Refleksi Hari Pahlawan

FORUM BEM SURABAYA, BELAJAR SEJARAH DULU SEBELUM MELAKUKAN REFLEKSI HARI PAHLAWAN

 

Surabaya, 10 November 1945, tengah berada dalam kecamuk Revolusi. Hampir di tiap sudut kota ditemukan jasad bergelimpangan penuh darah. Surabaya terbakar, oleh amarah arek-arek Suroboyo dan asap yang mengepul dari sisa-sisa peluru api.

Berawal dari invasi Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allier Forces for Netherlands East Indische) memiliki misi pengamanan di Indonesia. Setelah dilihat lebih jauh, ternyata AFNEI memboncengi Belanda yang terhimpun dalam NICA (Netherland Indies Civil Administrations).

Di Surabaya Sekutu mendarat dan membebaskan tawanan perang Belanda dari kamp interniran. Ibarat mendapat angin segar, terjadi euoforia di tengah-tengah para tawanan perang yang dibebaskan. Orang Belanda menaikkan bendera triwarna merah-putih-biru pada malam harinya. Sebuah pesta perayaan yang membikin marah penduduk kota.

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya sukses membikin Sekutu kalang kabut. Sorang jenderal mereka, A.W.S. Mallaby mampus. Tak kurang dari 2.000 tentara Sekutu tewas di tangan arek-arek Suroboyo. Pertempuran ini juga diwarnai dengan kejadian perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje.

***

“Cak Har, beritahukan pada arek-arek Suroboyo, perjuangan ini jangan sampai berhenti!”

 

Itulah sedikit riwayat tentang Pertempuran Surabaya yang sengaja aku sertakan untuk dibaca Adinda Forum BEM Surabaya. Tentu tidak akan cukup, tapi aku yakin, akademisi seperti kalian pasti jauh lebih mengerti terkait sejarah keberanian arek-arek Suroboyo, kota tempat kalian belajar sekaligus kota tempat kalian menjadi pengkhianat gerakan rakyat (Laskar Rakjat, kalau memakai bahasa Pertempuran 10 November, Surabaya).

Berawal dari gelaran Deklarasi Damai dan Refleksi Hari Pahlawan 10 November  di Titik Nol Jawa Timur atau Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya, pada Senin 09 November 2020.

Adinda Forum BEM Surabaya yang tediri dari 16 perwakilan dari 10 perguruan tinggi di Surabaya, yaitu Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS), Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), STAIL Surabaya, STAI Ar Rosyid, Universitas Bhayangkara (UBHARA), Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKMS), STAI Al Fitrah, Taswirul Afkar, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan Universitas Kristen Widya Mandala (UWM).

Dalam deklarasi damai tersebut, para Adinda Forum BEM Surabaya menegaskan sikap, bahwa mereka bukanlah bagian daripada Gerakan Tolak Omnibus Law (GETOL). Sialnya, mereka juga mendakwa diri tengah melakukan Refleksi Hari Pahlawan. Pertanyaannya, refleksi Hari Pahlawan mana yang tidak merestui aksi Anarkis dengan tuduhan akan mengganggu kondusifitas Kota Surabaya?

Salah satu bagian dari sejarah Pertempuran Surabaya yang mungkin terlewat oleh Adinda Forum BEM Surabaya ialah ketika Inggri mengutus Jenderal Hawthorne untuk meminta Soekarno memerintahkan pasukan di Surabaya menghentikan perang. Setelah gencatan senjata ditandatangani, Mallaby memberi perintah agar pasukannya menarik diri. Mengira Surabaya aman, Mallaby mencari restoran di sekitar Jembatan Merah sebelum akhirnya sebuah peluru bersarang di dadanya, ia mampus. Tak cukup sebutir peluru, sebuah granat menerobos masuk dalam mobil dan meledak. Mallaby tewas juga terpanggang.

Inggris memberang dan menunjuk Mayjen Robert Mansergh melucuti senjata rakyat Surabaya. Bung Tomo, Soemarsono, dan semua pemimpin rakyat Surabaya merespon dengar keras. Gubernur Surjo mendatangi laskar-laskar pemuda, membakar semangat pasukan. Dan Pertempuran Surabaya dimulai.

Perang Surabaya merupakan perang besar yang mempertemukan kekuatan manusia di sisi rakyat Surabaya dan keunggulan senjata di pihak Inggris. Soekarno menghentikan perang ketika rakyat Surabaya diambang kemenangan. Karenanya, bangsa ini tak punya perang besar yang berhasil dimenangkan.

Pertempuran Surabaya juga tak luput pula dari perhatian Tan Malaka. Tan melihat heroisme pemuda Surabaya sebagai modal perjuangan guna meraih kemerdekaan 100%. Ah, tapi mana mungkin 16 orang pemuda lembek yang tergabung dalam Forum BEM Surabaya ini bisa meneladani Tan Malaka. Tidak mungkin dan mustahil, mana mau mereka membakar kota seperti yang dilakukan pemuda Surabaya di zaman yang telah lalu.

Sementara jauh di Vietnam sana, Ho Chi Minh tentu belajar dari kesalahan Soekarno. Ia menolak mentah-mentah gencatan senjata ketika pasukan Prancis terdesak di Dien Bien Phu, Maret 1954. Bagi Paman Ho, tidak ada perundingan sebelum perang dimenangkan. Sayang sekali, Adinda Forum BEM Surabaya yang tidak tuntas membaca sejarah ini enggan belajar dari kesalahan Soekarno.

Di akhir tulisan ini, merespon Konferensi Pers Forum BEM Surabaya yang tertuang dalam pernyataan sikap mereka pada poin 4, “Kami Forum BEM Surabaya Akan Tetap Mengawal Issue yang Sedang Berkembang Terkait disahkannya Omnibus Law dengan Cara-Cara Akademis”. Mengutip ungkapan  Gus Dur, seorang ulama, (hal ini kulakukan sebab takut dituduh sebagai antek-antek Communist kerna tadi aku membicarakan Tan Malaka dan Ho Chi Minh). Lebih kurang, begini kata Gus Dur, “Melawan negara dengan cara-cara hukum adalah hal bodoh. Sudah jelas mereka menguasai segalanya termasuk hukum, kok malah melawan dengan mengikuti cara main mereka”.

Singkatnya, Adinda Forum BEM Surabaya, sebelum melakukan Refleksi Hari Pahlawan aku memerintahkan kalian untuk membaca sejarah terlebih dahulu. Akan tetapi kalau Adinda Forum BEM Surabaya malas membaca, buatlah Konferensi Pers dan Pernyataan Sikap baru, yang menyebutkan bahwa kalian merupakan bagian dari Gerakan Tolak Omnibus Law Surabaya (tanpa embel-embel ajakan menghindari aksi Anarkis demi kondusifitas kota dan hal-hal memalukan lainnya). Hal yang demikian tentu lebih tepat Adinda lakukan untuk merefleksikan Hari Pahlawan di Kota Pahlawan. Jangan takut kena marah bu Risma, dia baik dan menyayangi taman bunga.

 

IMMawan Syauqi Khaikal, (Massa Aksi Tolak Omnibus Law Jogja yang mencintai Kota Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: