“Memperjuangkan Lingkungan Hidup Kota Jogja yang Berkelanjutan”

    

Source : BaiqSukma

 

Kota Yogyakarta berkedudukan sebagai ibukota Propinsi DIY dan merupakan satu satunya daerah tingkat II yang berstatus Kota di samping 4 daerah tingkat II lainnya yang berstatus Kabupaten Kota Yogyakarta terletak ditengah-tengah Propinsi DIY, dengan batas-batas wilayah sebelah utara Kabupaten Sleman, sebelah timur Kabupaten Bantul & Sleman, sebelah selatan Kabupaten Bantul, Sebelah barat Kabupaten Bantul & Sleman.

Siapa yang tidak mengenal Kota Jogja, yang terkenal dengan kota destinasi wisata di Indonesia dengan kebudayaan dan keindahan alamnya. Jogja juga dikenal sebagai kota pelajar dengan puluhan universitas yang ada, keasrian dan kenyamanannya menjadikannya sebagai tempat tinggal idaman. Dipermukaanya memang semua terlihat baik-baik saja, tapi apakah benar Jogja berhati nyaman ?

 Dalam kesehariannya, kita pasti pernah mengeluhkan permasalahan lingkungan, hingga tanpa disadari kita juga pernah menjadi penyebab permasalahan itu. Perkembangan Jogja yang menjadi kota wisata, kota pelajar dan kota idaman akan terus diiringi dengan masalah lingkungan. Permasalahan lingkungan tersebut salah satunya yaitu adanya degradasi ekologi, karena mata pencaharian masyarakat yang lebih mementingkan ekonomi, dibuktikan dengan mata pencaharian masyarakat mengeruk pasir di sungai untuk dijual, membuat keramba untuk budidaya ikan yang dapat mengganggu arus sungai dan masyarakat yang membuang sampah ke sungai juga dapat menyebabkan menurunnya kualitas sungai. Orientasi ekonomi telah mengakar kuat dan merekonstruksi pola pikir masyarakat yang mulai meninggalkan sektor agraris dan telah membentuk pilihan-pilihan yang terbatas yang berujung pada terabaikannya ekologi. Hal tersebut perlu menjadi perhatian kita bersama.

Permasalahan tersebut juga dibuktikan dengan nilai IKA (Indeks Kualitas Air) nasional yang turun sebesar 1,70 dibandingkan tahun 2016, yaitu dari 60,34 menjadi 58,68. Nilai IKTL (Indeks Kualitas Tutupan Lahan) nasional juga turun sebesar 0,95 dibandingkan dengan tahun 2016, yaitu dari 57,83 menjadi 56,88. (sumber : IKLH 2017)

Dalam skala regional, DIY menduduki peringkat kedua terbawah yang dibuktikan dengan data IKLH (Indeks Kualitas Lingkungan Hidup) tahun 2017 yaitu sebesar 49,80.

 

(sumber : IKLH 2017)

Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) yaitu, tersirat dalam UU No. 32 Tahun 2009. Pada pasal 70, tentang peran masyarakat, tertulis bahwa:

Masyarakat mempunyai hak dan kesempatan berfikir yang sama dan seluas-luasnya agar aktif berperan dalam melindungi dan mengelola lingkungan hidup. Peran masyarakat dapat berupa: Pengawasan dalam sosial; memberikan saran, pendapat, usul, keberatan; pengaduan serta penyampaian informasi dan/atau laporan.

 

Menurut UU No 32 Tahun 2009, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang semua benda, daya, keadaan, makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

 

Persoalan ini menjadi masalah pemerintah dan masyarakat. Keberlangsungan lingkungan hidup tergantung manusia itu sendiri bagaimana melihat alam, manusia melihat alam hendaknya bukan sebagai sebuah objek melainkan sebagai sebuah subjek, tidak hanya pemahaman konseptual intelek tetapi melibatkan perasaan sebagai induk pemikiran kita (Intuitif, Ekspresif, Estetik).

 

Dalam surat Al-baqarah ayat 2 pengutaraan Allah atas rencana-Nya menciptakan manusia secara struktural mempunyai kewajiban sebagai khalifah fil ardl. Selain itu, terdapat juga terdapat tiga komponen dalam lingkungan hidup, yaitu :

Sumber Daya Hidup (SDH) – Lingkungan Hidup (LH)

Dalam surat Ad-Dukhon ayat 38-39 bahwasanya, Allah menciptakan tujuh langit dan bumi serta makhluk yang ada di antara sesuatu yang sia-sia dan tanpa tujuan. Tidaklah Kami menyimpan bukti kebenaran yang hanya dengannya semua di atur; Akan tetapi orang-orang pasti tahu kebenarannya. Langit dan bumi itu diciptakan , melainkan dengan haq atau benar sebagai bukti ke-Esaan dan kekuasaan Allah untuk kesempurnaan kehidupan manusia di dunia ini, tetapi kebanyakan mereka, kaum musyrik Mekah atau manusia tidak mengetahui.

SDM (Sumber Daya Manusia)

Allah menciptakan manusia untuk memakmurkan alam semesta dan kerusakan alam disebabkan oleh ulah manusia,  yang terdapat dalam surat Ar-Rum ayat 41.

SDA (Sumber Daya Alam)

Dalam hal ini Sumber Daya Alam (SDA) dikelola sesuai dengan kebutuhan manusia, yang didalmnya terdapat konsep al-ntifa’ atau mengambil manfaat dan menggunakan sebaik-baiknya, Al-itibar atau dapat mengambil pelajaran, memikirkannya serta mensyukuri dan Al-Islah atau dapat memelihara, dan menjaga alam.

 

PBB telah menetapkan isu SDGs (Sustainable Development Goals) tahun 2030 yang didalamnya termasuk kesetaraan gender, menjaga ekosistem daratan, penanganan perubahan iklim serta kesehatan yang baik dan kesejahteraan. Prinsip ‘no one left behind’ merupakan prinsip SDGs, artinya tidak boleh ada satupun kelompok masyarakat yang tertinggal. Dalam hal ini tidak hanya lelaki dan perempuan saja, melainkan inklusi sosial, dengan target yang lain seperti kelompok anak, lansia, disabilitas dan kelompok marginal lainnya.

Menjamin pembangunan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia berhubungan dengan cara pengelolaan sumber daya alam yang tersedia di Indonesia. Kerusakan lingkungan yang terjadi berkaitan dengan pola-pola pembangunan pengelolaan sumber daya alam (PSDA) di Indonesia yang selanjutnya direplikasikan dalam bentuk lain, yaitu kebijakan-kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang tersedia. Belum adanya kebijakan dan aturan yang adil (secara sosial dan lingkungan) yang dikeluarkan pemerintah menjdi sebab adanya penguasaan atas sumber daya alam (SDA) dari tangan rakyat, perempuan dan laki-laki yang berpindah kepada pihak lain, pelaku bisnis dan pemerintah. Keadaan seperti ini yang selanjutnya menggeser sebagian besar rakyat dari sumber-sumber kehidupan.

Tujuan pembangunan lingkungan berkelanjutan terutama di kota Jogja melalui pilar riset edukasi, advokasi fasilitasi, dan komunikasi kemitraan, yang dituangkan dalam konsep 3G (Greenfluencer, Greeneration dan Greenday) yaitu, Djazman Al-Kindi Sebagai Transformasi Gerakan Lingkungan Hidup sebagai target yang berkelanjutan untuk kota Yogyakarta berkemajuan.

 

Sumber Data :

Jogjakota.go.id

Menlhk.go.id

 

oleh :

Baiq Sukma Cholifia S

Ketua Umum Pimpinan Cabang IMM Djazman Al Kindi periode 2020-2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: