Memahami Covid-19 lewat kacamata Agama dan Sains

Oleh : A.R. Bahry Al Farizi (Kabid RPK PK IMM FAI UAD Periode 2020-2021)

 

Maret 2020 lalu, Kita sempat dikagetkan oleh ceramah salah seorang ustadz kondang yang mengatakan virus Corona adalah ”Tentara Allah”. Kemudian datanglah bantahan dari macam-macam pihak, termasuk di antara sesama pendakwah. Bisa dibilang, pendapat-pendapat yang lahir dari penghayatan keagamaan itu nampaknya bertabrakan secara langsung dengan prinsip-prinsip sains dan ilmu kedokteran. Padahal ada adagium yang menyatakan secara jelas bahwa Islam itu Shalih li kulli zaman wa makan (kontekstual). Lucu saja jika di zaman penguasaan teknologi adalah sebuah keniscayaan seperti saat ini lantas kita masih disibukkan dengan perdebatan yang seharusnya telah diselesaikan oleh sains modern.

Walaupun hanya tafsir atau interpretasi, ini bisa menjadi gambaran bagi kita bahwa masih ada paradigma beragama yang mengabaikan hubungan agama dengan sains. Tentu saja, pendapat semacam itu hanya lahir dari mistifikasi yang menghasilkan sikap apatis terhadap sains.

Menurut Kuntowijoyo, setidaknya ada lima mistik yang ada pada orang Islam, yaitu misitk metafisik, mistik sosial, mistik etis, mistik penalaran, dan mistik kenyataan. Mistifikasi yang dimaksud di atas adalah mistik kenyataan. Mistik kenyataan ialah menutup mata terhadap kenyataan atau realitas yang ada. Kalau bahasa Kuntowijoyo “Agama kehilangan kontak dengan realitas, dengan aktualitas, dengan kehidupan”. Maka dari itu, menurut beliau, perlu dilakukan demistifikasi.

Diibaratkan seorang dokter yang mengeluarkan racun dari tubuh pasien, begitulah peran intelektual Islam dalam mengeluarkan paham mistik kenyataan pada tubuh umat ini. Demistifikasi adalah upaya pengilmuan islam yang dilakukan supaya adanya korespondensi atau kesinambungan antara teks (naql) dan konteks (aql). Jadi umat tidak hanya berpikir mengenai bagaimana cara hidup bahagia di akhirat kelak, tetapi juga memikirkan nasib kelanjutan anak-cucunya di dunia. Agama dan sains mampu menggandeng manusia untuk menciptakan kebahagiaan di dunia. Karena integrasi antara agama dan sains tidak bisa dihindari. Kedua-duanya merupakan bekal umat manusia untuk menghadapi masa depan.

Sebagai langkah awal dalam memahami integrasi antara agama dan sains, alangkah baiknya jika kita mengulas sedikit mengenai asal usul Covid-19 ini. Benarkah virus ini dikirim oleh Allah sebagai tentara yang memerangi China karena telah menindas bangsa Uighur? Atau sebagai teguran terhadap manusia-manusia modern yang sudah tidak mengindahkan nilai-nilai agama sebagaimana yang dikatakan oleh para pendakwah itu?

Pertama-tama perlu dipetakan terlebih dahulu, kemunculan Covid-19 ini merupakan bencana alam (Natural Disaster) ataukah akibat ulah manusia (Man-Made Disaster)?

Bosman Batubara dalam tulisannya yang berjudul “Defisit Pengetahuan Global Menghadapi Man-Made Disaster dan Implikasinya Bagi Warga Negara di Negara Berkembang” cukup menjelaskan bagaimana kurangnya pengetahuan kita mengenai kebencanaan.

“Sekarang ini, ketika orang menyebutkan kata disaster, yang dalam bahasa Indonesia kita sebut dengan “bencana”, maka hampir dapat ditebak bahwa imajinasi orang akan langsung menuju kejadian-kejadian seperti tsunami, gempabumi, dan letusan gunung berapi. Suatu kejadian yang tidak dapat kita cegah, atau katakan saja “Acts Of God”… “Dalam perkembangannya, bencana alam yang merupakan Acts Of God ini ternyata menjadi bencana mainstream. Hal ini menimbulkan beberapa implikasi berupa kurangnya studi terhadap man-made disaster, dan ini bertolak belakang dengan bencana alam yang sudah sangat luas dipelajari”… “Padahal kalau ditinjau dari dampak yang ditimbulkannya, maka terbukti bahwa man-made disaster memiliki dampak yang tak kalah destruktif, dalam kasus-kasus tertentu bahkan lebih destruktif”. Kurang lebih begitu yang dituliskan oleh Bosman Batubara.

Pengetahuan kebencanaan kita sebagaimana yang dijelaskan di atas sangatlah timpang. Bencana alam lebih banyak dikaji ketimbang bencana akibat ulah manusia. Akhirnya, bencana yang diakibatkan ulah manusia bahkan tidak dianggap sebagai bencana dikarenakan pengetahuan kebencanaan kita hanya sebatas bencana alam.

Prof. Johan Iskandar, PhD, pakar etnobiologi Unpad menyatakan bahwa Covid-19 ini muncul akibat ketidak-harmonisan hubungan antara manusia dengan alam. Perambahan hutan, pengrusakan hutan, perburuan hewan liar hingga perdangan hewan, semua kegiatan ini tentu saja mempunyai akibat yang fatal, yaitu rusaknya ekosistem. Ketika ekosistem sudah rusak, maka penyakit yang awalnya hanya menyebar di antara hewan ikut juga menyebar ke manusia. Diketahui, kelelawar menjadi reservoir (organisme yang menjadi tempat hidup dan berkembang biak bagi parasit yang patogenik terhadap spesies lain, biasanya tanpa merusak inangnya) utama dari virus SARS-Cov-2 yang memicu Covid-19.

Jadi bisa disimpulkan, bahwa pandemi Covid-19 ini masuk dalam man-made disaster atau bencana akibat ulah manusia. Nah, man-made disaster tentunya bisa kita cegah karena bencana tersebut berasal dari tangan kita sendiri. Manusia perlu diingatkan untuk menjaga hubungan dengan alam. Atau dengan kata lain, kita perlu paradigma Teo-ekosentrisme dalam memandang hubungan alam dan manusia, dan meninggalkan paradigma antroposentris yang menganggap bahwa manusia adalah pusat alam semesta.

Sains modern membukakan pintu bagi kita untuk bisa lebih memahami kondisi alam kita. Sangat tepat sekali jika disandingkan dengan agama, karena agama mempunyai aturan-aturan bagaimana sebaiknya manusia membangun hubungan dengan alam agar harmonis dan saling menjaga. Masalah akan muncul di sini, apakah sains semata-mata membawa manfaat bagi manusia ataukah justru bisa menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri? Kita bisa melihat sendiri, kerusakan alam ini sebagian besar pelakunya adalah industri yang memang  eksploitatif terhadap alam. Kemajuan teknologi yang mendorong kemajuan industri tentunya menjadi argumen menarik bahwa sains tidak semata-mata memberi manfaat bagi manusia, tetapi bisa juga memberi dampak destruktif yang sangat besar bukan hanya bagi manusia saja.

Bahkan ada fakta yang sangat menarik, bahwa justru yang paling berhasil dalam menjaga hubungan harmonis dengan alam adalah suku-suku pedalaman yang ada di Indonesia, sebutlah suku Kajang di Sulawesi Selatan. Keyakinan akan sakralitas alam membuat hubungan mereka dengan alam terjalin dengan baik, sehingga kehidupan yang mereka jalani bisa damai dan sejahtera. Tetapi, mulai terusik ketika banyak perusahaan yang menginginkan eksploitasi besar-besaran. Inilah Salah satu kesombongan sains yang harus diredakan oleh agama. Sains jika tanpa dibimbing oleh nilai-nilai keagamaan yang mengandung moral, etika, adab, maka lahirlah manusia yang angkuh, yang ingin menaklukkan segalanya.

Apakah hanya sains yang bisa menyelesaikan persoalan Covid-19 ini? Tentu saja tidak. Yuval Noah Harari meyakini bahwa ancaman terbesar Covid-19 ini bukanlah penyakit itu sendiri, melainkan nurani kita, kebencian kita, keserakahan dan ketidaktahuan kita sendiri. Ia meyakini, manusia memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir untuk mengatasi virus ini. Masalahnya, ditakutkan reaksi yang ditimbulkan oleh Covid-19 ini adalah menyalahkan negara lain atau etnis tertentu, justru mempertegang hubungan kemanusiaan kita di saat krisis seperti ini membutuhkan solidaritas global.

Jadi, sains hanya berhenti pada titik ini. Dengan sains, kita bisa melewati pandemi ini walaupun sudah menelan korban yang cukup banyak. Tetapi yang perlu dicatat, sains tidak berdiri sendiri dalam menghadapi perang Covid-19, ada juga agama yang selalu siap sedia membantu. Dengan ajaran-ajaran agama, kita bisa memperkuat rasa kemanusiaan kita, di samping kita percaya pada pakar dalam menghadapi Covid-19 ini.

Dalam sumber-sumber agama Islam disebutkan, bagaimana seorang manusia harus menjaga hak-hak hidupnya. Dalam ilmu Ushul Fiqh, ada namanya Maqashid-Syariah atau tujuan-tujuan syariat. Ada lima yaitu menjaga agama, menjaga akal, menjaga keturunan, menjaga jiwa, dan menjaga harta. Pembentukan hukum dalam Islam mengacu pada lima hal ini. Karena itulah, salah satu ikhtiar yang sangat baik telah ditunjukkan oleh Muhammadiyah dan NU dengan memberikan fatwa beribadah cukup di rumah saja. Kegiatan keagamaan yang sifatnya memancing kerumunan massa yang besar untuk sementara ditiadakan dulu, ini demi mencegah mudarat (kaidah ushul fiqh mengatakan bahwa mencegah keburukan itu didahulukan dibanding mencari kemanfaatan).

Jadi kalau menyelesaikan pandemi Covid-19, memang membutuhkan dua kaki pijakan yang kuat, yaitu agama dan sains. Integrasi keduanya sangat mungkin membawa kita pada masa depan yang cerah. Jangan sampai paradigma dikotomis yang memisahkan antara agama dan sains atau paradigma independen yang menegaskan bahwa agama dan sains berdiri sendiri-sendiri, menjadi paradigma yang kita pegang dalam memandang hubungan sains dan agama. Dengan contoh-contoh di atas sangat terlihat, bagaimana paradigma dialog dan integrasi memberikan solusi yang konkrit atas permasalahan kompleks saat ini seperti Covid-19. Walaupun angka penyebaran belum menunjukkan penurunan yang pasti. Namun, ikhtiar yang diberikan agama dan sains tidak boleh diabaikan begitu saja.

Di akhir, saya ingin mengutip pernyataan Albert Einstein yang mahsyur, “Sains tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa sains adalah buta”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: