi agar mampu menghadapi krisis dengan adil dan setara. Seperti yang terjadi di masyarakat pedesaan di Temanggung, dimana setiap rumah memanfaatkan lahan pekarangan 3×3 meter sebagai media menanam tanaman pangan untuk menjaga ketahanan pangan keluarga dan tetangganya. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi jika kondisi beberapa bulan kedepan belum membaik. Bertahun lamanya kita mempelajari tentang demokrasi, tapi semoga kita tidak lupa bahwa demokrasi bukan hanya tentang ritual banal tapi juga sebuah pedoman hidup kolektif dan kelompok yang bisa diamini dalam pikiran dan perilaku keseharian kita sebagai manusia. Pasca covid-19 masyarakat perlu merekonstruksi ulang pandangan tentang lingkungan agar tidak terjadi ketimpangan antara kemanusiaan dan kelestarian bumi kita. Semoga manusia dan bumi akan membaik bersama.

 

 

Referensi        :

  1. 2020. Update Corona 16 April 2020 di Dunia: Kasus Covid-19 Tembus 2 Juta. https://tirto.id/update-corona-16-april-2020-di-dunia-kasus-19-tembus-2-juta-eNDm. Diakses, 16 April 2020.

 

  1. 2020. Bumi yang Kembali ‘Bernapas’ Selama Pandemi Corona. https://voi.id/artikel/baca/4037/bumi-yang-kembali-bernapas-selama-pandemi-corona. Diakses, 16 April 2020.

 

  1. 2020. Epidemi Corona Sebabkan Sampah Jakarta Berkurang 620 Ton per Hari.https://m.trubus.id/baca/36221/epidemi-corona-sebabkan-sampah-jakarta-berkurang-berkurang-620-Ton-per-Hari. Diakses, 16 April 2020.

 

  1. Krisnasari dan Purnomo. 2017. Hubungan Kohesivitas Dengan Kemalasan Sosial Pada Mahasiwa. Jurnal Psikologi, 13(1), 14-21.

 

Oleh: Oleh Widya Miftahul Hasanah (Sekbid RPK PC IMM Djazman al-Kindi 2019-2020)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: