Covid-19 dan Pembunuhan Sosial

Pembunuhan sosial, satu istilah kian hadir di abad ke-19 yang dipakai oleh filsuf kelahiran Jerman bernama Friedrich Engels. Pembunuhan sosial ini terjadi ketika elite penguasa membuat kebijakan-kebijakan yang mengakibatkan terbunuhnya kelompok miskin dan masyarakat secara umum yang tak berdaya. Kembali Engels mendefenisikan bahwasanya pembunuhan sosial ini bahkan tak hanya berupa hilangnya nyawa, tapi juga terbunuh secara ekonomi, sosial, dan politik.

Dua abad sudah berlalu, relevansi perkataan Engels masih kembali dirasakan sampai dengan hari ini. Bahkan korelasinya menyentuh mesrah dengan kejadian bangsa Indonesia hari ini dengan hadirnya Covid-19. Kehadirannya sejak Maret 2020 lalu menjadi satu kesyukuran tersendiri bagi penulis atas penciptaan makhluk Tuhan yang bernama Covid-19. Mungkin bagi sebagian orang kehadiran Covid-19 menjadi penyebab kerisauan, kesakitan bahkan kematian. Bagi penulis, itu semua tidak lepas dari takdir dan ajal masing-masing mereka dari Allah SWT, bahkan orang-orang yang beriman kehadiran Covid-19 adalah fitnah untuk menguji keimanan kepadaNya. Akan tetapi, yang penulis sesalkan dan pertanyakan  adalah bagaimana cara kematiannya bukan soal kehadirannya. Argumentasi-argumentasi yang hadir terbaca sebagai pembelaan dan bahkan sebagai tempat bersembunyi atas ketidakberhasilan menangani Covid-19.

Siapakah kiranya yang bersembunyi dalam ketiak-ketiak argumentasi atas ketidakberhasilannya menangani Covid-19 yang dampaknya begitu banyak masyakarat Indonesia yang meninggal. Atas informasi yang disampaikan Engels diatas memberikan kita satu asumsi tentang siapak itu dan bahkan kawan-kawan pembaca yang budiman mampu memberikan pendapatnya atas siapakah orang yang bersembunyi di ketiak tersebut.

Penulis coba sedikit lari-lari kecil tentang pengetahuan penulis yang masih minim dan bisa dikatan tidak punya apa-apa ini dalam melihat permasalah. Kacamata yang penulis pakai dalam melihat pesalahan secara umum dan khususnya pembahasan penulis pada kesempatan kali ini adalah permalasahan Covid-19. Lagi-lagi penulis mengingatkan kalau yang penulis permasalahkan adalah penangan Covid-19 nya bukan kehadiran Covid-19 nya. Kenapa begitu banyak masyarakat Indonesia yang meninggal dengan adanya Covid-19 ini? Pertanyaan ini kemudian penulis pakai untuk menjadi acuan penulis untuk kembali mengingatkan diri sendiri dan kawan-kawan pembaca dimanapun berada. Hampir lupa kalau mau baca permasalah pakai kacamata. Mungkin kawan-kawan pembaca tahu dimana kacamata penulis, eh ternyata kacamata penulis diatas kepala (jangan lupa seduhkan kopi tuk membaca agar tidak sepaneng_dalam bahasa Jawa). Oke kita lanjutkan.

Kacamata yang penulis pakai adalah kacamata buatan Brasil buah tangan Paulo Freire. Dalam kacamata tersebut permasalahan yang hadir atas bentuk kesadaran yang ada dalam diri manusia. Menurut Paulo Freire kesadaran tersebut terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kesadaran magis, kesadaran naif dan kesadaran kritis.

Pertama, kesadaran magis. Dalam hal ini merupakan kesadaran yang melihat permasalahan dengan takdir, mitos dan kekuatan superior yang tidak terbukti secara empiris maupun ilmiah. Sehingga orang dengan kesadaran ini, menganggap kemiskinan dan penindasan, serta kematian karena Covid-19 sebagai takdir yang tidak terelakkan.

Kedua, kesadaran naif. Orang dengan kesadaran ini  memahami masalah yang mereka alami, namun mereka cenderung untuk menyepelekan dan tidak mengujinya secara cermat sehingga terlihat seperti acuh tak acuh atau kurang peduli. Orang dengan kesadaran naif ini menjadikan personal pribadi sebagai objek permasalahan. Artinya, kematian karena Covid-19 diakibatkan karena beberapa personal tertentu.

Ketiga, kesadaran kritis. Kesadaran ini  merupakan kesadaran tertinggi dalam kesadaran manusia dan menjadi bagian yang sering digaungkan oleh mahasiswa, bahkan dituntut untuk memiliki kesadaran ini. Manusia dalam kesadaran ini mampu berpikir dan bertindak sebagai subjek serta mampu memahami realitas keberadaannya secara menyeluruh dan mampu memahami pemahaman yang kurang baik dalam teks maupun realitas. Keesadaran jenis ini dilahirkan lewat usaha yang kreatif dari dalam diri sendiri. Kesadaran kritis ini menjadikan sistem sebagai objek permasalahan. Adapaun Covid-19 dilihat sebagai penyebab kematian dikarenakan sistem yang dibuat.

Dengan kacamata yang penulis pakai tersebut, membuat penulis mampu membaca kematian yang dikarenakan Covid-19 dan tokoh siapa yang yang bersembunyi di ketiak-ketiak argumentasi ketidakberhasilan penanganan Covid-19. Bahwa sistem yang dibangun dari bulan Maret 2020 sampai detik ini menunjukan pembuat sistem tidak serius dalam menangani Covid-19. Kiranya mungkin kawan-kawan pembaca yang budiman punya kacamata yang berbeda dalam melihat kejadian Bangsa hari ini dengan balutan mesra narasi, penulis menunggu sebagai referensi baru penulis yang minim informasi.

Sebagai tetesan terakhir, Bangsa Indonesia hari ini dengan adanya Covid-19 menunjukan adanaya praktek PEMBUNUHAN SOSIAL (sengaja penulis tebalkan sebagai bentuk penegasan).

Wallahu a’lam  Bissawab

 

Penulis: Sultan Cinta (pegiat mahasiswa kaleng-kaleng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: